Sabtu, 07 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Kemenag Tulis Ulang Buku Pelajaran Agama untuk Tangkal Radikalisme

Kemenag Tulis Ulang Buku Pelajaran Agama untuk Tangkal Radikalisme

redaksi Selasa, 12 November 2019 10:43 WIB
Duta Islam
Ilustrasi

Jakarta (SIB)
Kementerian Agama (Kemenag) menulis ulang buku-buku pelajaran agama di Indonesia. Penulisan ulang ini untuk mencegah radikalisme.


"Kita melakukan penulisan ulang buku-buku agama di Indonesia. Sebagai salah satu instrumen, untuk menghalau potensi penetrasi radikalisme masuk di lembaga pendidikan kita," ujar Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Komaruddin Amin dalam diskusi di Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (11/11).


Komaruddin mengatakan buku tersebut ditulis ulang agar tidak terdapat konten yang disalah-pahami. Serta dianggap tidak sesuai dengan visi Indonesia dan visi beragama moderat.


"Di-review kembali potensi-potensi yang konten berpotensi disalahpahami, berpotensi ditafsirkan tidak sesuai visi Kemenag, visi Indonesia, misalnya dilakukan review. Atau materi yang berpotensi ditafsirkan tidak sesuai dengan visi beragama moderat atau bertentangan dengan konstitusi, itu yang dilakukan review," kata Komaruddin.


Komaruddin mengatakan ada 155 buku yang tengah ditulis ulang. Nantinya buku-buku ini akan ditujukan untuk jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.


"Ada 155 buku yang sedang kita siapkan dan insyaallah akhir tahun ini sudah bisa di-launching oleh Menteri Agama (Fachrul Razi). Ya semua jenjang, dari kelas 1 sampai kelas 12," ujarnya.


Komaruddin menyebutkan salah satu contoh kesalahan dalam buku pelajaran agama terkait khilafah. Menurutnya, pengertian 'khilafah' bisa disalahpahami oleh murid ataupun guru bila tidak dijelaskan dengan baik.


"Seperti tadi saya sampaikan bahwa khilafah itu kan bisa disalahpahami oleh anak-anak kita, oleh guru-guru kita, juga bisa salah paham kalau tidak dijelaskan secara baik," kata Komaruddin.


"Khilafah itu kan pernah ada dalam sejarah Islam sampai runtuhnya Turki Usmani kan, pada tahun 1923 ya. Sebelumnya, khilafah artinya pemerintahan global seluruh dunia, itu nggak mungkin sekarang negara bangsa itu seperti ini nggak mungkin dong masa pemerintahannya di Indonesia, meng-cover seluruh dunia, itu kan mustahil," sambungnya.


Selain di sekolah, pencegahan dilakukan di perguruan tinggi. Seluruh perguruan tinggi diminta membuat pusat kajian moderasi beragama.


"Kita minta pada seluruh perguruan tinggi agar membuat sebuah pusat kajian moderasi beragama, di situ nanti bisa menjadi tempat diskusi kemudian memproduksi kontranarasi terhadap radikalisme. Membuat kontranarasi terhadap isu-isu terorisme atau membuat diskursus keilmuan yang berorientasi pada moderasi beragama di samping bentuk kurikulum," tuturnya. (detikcom/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments