Kamis, 19 Sep 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jokowi Tampung 1.000 Sarjana Papua Bekerja di BUMN

Terima Tokoh Papua di Istana

Jokowi Tampung 1.000 Sarjana Papua Bekerja di BUMN

* Memenuhi Permintaan, Tahun Depan Istana Presiden Mulai Dibangun di Papua
admin Rabu, 11 September 2019 09:39 WIB
Ant/Akbar Nugroho Gumay
PRESIDEN TERIMA TOKOH PAPUA: Presiden Joko Widodo (kanan) menerima map berisi saran dari perwakilan tokoh Papua Abisai Rollo (kiri) dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/9). Pertemuan tersebut membahas isu-isu terkini di Papua.
Jakarta (SIB) -Presiden Jokowi menegaskan masalah pengembangan sumber daya manusia di Papua menjadi perhatian pemerintah. Jokowi menjanjikan 1.000 sarjana dari Papua akan diterima bekerja di BUMN maupun perusahaan swasta yang besar.

Jokowi awalnya menceritakan pengalamannya bertemu mahasiswa Papua di berbagai negara. Dia mengatakan mahasiswa-mahasiswa Papua sangat pintar.

"Saya di California ketemu 12 mahasiswa Papua yang menemui saya, bukan pintar-pintar tapi sangat pintar-pintar. Di New Zealand ketemu juga lebih dari 10 mahasiswa Papua, pinter-pinter semua, (di) Australia juga," kata Jokowi dalam pertemuan dengan tokoh Papua di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (10/9).

Artinya, kata Jokowi, mahasiswa yang ada di luar negeri, baik yang menempuh studi S1, S2, maupun S3, sangat banyak. Namun Indonesia memerlukan lebih banyak lagi.

Jokowi juga menceritakan kekhawatiran mahasiswa di luar negeri setelah menyelesaikan studi. Salah satunya akan kerja apa kalau kembali ke Papua.

"Banyak menanyakan, 'Pak, saya kalau udah lulus saya mau ke mana?', ya kembali ke tanah Papua, 'terus saya kerja apa?'. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang tidak hanya anak-anak muda di Papua, tapi juga anak muda di Provinsi lain. Ini jadi pekerjaan besar kita," ujarnya.

Karena itu, Jokowi akan memaksa BUMN dan perusahaan swasta besar untuk menerima putra Papua yang baru lulus studi. Jokowi menjanjikan 1.000 mahasiswa Papua akan mendapat pekerjaan yang layak.

"Tapi saya siang hari ini saya buka untuk BUMN dan perusahaan swasta besar yang akan saya paksa, karena kalau lewat prosedur udah kelamaan, jadi kewenangan saya, saya gunakan, agar bisa nerima yang baru lulus mahasiswa dari tanah Papua, sementara saya siang hari ini saya menyampaikan 1.000 dulu lah, nanti akan saya atur lagi masalah PNS tadi supaya juga ada penempatan di provinsi-provinsi yang lain. Termasuk kita atur di eselon 1, 2, 3 akan kita atur," tuturnya.

Mulai Dibangun
Sementara itu Presiden Jokowi memenuhi permintaan tokoh-tokoh Papua soal pembangunan Istana Presiden di tanah Papua. Jokowi menyatakan Istana Presiden di tanah Papua mulai dibangun tahun depan.

Ada 10 poin aspirasi tokoh-tokoh Papua yang disampaikan di depan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/9). Satu persatu aspirasi dari tokoh-tokoh Papua itu dikabulkan oleh Jokowi.

Tiba di poin ke-10, yaitu permintaan pembangunan Istana di Papua, Presiden Jokowi tak langsung menjawab. Jokowi terlebih dulu berbisih-bisik dengan Mensesneg Pratikno dan juga Menko Polhukam Wiranto.

Setelah berbisik-bisik sekitar 30 detik, Presiden kemudian mengabulkan permintaan itu.

"Mulai tahun depan Istananya mulai dibangun," ujar Jokowi yang disambut tepuk tangan 61 tokoh Papua yang hadir.
Poin-poin lain yang disepakati Jokowi di antaranya adalah penyebaran PNS Papua ke berbagai daerah di Indonesia dan pembentukan badan nasional urusan Papua.

Segera Disertifikatkan
Sang pemilik lahan, Abisai Rollo, segera mengurus sertifikasi lahan untuk Istana.

"Karena tadi beliau menjawab tahun depan dibangun, maka kita akan memulai dengan konsesi, surat-surat, sampai sertifikat," ujar Abisai di Kantor Presiden.

Lahan tersebut berstatus tanah adat. Adapun Abisai menyumbang 10 hektare lahannya untuk dibangun Istana Kepresidenan di Papua.

"Apa yang saya berikan pada negara Republik Indonesia, 10 hektare, 100 ribu meter persegi. Saya beri cuma-cuma. Itu tanah milik saya sendiri yang saya berikan pada negara untuk membangun Istana Presiden Republik Indonesia," kata eks Timses Jokowi di Jayapura ini.

Dengan dibangunnya Istana, Abisai, yang juga merupakan Ketua DPRD Jayapura, berharap Jokowi juga bisa berkantor di Jayapura.
"Sehingga perjalanan Pak Presiden ke Papua yang selalu dijudulkan berkunjung ke Papua, kita ubah dengan berkantor di Papua. Pak Presiden berkantor sehari saja di Papua, kita orang Papua sudah membanggakan bapak," sebut Abisai.
10 Poin Aspirasi

Abisai lalu menyampaikan sepuluh poin permintaan untuk masyarakat Papua-Papua Barat. Poin-poin ini berisi tentang permintaan pemekaran daerah di Papua-Papua Barat, permintaan revisi UU Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua, hingga permintaan membangun Istana Presiden di Papua.

Berikut 10 poin permintaan yang disampaikan Abisai mewakili masyarakat Papua-Papua Barat:
1. Kita minta kepada yang terhormat Bapak Presiden RI, untuk adanya pemekaran provinsi 5 wilayah adat di Provinsi Papua-Papua Barat
2. Pembentukan Badan Nasional Urusan Tanah Papua
3. Penempatan pejabat-pejabat eselon 1 dan 2 di kementerian dan LPMK
4. Pembangunan Asrama Nusantara di seluruh kota studi dan menjamin keamanan mahasiswa Papua
5. Usulan revisi Undang-Undang Otsus dalam Prolegnas 2020
6. Menerbitkan inpres untuk pengangkatan ASN honorer di tanah Papua
7. Percepatan Palapa Ring Timur Papua
8. (Tidak dibacakan)
9. Bapak Presiden mengesahkan lembaga adat perempuan dan anak Papua
10. Membangun Istana Presiden RI di ibu kota provinsi Papua, di Kota Jayapura.

Persaingan Penduduk
Di bagian lain masyarakat Papua resah soal komposisi penduduk di tanahnya yang berpotensi menyingkirkan mereka dari persaingan. Ada pula kegelisahan soal kelestarian lingkungan Bumi Cenderawasih.

"Perubahan profil demografi juga menimbulkan kecemasan akan persaingan di berbagai sektor yang tumbuh di Papua," tutur Abisai.
Demografi, atau susunan penduduk dilihat dari sudut sosial politik, di Papua mengalami perubahan. Dia berharap orang asli papua (OAP) tidak tersingkir karena perubahan ini.

"Kami mohon kepada Bapak Presiden, agar perubahan demografi tidak menjadi batu sandungan namun memampukan upaya berbagai pihak untuk memahami kebutuhan kami, untuk mensejahterakan orang asli papua," kata Abisai.

Perubahan demografi dilihat Abisai juga berdampak ke perubahan lingkungan. Tak hanya penduduk dan lingkungan yang berubah, bahkan kearifan mengenai alam (kosmologi) Papua juga dikhawatirkannya bakal berubah.

"Kami paham betul persaingan baik untuk meningkatkan produktifitas, namun juga bisa menghilangkan kesempatan akses bagi yang sendang merintis usahanya, serta menghilangkan kearifan lokal atau adat yang keluarga kami hormati selama berabad-abad, berhubungan dengan kosmologi dan kelestarian lingkungan sekitar," tutur Abisai yang merupakan Ketua DPRD Kota Jayapura dan Ondoafi (Kepala Suku) Skouw.

Jembatan Holtekamp
Presiden Joko Widodo berencana kembali mendatangi Papua dalam waktu dekat. Kedatangan Jokowi ke Bumi Cenderawasih sekaligus untuk meresmikan Jembatan Holtekamp di Jayapura yang sempat terhambat karena masalah sengketa lahan.

"Saya masih mengatur waktu untuk ke Papua, saya masih berusaha di bulan ini, tapi kalau meleset mungkin Oktober lah," ujar Jokowi.

Dalam pertemuan dengan para tokoh Papua, Jokowi mengabulkan satu persatu aspirasi mereka. Ia juga mengungkap kedatangannya ke Papua sekaligus ingin meresmikan Jembatan Holtekamp.

"Saya ingin meresmikan jembatan Holtekamp secepatnya," katanya.

Tak hanya itu, Jokowi juga ingin mengecek proyek-proyek infrastruktur di Tanah Papua.

"Dan mengecek jalan-jalan trans Papua yang sudah dibangun Kemen-PUPR yang sudah diresmikan," terang Jokowi.
Seperti diketahui, peresmian Jembatan Holtekamp terkendala masalah sengketa lahan. Padahal pengerjaan jembatan itu sudah selesai. (detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments