Sabtu, 18 Jan 2020
  • Home
  • Headlines
  • KPK Cecar Komisaris Garuda soal Pengadaan Mesin Pesawat dari Rolls-Royce

KPK Cecar Komisaris Garuda soal Pengadaan Mesin Pesawat dari Rolls-Royce

Masalah Baru Garuda: Direksi Jabat Komisaris di 8 Anak dan Cucu Usaha
redaksi Jumat, 13 Desember 2019 09:34 WIB
Foto: Dok
KPK memeriksa Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Eddy Purwanto Poo terkait kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia. Eddy dicecar KPK soal proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia (Persero)
Jakarta (SIB)
KPK memeriksa Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Eddy Purwanto Poo terkait kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia. Eddy dicecar KPK soal proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia (Persero)

"Penyidik masih mendalami keterangan para saksi terkait proses pengadaan pesawat dan mesin pesawat serta perawatan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (12/12).

Eddy diperiksa KPK dalam kapasitas sebagai mantan EVP Finance PT Garuda Indonesia (Persero). Selain Eddy, KPK memeriksa sejumlah saksi dari unsur pejabat dan mantan pejabat PT Garuda Indonesia.
"Dua saksi tidak hadir atas nama Dessy Fadjriaty dan Elisa Lumbantoruan selaku mantan Direktur Layanan Strategi dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia (Persero)," sebutnya.

Berikut ini identitas saksi yang diperiksa KPK:
Mantan VP Aircraft Maintenance Management PT Garuda Indonesia (Persero), Batara Silaban, Senior Manager Engine Management PT Garuda Indonesia (Persero), Azwar Anas, VP Enterprise Risk Management and Subsidiaries PT Garuda Indonesia (Persero), Enny Kristiani, Mantan VP Aircraft Maintenance PT Garuda Indonesia (Persero), Dodi Yasendri.

Adapun kasus yang tengah diusut KPK ini merupakan pengembangan perkara yang menjerat mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Sedangkan Hadinoto dijerat KPK sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia periode 2007-2012.

Emirsyah dan Hadinoto diduga KPK mendapatkan suap dari perantara bernama Soetikno Soedarjo. Soetikno disebut sebagai beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd serta pemilik dari PT Mugi Rekso Abadi (MRA).

Emirsyah--saat diumumkan sebagai tersangka pada Januari 2017--diduga KPK menerima 1,2 juta euro dan USD 180 ribu serta dalam bentuk barang melalui Soetikno sebagai perantara dari Rolls-Royce PLC. Selain nominal yang diduga diterima Emirsyah, KPK mengidentifikasi adanya pusaran uang lain yang bahkan tidak hanya berada di dalam negeri serta tidak hanya pada Emirsyah seorang.

Selain itu, Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk barang dengan total nilai USD 2 juta. Barang-barang itu tersebar di Singapura dan Indonesia. KPK juga menjerat Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang.

Adapun Hadinoto diduga menerima suap juga melalui Soetikno senilai USD 2,3 juta dan 477 ribu euro yang dikirimkan ke rekening miliknya di Singapura. Berkas perkara Emirsyah dan Soetikno sudah lebih dulu dirampungkan KPK. Keduanya segera menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Masalah Baru Garuda
Sementara itu, Garuda Indonesia sempat dilanda persoalan penyelundupan motor Harley dan sepeda Brompton di pesawat baru Airbus A330-900 neo. Penyelundupan dilakukan oleh Ari Askhara saat menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia. Tak hanya itu, Ari Askhara dan 3 Direksi yang ikut penerbangan dari Delivery Center Airbus di Toulouse, Prancis menuju Bandara International Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang Indonesia tak mengantongi izin dinas dari Kementerian BUMN.

Akibatnya, Dewan Komisaris Garuda Indonesia memberhentikan 5 orang direksi, termasuk seorang direktur yang tidak ikut penerbangan di pesawat baru.

Belum hilang di pemberitaan, masalah baru muncul kembali. Dalam dokumen yang diterima kumparan, Kamis (12/12), 5 Direktur Garuda Indonesia yang diberhentikan tersebut juga menjabat komisaris di lebih dari 1 anak dan cucu usaha. Bahkan, 1 orang direksi menjabat komisaris di 8 anak, cucu, hingga cicit usaha.

Dalam dokumen dengan Nomor Garuda/Dekom-102/2019, Dewan Komisaris Garuda Indonesia pada tanggal 9 Desember 2019 memberhentikan jabatan Dewan Komisaris di anak, cucu, dan cicit usaha yang dijabat oleh 5 mantan direksi Perseroan.
"Pemberhentian pada jabatan Dewan Komisaris anak/cucu perusahaan tersebut sejak penetapan pemberhentian sementara waktu yang bersangkutan dari jabatan Direksi Garuda Indonesia," tulis dokumen tersebut.

Jabatan Direksi Garuda Indonesia sebagai Komisaris:

Ari Askhara, Mantan Direktur Utama
1.Komisaris Utama PT GMF AeroAsia (anak)
2.Komisaris Utama PT Citilink Indonesia (anak)
3.Komisaris Utama PT Aerofood Indonesia (cucu)
4.Komisaris Utama PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu)
5. Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu)
6. Komisaris Utama PT Garuda Tauberes Indonesia (cucu)

Bambang Adisurya Angkasa, Mantan Direktur Operasi
1.Komisaris PT Gapura Angkasa (anak)
2.Komisaris Utama PT Sabre Travel Network Indonesia (anak)
3.Komisaris PT Aero Globe Indonesia (cucu)
4.Komisaris PT Aerotrans Service Indonesia (cucu)
Mohammad Iqbal, Mantan Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha
1.Komisaris Utama PT Gapura Angkasa (anak)
2.Komisaris PT Aerojasa Perkasa (cucu)
3.Komisaris Aerojasa Cargo (cucu)
4.Komisaris PT Citra Lintas Angkasa (cicit)
5.Komisaris Garuda Tauberes Indonesia (cucu)
Iwan Joeniarto, Mantan Direktur Teknik dan Layanan
1.Komisaris Utama PT Aerosystem Indonesia (anak)
2.Komisaris PT Aero Wisata (anak)
3.Komisaris PT Aerofood Indonesia (cucu)
4.Komisaris PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu)
5.Komisaris Utama PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (cucu)
6. Komisaris PT Garuda Indonesia Terapan Cakrawala Indonesia (cucu)

Heri Akhyar, Mantan Direktur Human Capital
1.Komisaris PT Aerofood Indonesia (cucu)
2.Komisaris Utama PT Aeroglobe Indonesia (cucu)
3.Komisaris Utama GIH Indonesia (cucu)
4.Komisaris PT GOH Korea (cucu)
5.Commissioner of Strategic Function PT GOH Jepang (cucu)
6.Komisaris PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu)
7.Komisaris PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (cucu)
8.Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Terapan Cakrawala Indonesia (cucu)

Dikonfirmasi terpisah terkait seorang direksi bisa menjabat di lebih dari 1 komisaris anak dan cucu perusahaan, Juru Bicara Kementerian BUMN Arya Sinulingga dan Komisaris Garuda Indonesia belum merespons pertanyaan. (kumparan/detikcom/d)


Jajaran direksi Garuda Indonesia (sebelum diberhentikan Dewan Komisaris).
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments