Rabu, 13 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jokowi Usul Two State Solution untuk Perdamaian Palestina-Israel

Jokowi Usul Two State Solution untuk Perdamaian Palestina-Israel

* Minta ke Wapres AS, Produk RI Tidak Dikenai Pajak
Jumat, 16 November 2018 11:42 WIB
SIB/Ant/Bayu Prasetyo
SIMAK: Presiden Joko Widodo (kanan) menyimak paparan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence pada KTT Ke-6 ASEAN di Suntec Convention Centre, Singapura, Kamis (15/11).
Singapura  (SIB) -Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus mendorong upaya perdamaian antara Palestina dan Israel. Untuk itu, Jokowi mengusulkan two state solution atau solusi dua negara.

"Untuk mencapai perdamaian yang berkeadilan dan abadi hanya ada satu jalan, yaitu perdamaian berdasarkan two state solution," ujar Jokowi pada KTT ke-6 ASEAN-AS di Suntec Convention Centre, Singapura, dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (15/11).

Penyelesaian konflik dipandang penting untuk menciptakan stabilitas dunia. Oleh sebab itu, Jokowi mendorong seluruh pihak memberikan perhatian ekstra pada isu perdamaian Palestina dengan Israel.

Ajak AS Perkuat Kerja Sama 
Tidak hanya soal isu perdamaian Palestina-Israel. Dalam kesempatan yang sama, Jokowi menilai hubungan kerja sama antara ASEAN dan AS juga sangat produktif bagi kedua pihak.

Jokowi menerangkan ekspor barang dan jasa AS ke ASEAN meningkat 81 persen. Begitu juga ekonomi ASEAN yang diprediksi tumbuh 5 persen setiap tahun. Oleh sebab itu, Jokowi mengajak AS memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara ASEAN.

"Untuk itu, marilah kita perkuat sistem perdagangan yang telah kita bangun bersama yang bebas, adil, dan inklusif," ujar Jokowi. 

Tak Dikenai Pajak
Sementara itu Indonesia meminta Amerika Serikat (AS) untuk terus memberikan fasilitas generalized system of preferences (GSP) bagi produk-produk Indonesia.

Presiden Joko Widodo menyampaikan langsung hal tersebut saat menghadiri pertemuan bilateral dengan Wakil Presiden Amerika Serikat, Michael Richard Pence, di sela-sela KTT ke-33 ASEAN, di Singapura, Rabu (14/11).

"Presiden mengharapkan agar Amerika masih bisa terus memberikan fasilitas GSP bagi Indonesia. Karena GSP ini sangat bermanfaat bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga untuk Amerika," ujar Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, seusai pertemuan bilateral.

GSP adalah sebuah kebijakan pemerintah AS dalam memberikan peluang kepada negara-negara miskin membangun perekonomian di dalam negeri mereka melalui perdagangan.

Melalui GSP, maka produk dari negara-negara ekonomi lemah itu akan diberikan fasilitas bebas pajak dan cukai untuk dijual di Amerika.

Menlu Retno menambahkan, pendekatan Indonesia melobi AS agar tetap memberikan fasilitas GSP bagi produk Indonesia adalah pendekatan yang tidak akan menimbulkan resistensi bagi AS sendiri.

"Presiden menekankan, kalau kita memakai pendekatan yang serius ya, maka mungkin malah akan justru menjadikan situasi yang lebih buruk," ujar Retno.

Wapres Pence sendiri, menurut Retno, merespons baik permintaan Presiden Jokowi tersebut. Meski tidak spesifik merespons mengenai GSP, namun Wapres Pence menyatakan komitmennya dalam hal perdagangan Indonesia-Amerika yang harus saling melengkapi dan menguntungkan.

"Tidak secara spesifik merespons GSP. Tapi saya kira pesan bahwa sebuah hubungan perdagangan yang saling menguntungkan itu sangat di-share oleh Amerika.

Suasana pertemuan tadi sangat baik dan beberapa kali Wapres Pence menekankan bahwa Indonesia adalah strategic partner and friend of USA," lanjut Menlu Retno.

EMPAT HAL
Presiden Jokowi menyampaikan empat hal kepada Wapres Pence. Pertama, mengenai pentingnya membangun masyarakat yang majemuk.

Kedua, Presiden menyampaikan harapannya soal peningkatan ekonomi. "Presiden Jokowi menekankan bahwa kita itu sebenarnya di bidang perdagangan, kita bisa saling melengkapi. Oleh karena itu, hubungan perdagangan kedua negara diyakini Presiden akan saling menguntungkan," ujar Menlu Retno.

Ketiga, Presiden Jokowi menekankan AS mengenai pentingnya konsep Indo-Pasifik dalam rangka menjaga perdamaian, keamanan, dan peningkatan kesejahteraan kawasan.

Terakhir, Presiden Jokowi meminta Negeri Paman Sam mendukung program AHA Center yang mengemban misi kemanusiaan dalam peristiwa krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar.

"Presiden menyampaikan, kita perlu dukungan Amerika untuk AHA Center sehingga AHA Center ini bisa melakukan tugas yang diberikan oleh Leaders ASEAN untuk lebih berperan di Rakhine State," lanjut Menlu Retno. (detikcom/KJ/c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments