Selasa, 14 Jul 2020
  • Home
  • Headlines
  • Jokowi Tolak Jaksa Agung dari Parpol, Pilih Kombinasi Internal-Eksternal

Jokowi Tolak Jaksa Agung dari Parpol, Pilih Kombinasi Internal-Eksternal

Selasa, 04 November 2014 09:33 WIB
Jakarta (SIB)- Presiden Joko Widodo menolak jika Jaksa Agung nantinya berasal dari partai politik. Jokowi berkeinginan pimpinan Kejaksaan Agung kombinasi dari internal dan eksternal.

Hal ini disampaikan Seskab Andi Widjajanto di halaman Setneg, Jakarta Pusat, Senin (3/11) usai mengikuti sidang paripurna di Kantor Presiden.

Jokowi saat ini masih terus memperhatikan saran-saran dari menterinya dan para penggiat hukum mengenai nama jaksa agung. Menurut Andi, Jokowi pun sepertinya akan menunjuk pimpinan lembaga itu dari dalam dan eksternal.

"Tampaknya Jokowi nanti berusaha mengkombinasikan internal external antara jaksa agung dan wakil jaksa agung, jadi kombinasi itu akan dilakukan oleh presiden," jelas Andi.

Kalangan eksternal akan diambil dari para profesional hukum yang sudah teruji kredibilitasnya. Namun Jokowi belum menentukan apakah jaksa agung itu dari kalangan eksternal atau internal sendiri.

Keinginan itu ternyata sudah lama disimpan oleh Jokowi. Mantan Gubernur DKI itu sudah menentukan pos mana saja yang terlarang diduduki oleh seorang politisi.

"Itu keinginan awal dari Pak Jokowi sejak masih jadi presiden terpilih hingga di kantor transisi. Jokowi sudah menentukan posisi apa yang sebaiknya tidak diduduki oleh parpol dan posisi mana yang sebaiknya diduduki parpol," lanjut Andi.

Meski begitu hingga saat ini parpol pendukung Jokowi masih terus menyetor nama calon jaksa agung. Namun sekali lagi, Jokowi akan lebih berat dengan kombinasi internal eksternal.

KPK dan PPATK Dipertimbangkan

Diharapkan sosok Jaksa Agung bisa memenuhi harapan masyarakat. Mencari sosok Jaksa Agung mumpuni ini, mungkin Jokowi akan melibatkan KPK dan PPATK.

"Semua semua akan dipertimbangkan," kata Menko Polhukam Tedjo Edhie di Kompleks Istana, Jakarta.

Menurut Tedjo, Presiden Jokowi sudah mengantungi beberapa nama. Dia juga mengamini nama-nama itu yang sudah beredar di masyarakat antara lain M Yusuf Kepala PPATK yang juga seorang jaksa, Widyo Purnomo mantan Jampidsus, Mas Achmad Santosa, dan juga politisi NasDem Prasetyo.

"Bisa anu karena ada beberapa masukan nambahin, saya belum tahu berapa persisnya. Ada yang menambahi, dicoret, jadi berubah-ubah," jelas Tedjo.

Namun dia menepis kalau lamanya Jokowi memilih calon Jaksa Agung ini karena ada sodoran nama dari NasDem yakni Prasetyo.

"Nggak, nggak. Tidak ada deadline," tutup dia. (det)

T#gs Jokowi
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments