Sabtu, 14 Des 2019

Jokowi Redam Pendukungnya Benci Prabowo

redaksi Minggu, 01 Desember 2019 09:35 WIB
totabuan.news
Ilustrasi : Jokowi & Prabowo
Jakarta (SIB)
Presiden Jokowi meredam seorang ibu yang mengaku benci dengan Menhan Prabowo Subianto. Terkait hal itu, PDIP pun mengajak pendukung Jokowi untuk move on dari Pilpres 2019.

"Ibu-ibu para pendukung harus seperti Pak Jokowi, move on dan ayo maju. Ikuti langkah Pak Jokowi," kata politisi PDIP Eva Kusuma Sundari ketika dihubungi, Jumat (29/11) malam.

Langkah Jokowi yang dimaksud Eva adalah saling memaafkan dan berjiwa besar. Bahkan, tambah Eva, Jokowi mendorong terjadinya rekonsiliasi usai pesta demokrasi.

"Pak Jokowi saja memaafkan, berjiwa besar dan memotori rekonsiliasi, padahal beliau saingan Pak Prabowo yang jadi obyek serangan selama pilpres. Maka pendukungnya harus mengikuti panutan mereka," ujar Eva.

Menurut Eva, pemerintah daerah dan kader-kader partai di daerah harus aktif menyampaikan pendidikan politik terkait yang terjadi di lingkup pemerintah pusat serta program-program pemerintah pusat, sehingga masyarakat di daerah mengerti situasi politik terkini.
"Pemerintah daerah dan partai-partai di daerah harus aktif melakukan pendidikan politik soal pemerintah pusat dan program-programnya," tutur Eva.

Dia menuturkan selain pendidikan politik, tokoh agama juga dapat dijadikan figur pemersatu pendukung Jokowi dan Prabowo pascapilpres. "Bisa juga tokoh-tokoh agama yang melakukan fungsi keseharian dalam membenahi akhlak, menyelipkannya dalam pengajian-pengajian," imbuh Eva.

Terakhir, Eva menyerukan ajakan untuk membangun bangsa serta karakter bangsa Indonesia yaitu persatuan. Eva lalu menuturkan sedari awal PDIP telah mengajak pendukungnya untuk move on dari Pilpres 2019.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang peserta program Mekaar binaan Permodalan Nasional Madani (PNM) bernama Enu berceletuk ia rindu akan kehadiran Jokowi. Ia juga menyinggung nama Prabowo yang menjadi rival Jokowi di Pilpres 2019.

"Saya benar-benar kangen sama Pak Jokowi. Ibu-ibu semua kangen ya sama Pak Jokowi, iya, maunya dekat aja. Pak Jokowi gitu, saya benci Pak terus terang sama Pak Prabowo," ujar Enu di Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (29/11).

Jokowi pun langsung mengingatkan Enu bahwa pilpres sudah usai.

Nasdem: Pilpres Telah Usai
Terpisah, Partai Nasional Demokrat (NasDem) mengingatkan Pilpres 2019 telah usai dan mengajak masyarakat saling bekerja sama membangun bangsa. NasDem mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun Menhan Prabowo Subianto adalah dua tokoh negara yang sama-sama mengedepankan kebersamaan dan keutuhan bangsa.

"Alhamdulilah presiden kita, Bapak Jokowi, adalah seorang negarawan yang lebih mementingkan kebersamaan dalam menjaga Indonesia daripada sekadar berpikir tentang diri sendiri dan kelompok," kata Ketua DPP Partai NasDem Irma Chaniago.
"Pak Jokowi tahu betul bahwa Pak Prabowo adalah seorang tokoh bangsa yang juga tidak mungkin mau mengorbankan keutuhan NKRI," lanjut Irma.

Hal itu disampaikan Irma menanggapi sikap seorang ibu di Subang, Jawa Barat, yang mengatakan kepada Jokowi bahwa dirinya membenci Prabowo.

Irma kemudian menyebut Jokowi sebagai sosok tak memiliki dendam dan pemaaf. Sikap Jokowi tersebut, imbuh Irma, demi menjaga persatuan.

"Masyarakat yang membenci Jokowi seharusnya berkaca dari sikap beliau yang tidak mendendam dan lebih memilih memaafkan lawan-lawannya demi persatuan dan kesatuan bangsa. Pilpres telah usai, mari kita bekerja sama dan bekerja bersama-sama membangun Indonesia lebih aman, sejahtera dan adil makmur," tutur Irma.

Golkar: Capres 2019 Sudah Bersatu
Sementara itu, Partai Golkar berpesan elite-elite politik mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyejukkan situasi negara. Pesan itu disampaikan terkait adanya seorang ibu di Subang, Jawa Barat, yang mengaku benci dengan capres 2019 yang kini menjadi Menhan, Prabowo Subianto.

"Agar semua elite-elite politik harus memberikan komentar dan dorong yang sejuk. Elite sampai kader-kader di daerah, juga (di daerah) yang terbatas akses informasinya agar (masyarakat) tahu kalau para capres (di Pilpres 2019) sudah bersatu sekarang," kata Wasekjen Partai Golkar Maman Abdurahman.

Maman mengajak pendukung Jokowi dan Prabowo yang terbelah saat pilpres kemarin, untuk berfikir dan melakukan hal yang lebih produktif ke depan. Namun diakui Maman, tensi perang terkait dukungan politik pada Pilpres 2019 di dunia siber sulit diturunkan.

"Saya pikir sudah saatnya kita lebih memikirkan dan melakukan hal-hal yang jauh lebih produktif ke depannya, daripada masih terjebak kepada benci-membenci. Cepat atau lambat akan berganti isu tapi untuk menurunkan tensi perang media sepertinya sulit, karena di era media sosial yang sangat luar biasa sekali tentunya sulit membendung," tutur Maman.

Salah satu cara untuk menurunkan tensi perang antarpendukung di media, menurut Maman, ialah dengan menertibkan akun-akun media sosial yang mengunggah konten-konten provokasi. "Penertiban, bagi akun-akun yang profokatif tentunya perlu ditindak tegas," tandas Maman.

PAN: Mereka Sudah Saling Suka
Sedangkan Partai Amanat Nasional (PAN) mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menhan Prabowo Subianto sudah bersatu. Keduanya juga disebut sudah saling menyukai satu sama lain.

"Mereka yang berkompetisi pada pemilu lalu, kini sudah bersatu. Setidaknya, di antara mereka sekarang sudah saling suka," kata Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay.

Saleh meminta masyarakat kembali bersatu dan menyadari 'perang' Pilpres 2019 telah berakhir. Daripada menyimpan benci, Saleh mengimbau warga yang tak suka dengan politisi atau pejabat tertentu untuk mengawasi dan mengkritisi kinerja pejabat terebut.

"Masyarakat diminta untuk kembali bersatu dan bergerak maju untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Persoalan pilpres dan pilihan politik yang mengiringinya telah usai. Kalau ada yang dirasa tidak puas, silahkan disimpan saja," ujar Saleh.

"Kalau ada rasa tidak suka pada seorang politisi, silahkan diawasi dan dikritisi kinerjanya," sambung dia.

Hal tersebut disampaikan Saleh terkait seorang ibu bernama Enu di Subang, Jawa Barat, yang mengaku membenci Prabowo. Pengakuan itu dilontarkannya kepada Presiden Jokowi yang sedang melakukan kunjungan kerja. Saleh menilai sikap Enu tak revelan untuk saat ini.

"Kalau sekarang, ya tidak begitu relevan lagi," ucap Saleh.

PKS: Itu Suara Nurani
PKS juga menanggapi suara seorang ibu di Subang, Jawa Barat, yang mengaku benci dengan capres 2019 yang kini menjadi Menhan, Prabowo Subianto. PKS menilai suara tersebut berarti belum ada rekonsiliasi antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo.

"Itu suara nurani, menunjukkan bahwa buat sebagian emak-emak militan di grass root bergabungnya Pak Prabowo (dengan Jokowi) belum bermakna rekonsiliasi," kata Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera.

Mardani menilai hal tersebut wajar karena Prabowo memang mampu membuat bounding dengan pendukungnya. Karena itu, menurutnya kejadian di subang merupakan tantangan untuk Jokowi dan Prabowo untuk bersama wujudkan janji janji politik.

"Justru ini tantangan untuk Pak Jokowi dan Pak Prabowo untuk segera mewujudkan janji-janjinya," ucap Mardani.

Selain itu, Mardani juga berpesan agar elite-elite politik mulai berpolitik dengan etika dan logika demi persatuan dan pendidikan untuk masyarakat.

"Mari kita bawa politik etika dan logika, agar masyarakat dapat belajar selalu," ujarnya. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments