Jumat, 19 Jul 2019
  • Home
  • Headlines
  • Konsili Vatikan II Terobosan Baru Bangun Hubungan Eksklusif

Konsili Vatikan II Terobosan Baru Bangun Hubungan Eksklusif

Minggu, 04 Mei 2014 17:57 WIB
SIB/int
Dokumen Konsili Vatikan II
JAKARTA (SIB)- Rohaniawan Katolik, Franz Magnis Suseno mengatakan, perbedaan dalam agama tidak bisa dinafikan, dan harus dilihat sebagai kekayaan dalam negara yang memiliki karakteristik majemuk seperti Indonesia.

"Kita mengakui adanya perbedaan, yang kami haramkan bukan agama lain. Ini semua latar belakang masalah dan memang menumpuk sebuah pemikiran, dan bagaimana agama Katolik mengatakan semua diselamatkan tanpa dibaptis," ujar Franz Magnis, dalam bedah buku bertajuk "Iman dan Hati Nurani" di Gereja Katedral, Jakarta, Sabtu (3/4).

Dia mengemukakan, Konsili Vatikan II adalah langkah terobosan Paus mengeluarkan pernyataan di luar agama Katolik ada keselamatan yang akhirnya gereja lebih ekslusif.

"Bahwa manusia diselamatkan bukan karena dia Katolik, atau dibaptis, akan tetapi berdasarkan hati nurani dan perbuatan baik seseorang," pungkas Guru Besar Emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu.

Katanya, kebenaran mutkak adalah Tuhan atau Allah, dan manusia dalam menjalankan kehidupannya. Harus berpedoman pada hati nurani, dimana manusia harus adil dan membedakan mana yang baik dan buruk.

Menurutnya, dalam gereja Katolik tidak mengatakan di luar Yesus tidak selamat, tapi ada suatu kelonggaran agama lain juga diselamatkan.

Sementara, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, meski negara Indonesia mayoritas muslim tapi azas negara bukan berpandangan dengan agama, akan tetapi ideologi Pancasila adalah final yang tidak bisa ditawar-tawar.

“Perlu memahami realitas kita secara historis. Sebelum merdeka sudah banyak realitas Islam, karena sebelum berdiri negara Indonesia sudah ada kesultanan Islam sudah diberlakukan syariat Islam. Namun, pada saat perdebatan pembentukan negara, tokoh-tokoh kristiani tidak setuju penerapan piagam Jakarta. Dan tokoh Muhammadiyah itu yang mendukung penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu Ki Bagoes Hadikoesoemo," ungkap  Din Syamsuddin.

Lanjut Din, bila ada masalah di antara muslim dan non muslim selayaknya menanggapi dengan dingin tanpa harus mencuat dan memperkeruh suasana.
Din mengakui, kelompok Islam intoleran ada di Indonesia, namun kelompok tersebut bukanlah kelompok mainstream, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Lebih lanjut dia mengatakan, beberapa tokoh Islam juga ikut berjuang dalam merebut negara ini, seperti halnya Jenderal Sudirman seorang tokoh kepanduan Muhammadiyah yang akhirnya menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Terlebih masalah resolusi jihad yang dikumandangkan oleh Rais AM NU KH. Hasyim Asyari," tambahnya.

Orang Islam yang baik, menurutnya, adalah orang yang saling mengasihi sesama, semakin kuat keimanan orang tersebut maka akan semakin menghargai perbedaan tersebut.

"Ya kalau gak ada perbedaan, ya tidak usah ada Islam, Katolik, atau Kristen, kita buat saja agama koalisi," ujarnya berseloroh. (G2/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments