Jumat, 18 Okt 2019

KTT G20 Dibuka Dalam Krisis "Serangan Trump"

* JK akan Bertemu Erdogan dan MBS * Nasib Rupiah Ada di Tangan Trump dan Xi Jinping
admin Sabtu, 01 Desember 2018 11:47 WIB
SIB/FacebookSriMulyani
Jakarta (SIB)- Pertemuan para pemimpin dunia selama dua hari di Argentina, KTT G20, resmi dibuka pada Jumat (30/11) dalam krisis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan mendukung penyetelan ulang perdagangan negara.

Sebelum pertemuan itu dimulai, Trump dengan slogan "America First" menyatakan bakal mendapatkan hasil dari penandatanganan US-Mexico-Canada Agreement (USMCA) yang dikatakan sebagai pengganti Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Kedua perjanjian antar negara itu punya banyak kemiripan, namun sebagian telah diganti. Konten yang berbeda cukup buat Trump menyatakan kemenangan atas para pekerja AS yang diklaim dicurangi NAFTA.

Walau begitu Trump mengakui USMCA bukanlah sesuatu yang bisa mengubah permainan. Penandatanganan USMCA bakal dilakukan oleh negosiator perdagangan senior dari masing-masing negara, bukan dari pemimpin yang hadir di G20.

Selain itu Trump juga jadi sorotan karena rencananya bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada G20. Sebelumnya Trump sudah memberlakukan sanksi pajak buat barang-barang China dan mengancam bakal lebih banyak pada awal tahun depan.

Setelah penandatanganan USMCA dan pembukaan G20 oleh Presiden Argentina Mauricio Macri, banyak orang dikatakan bakal berunjuk rasa di pusat Buenos Aires pada Jumat (30/11).

Sekarang ini, Argentina sedang bergulat dengan inflasi dan pengangguran yang meningkat. Hal ini disebabkan krisis ekonomi yang memaksa Argentina harus meminta dana talangan dari Dana Moneter Internasional (Internastional Monetary Fund).

"Banyak orang tidak memiliki rumah dan pekerjaan. Mereka tidak fokus pada orang yang membutuhkan," kata Ariel Villegas (47) saat protes di depan gedung Kongres Nasional Argentina Kamis lalu.

Pemerintah Argentina bersumpah tidak memberikan toleransi pada tindakan kekerasan mengingat negaranya sedang menjadi tuan rumah perhelatan pertemuan internasional terbesar. Lebih dari itu, pemerintah juga mengatakan sudah melakukan perjanjian dengan kelompok yang mengorganisir protes untuk menjaga ketenangan jalan-jalan di Buenos Aires.

MERKEL TERLAMBAT
Kanselir Jerman Angela Merkel adalah salah satu pemimpin yang dijadwalkan akan duduk bersama Trump Jumat. Namun dia akan melewati sesi pembukaan acara tersebut setelah pesawatnya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Cologne, Jerman, karena masalah teknis.

Absennya Merkel bisa menyulitkan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang berusaha membangun garda terdepan Eropa untuk melawan melawan Trump.

Tetapi pada Kamis malam, Macron menantang dengan mengatakan menolak pihak yang ingin menghadapi tantangan ekonomi dengan menjadi "agresif, isiolasionist, dan yang menutup perbatasan,". Ia memuji usaha pemberantasan kemiskinan yang disebabkan globalisasi beberapa dekade terakhir.

Pertemuan G20 akan dibarengi dengan susunan pertemuan diplomatik dan bilateral oleh beberapa pemimpin yang hadir termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Shinzo Abe, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

JK Akan Bertemu Erdogan
Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memimpin delegasi Indonesia dalam KTT G20 di Buenos Aires, Argentina. Di sela acara tersebut, JK dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS).

"Ya, saya akan melakukan pertemuan dengan Erdogan dengan MBS (Muhammad Bin Salman), tentu pembicaraan belum bisa diungkapkan sebelum berbicara," kata JK saat ditemui jelang menghadiri KTT G20 di restoran Rodizio, Buenos Aires, Argentina, Kamis siang waktu setempat (29/11).
Pertemuan itu tak dilakukan secara bersamaan. Belum diketahui JK akan ditemui siapa terlebih dahulu.

"Mereka yang meminta kami bertemu," kata JK.
JK hanya menyebut kemungkinan pertemuan itu akan membahas hubungan bilateral antara RI dengan negara tersebut. Dia belum menyebut apakah ada isu lain yang bakal dibicarakan.

"Jadi yang ditonjolkan, walaupun kita sudah bisa memperkirakan pembicaraan nanti. Tapi biasalah bagaimana mempererat hubungan dua negara, dan isu-isu bilateral terhadap dua belah pihak," kata JK.

Kemungkinan MBS dan Erdogan Bertemu
MBS akhirnya melakukan kunjungan resmi ke luar negeri setelah kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi terjadi di Turki. Sebelum menghadiri KTT G20, MBS berkunjung ke Uni Emirat Arab.

"Bisa jadi (ada pertemuan Erdogan dengan MBS-red)," sebut juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, merujuk pada kemungkinan pertemuan Erdogan dan MBS seperti dilansir AFP, Jumat (23/11).

Diketahui bahwa Erdogan sebelumnya terang-terangan menyatakan perintah pembunuhan Khashoggi datang dari 'level tertinggi' pada pemerintahan Saudi. Dalam pernyataannya, Erdogan tidak langsung menyalahkan MBS.

Namun sejumlah pihak, termasuk beberapa pejabat Turki dan anggota parlemen Amerika Serikat, meyakini MBS terlibat. Bocoran kesimpulan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang dilaporkan media-media AS mengindikasikan MBS sebagai pemberi perintah pembunuhan Khashoggi.

Otoritas Saudi berulang kali membantah tuduhan soal keterlibatan MBS itu.

Pada 24 Oktober lalu, Erdogan dan MBS diketahui berbicara via telepon untuk pertama kali membahas kasus Khashoggi. Percakapan telepon itu membahas upaya gabungan dalam menyingkap tabir pembunuhan Erdogan.

SRI MULYANI BERTEMU JK
Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Buenos Aires,  Argentina, Kamis (29/11). "Kami membahas persiapan Pertemuan G20 untuk menentukan posisi Indonesia sebagai antisipasi dalam menghadapi perang dagang," tulis Sri di akun Facebooknya, Jumat (30/11).

Sri menjelaskan, G20 adalah kelompok negara-negara dengan ekonomi tertinggi di dunia. Negara-negara dalam G20 ini menguasai lebih dari 85% perekonomian dunia.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin 20 negara atau G20 ini sudah dimulai sejak tahun 1999 dan Indonesia bergabung menjadi anggota G20 pada tahun 2008.

Nasib Rupiah
Di bagian lain nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan. Rupiah yang sempat menyentuh di kisaran Rp 15.200, kini berada di Rp 14.300 per dolar AS.

Namun, tren penguatan itu pun masih bersifat sementara, karena pasar masih menunggu pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di forum G20 Argentina.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian dunia.

"Artinya, apa misalnya, hari ini G20 mulai. Kalau Trump nggak ketemu Xi Jinping atau ketemu tapi tidak ada kesepakatan untuk meredakan perang dagang, ya pasti ada tekanan lagi," kata Darmin di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (30/11).

Darmin menilai, nilai tukar rupiah masih memiliki ruang penguatan. Oleh karenanya, pertemuan Trump dengan Xi Jinping di G20 akan memberikan gambaran terhadap pasar mengenai perang dagang.

"Artinya, Trump ketemu Xi Jinping walaupun nggak hebat bener tetapi ada perbedaan, kita masih punya ruang untuk penguatan rupiah," ujar dia.

Mantan Gubernur BI ini pun tidak tanggung-tanggung bahwa penguatan rupiah bisa ke level Rp 13.000 per dolar AS. Namun, sekali lagi Darmin menegaskan hal itu bisa terjadi jika perekonomian tenang tanpa dibayangi perang dagang. Apalagi, jika The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan di Desember 2018.

"Masih bisa tembus ke arah Rp 13.000,  kita masih punya ruang itu. Dengan catatan nggak ada kejadian aneh-aneh lagi," kata dia.
Kendati demikian, Darmin mengungkapkan bahwa pemerintah akan memanfaatkan momentum penguatan rupiah terhadap dolar AS sebagai ajang menarik investasi masuk Indonesia.

"Sehingga transaksi modal dan finansial bisa mengimbangi defisit transaksi berjalan, maka kita mestinya akan mengarah ke fundamentalnya kembali kursnya dan sebagainya. Itu sebabnya, sebenarnya, ya ke depan kita harus fokus mengecilkan CAD," ungkap dia. (Detikcom/CNNI/c)
Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments