Selasa, 11 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • Kalah Perang Dengan Corona, Dokter Desak Presiden Filipina Perketat Lockdown

Kasus Covid-19 Tembus 17,7 Juta, AS Tertinggi

Kalah Perang Dengan Corona, Dokter Desak Presiden Filipina Perketat Lockdown

WHO: Dampak Corona akan Terasa Hingga Puluhan Tahun
Minggu, 02 Agustus 2020 09:38 WIB
Foto: Dok/Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Jakarta (SIB)
Puluhan kelompok dokter menyatakan Filipina telah kalah dalam pertarungan melawan virus Corona.
Mereka pun mendesak Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk kembali memperketat lockdown yang sempat dilonggarkan.

Tercatat, ada 80 asosiasi medis yang mewakili puluhan ribu dokter, menandatangani surat terbuka. Hal itu dilakukan saat Filipina mengumumkan ada 5.000 kasus baru, sehingga total ada 98.000 kasus positif.

"Petugas kesehatan bersatu dalam menyuarakan sinyal bahaya bagi bangsa ini, sistem perawatan kesehatan kita telah kewalahan," demikian pernyataan dalam surat itu.

Surat itu menyatakan tenaga medis mengakui kalah perang melawan Covid-19, dan memerlukan rencana aksi yang terkonsolidasi dan pasti.

Dalam surat itu juga disampaikan bahwa semakin banyak tenaga kesehatan yang jatuh sakit atau berhenti dari pekerjaan mereka. Sementara itu, beberapa rumah sakit penuh dan sekarang menolak untuk menerima pasien baru.

Sebelumnya, departemen kesehatan menyatakan ada 34 petugas kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 di Filipina. Diketahui, jumlah kematian akibat virus corona di Filipina tercatat sebanyak 2.039 per Sabtu (1/8).

Pemerintah sendiri menyalahkan soal tingkat kepatuhan yang rendah terhadap protokol kesehatan terkait meningkatnya penyebaran Covid-19.

Diketahui, Filipina pernah menerapkan lockdown dengan sangat ketat di bulan Maret lalu. Masyarakat tidak diizinkan keluar rumah, kecuali untuk membeli makan dan mencari perawatan kesehatan.

Tembus
Sementara itu, dilaporkan kasus Covid-19 di dunia mencapai 17,77 juta, dengan kasus yang masih aktif atau dalam perawatan mencapai 5,9 juta orang. Pada 31 Juli 2020, data pemetaan satelit Center for Systems Science and Engineering (CSSE) Johns Hopkins University mencatat, ada penambahan kasus corona di dunia mencapai 289.414 orang dalam satu hari, sementara kasus meninggal bertambah 6.430 orang.

Selain dari kasus aktif yang ada saat ini sebanyak 99% penderita Covid-19 atau 5,8 juta orang berada dalam kondisi ringan, dan 1% atau 65 ribu orang dalam kondisi kritis. Dari jumlah total kasus ini angka kematian akibat virus corona di dunia mencapai 683 ribu orang.

Amerika serikat masih menjadi epicentrum corona di dunia dengan penambahan kasus baru sebanyak 68.569 orang, sehingga total kasus 4,63 juta orang. Sementara penambahan kasus kematian bertambah 1.465 orang sehingga total kematian di negeri paman sam mencapai 155.285 orang.

Sementara di urutan kedua penambahan kasus corona terbanyak juga berasal dari benua Amerika, yakni Brazil. Dengan penambahan 59.271 orang sehingga total kasusnya mencapai 2,61 juta orang dan penambahan kasus meninggal 1.189 orang sehingga totalnya 91.377 orang.

Sebelumnya India melaporkan jumlah kasus positif Corona sebanyak 55.078 kasus. Jumlah ini merupakan rekor harian tertinggi pada Jumat (31/7) dengan kasus positif secara akumulasi nasional mencapai 1,64 juta kasus.Selain itu India juga mencatat penambahan kasus baru sebanyak 54.966 orang sehingga total kasusnya mencapai 1,63 juta orang. Meski India mencatatkan total kasus di urutan ketiga dan penambahan kasus kematian sebanyak 783 orang, namun jumlah kematian di India sebanyak 35.876 orang, masih di bawah Inggris sebanyak 45.999 dan Meksiko 45.361 orang.

Peningkatan kasus positif di India terus meningkat setelah pemerintah melonggarkan pembatasan sosial untuk memulihkan kembali perekonomian India. Baru-baru ini, India juga mengumumkan pembukaan kembali pusat kebugaran dan yoga serta menghilangkan pembatasan pergerakan orang dan barang.

"Infeksi melonjak sebesar 55.078 dalam 24 jam terakhir, sementara jumlah kematian meningkat 779 menjadi 35.747," tulis laporan Reuters, Jumat (31/7), mengacu data Kementerian Kesehatan setempat.

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan akan meningkatkan kapasitas uji spesimen di negara itu menjadi 1 juta uji virus korona per hari dalam jangka menengah, dari rekor pengujian terhadap 600.000 spesimen pada hari Jumat.

Puluhan Tahun
Sementara terpisah, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai, wabah virus Corona atau Covid-19 merupakan jenis bencana yang bakal berdampak lama pada masa mendatang.

"Pandemi ini merupakan krisis kesehatan sekali dalam seabad, yang dampaknya bakal terasa hingga puluhan tahun ke depan," kata Tedros saat pertemuan komite darurat WHO, menurut pernyataan yang dirilis oleh badan tersebut, Jumat (31/7).

Pandemi virus Corona telah menjangkiti lebih dari 17 juta orang dan menelan lebih dari 670.000 korban jiwa sejak kemunculannya pertama kali dilaporkan di Kota Wuhan, China.

Amerika Serikat, Brazil, Meksiko serta Inggris selama beberapa pekan terakhir sangat terguncang akibat penyakit Covid-19, saat pemerintahan mereka berjuang untuk mendapatkan cara penanganan yang efektif.

Kondisi ekonomi di berbagai wilayah babak belur akibat pembatasan Covid-19, yang diterapkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Apalagi, banyak wilayah yang mengkhawatirkan gelombang kedua kemunculan virus corona.

Sementara itu, sekitar lebih dari 150 perusahaan farmasi sedang membuat vaksin, meski penggunaan pertama vaksin tidak dapat diprediksikan hingga awal 2021, menurut WHO pekan lalu.

"Hasil awal dari riset serologi (antibodi) menunjukkan gambar yang konsisten: sebagian besar orang di dunia masih rentan terhadap virus ini, bahkan di daerah yang pernah menjadi wabah parah sekali pun," katan Tedros.

Tedros mengatakan, meski pengetahuan tentang virus baru meningkat, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan populasi masih rentan.

"Banyak negara yang yakin bahwa mereka yang telah melewati masa tersulit, kini sedang bergulat dengan wabah baru. Sejumlah negara yang tidak begitu berdampak, kini menyaksikan lonjakan kasus maupun kematian," jelasnya. (CNBCI/Bisnis)

T#gs CoronaKalah PerangPerketat LockdownPresiden FilipinaWHO
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments