Sabtu, 23 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • MA Tolak Kasasi Kasus Dugaan Korupsi Pemberian Kredit Bank Mandiri, Jaksa Agung Kaget

MA Tolak Kasasi Kasus Dugaan Korupsi Pemberian Kredit Bank Mandiri, Jaksa Agung Kaget

admin Sabtu, 05 Oktober 2019 10:18 WIB
SIB/Baren Siagian
Jaksa Agung, HM Prasetyo (kemeja Putih) didampingi Kapuspenkum Kejagung, DR Mukri.
Jakarta (SIB) -Jaksa Agung HM Prasetyo mengaku kaget mendengar putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum terkait kasus dugaan korupsi pemberian kredit bank Mandiri terhadap PT Tirta Amarta Bottling (TAB) yang diduga merugikan keuangan negara Rp1,8 triliun.

"Saya belum tahu, karena kita secara formal belum mendapat kabar itu. Saya juga kaget mendengar kalau itu benar, ditolak,"kata Jaksa Agung, HM Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat (4/10).

Menurut Prasetyo, Jaksa Penuntut Umum itu dalam mengusut kasus pemberian kredit ini sudah sesuai dengan fakta, termasuk perbuatannya itu, sudah terjadi.

"Bagaimana tidak pengajuan tambahan bahan kredit tetapi didukung oleh jaminan yang fiktif kemudian peruntukannya juga dari kreditnya sendiri tidak sesuai dengan apa yang diajukan,"beber Prasetyo.

Prasetyo menegaskan, dalam menganalisa perkara dugaan korupsi pemberian kredit Bank Mandiri kepada PT TAB, Jaksa Penuntut Umum telah menemukan sejumlah penyimpangan yang menimbulkan kerugian negara.

"Jadi banyak hal yang kita nilai penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada kasus itu merugikan keuangan negara hingga Rp 1,8 triliun,"ujarnya.

"Bayangkan itu. Jadi kalau itu ditolak, saya kaget juga. Mereka justru menyalahkan, pihak lain. kalau tidak salah mereka menyalahkan pihak akuntan publiknya,"kata Prasetyo.

Selain itu, lanjut mantan Jampidum diera Jaksa Agung Rahman Saleh itu, dirinya tetap menyakini kasus tersebut telah terjadi yang menyebabkan kerugian yang nilainya sangat besar.

"Kalau itu benar, kita akan pelajari alasan ditolaknya kasasi itu tapi kami jaksa tetap yakin bahwa kejahatan korupsi di lingkungan Bank Mandiri cabang Bandung oleh salah seorang pengusaha. Kita belum tahu persis seperti apa situasi persidangan di Mahkamah Agung, kami juga kaget. Perkara itu sudah terjadi itu menurut kami terbukti, tapi ditolak Mahkamah Agung,"pungkasnya.

Sebelumnya Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi yang diajukan jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Bandung dalam kasus pembobolan Bank Mandiri senilai Rp 1,8 triliun.

Konsekwensinya, 6 dari 7 terdakwa kasus pembobolan Bank Mandiri oleh PT TAB tetap divonis bebas sesuai putusan Pengadilan Negeri Bandung pada Januari 2019 lalu.

Keenam terdakwa itu yakni Direktur Utama PT TAB, Rony Tedy; Head Accounting PT TAB, Juventius; Commercial Banking Manager Bank Mandiri Bandung, Surya Baruna.

Lalu Senior Credit Risk Manager Bank Mandiri Bandung, Teguh Kartika Wibowo; Senior Relation Manager Bank Mandiri Bandung; Frans Edward Zandstra; dan Wholesale Credit Head Bank Mandiri Bandung, Poerwitono Poedji Wahjono.

Sementara tersangka Commercial Banking Head Bank Mandiri, Totok Suharto baru digelar sidang kasasinya pada 7 Oktober.

Seperti diketahui kasus ini bermula ketika PT TAB mengajukan fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) ke PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung Rp 880,6 miliar.

PT TAB juga melakukan perpanjangan, tambahan plafon Letter of Credit Rp 40 miliar, dan fasilitas Kredit Investasi (KI) Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Namun hasil audit menunjukkan PT TAB telah mengajukan kredit ke Bank Mandiri Cabang Bandung senilai Rp 1,47 triliun (Rp 1,8 triliun plus bunga). Padahal PT TAB hanya menjaminkan aset senilai Rp 73 miliar.

Kejaksaan pun mengendus ada yang tidak beres dalam penyaluran kredit tersebut. Kejaksaan menduga kucuran kredit digunakan Rony untuk keperluan pribadi.

Kejaksaan juga menilai kelima pejabat Bank Mandiri lalai dalam memberikan fasilitas kredit kepada PT TAB karena tak didasarkan pada syarat dan prosedur kredit.

Namun majelis hakim PN Bandung tak sependapat dengan jaksa.

Majelis hakim PN Bandung justru membebaskan ketujuh terdakwa dari tuntutan pidana penjara. Sebelumnya Rony dituntut 20 tahun penjara, Juventius 10 tahun penjara, Surya Beruna 8 tahun penjara, Teguh Kartika 8 tahun penjara, Poerwitono 8 tahun penjara dan Toto 8 tahun penjara, dan Frans Edward 6 tahun penjara.

Pertimbangan majelis hakim memvonis bebas para terdakwa, khususnya 5 pejabat Bank Mandiri, lantaran menilai mereka tidak melanggar prosedur dalam pemberian kredit untuk PT TAB (J02/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments