Selasa, 22 Sep 2020

Jokowi Kaget Dengar Penghasilan Guru Masih Rendah

admin Sabtu, 12 Januari 2019 11:42 WIB
(FOTO SIB/ANT/Akbar Nugroho Gumay
PRESIDEN DAN GURU: Presiden Joko Widodo (tengah) berjalan bersama anggota Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) usai pertemuan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/1). Pertemuan itu membahas peran penting guru beserta persoalan-persoalan yang dih
Jakarta (SIB)-Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersilaturahmi dengan 371 orang dari Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI). Jokowi mendapat laporan mengejutkan bahwa masih ada guru bergaji di bawah UMR.

"Mereka pejuang pendidikan, Pak. Mereka rata-rata berpenghasilan Rp 300-400 ribu per bulan yang belum bersertifikasi. Yang sudah bersertifikasi sudah setara dengan UMK," ujar Pembina PGSI, Abdul Kadir Karding, di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (11/1).

Jokowi, yang kemudian dipersilakan berpidato, merespons laporan yang disampaikan Karding. Jokowi seolah tidak percaya ada guru yang bergaji ratusan ribu rupiah per bulan.

"Tadi saya dengar dari Pak Ketua ada gaji Rp 300-500 ribu. Dalam hati saya tidak percaya. Tetapi kalau yang ngomong Pak Ketua, ya saya harus percaya bahwa memang masih ada," kata Jokowi.

Jokowi menyebut guru memiliki peran penting dalam pendidikan untuk generasi masa depan. Jokowi bertanya-tanya perihal inpassing (penyesuaian pangkat) dan sertifikasi guru yang diimplementasikan di lapangan.

"Peranan Bapak/Ibu sentral. Oleh sebab itu, saya mau selesaikan persoalan tadi yang disampaikan, berkaitan dengan inpassing dan sertifikasi. Saya nggak tahu kenapa nggak rampung, problem ada di mana. Mungkin ada yang bisa maju dan cerita, blak-blakan saja," ujar Jokowi sambil meminta salah satu guru menceritakan kendala-kendala di lapangan.

Bu Mega Curhat
Guru asal Pemalang, Jawa Tengah, bernama Mega (36) curhat. Mega mengaku kesulitan mengikuti program sertifikasi guru.
Mega mengajar sejak tahun 2009 dan mendapat honor sebesar Rp 150 ribu dalam tiga tahun terakhir.

"Ini karena berbelit-belitnya birokrasi atau apa?" tanya Jokowi.

"Dua-duanya. Untuk pendidikan, kami sama dengan lainnya. Dengan honor Rp 50 ribu, Rp 150 ribu kami bisa S1. Kok bisa? Apakah sampai di situ? Kami tidak menuntut PNS. Paling tidak masa depan kami, Yaa Allah Gusti. Istilahnya perjuangan kami tolong dihargai," kata Mega.

Karena bekerja sebagai guru di lembaga pendidikan Islam, Mega mengurus sertifikasi guru ke kantor wilayah Kementerian Agama di Pemalang. Mega mengatakan, guru yang mengajar di atas tahun 2005 tidak bisa ikut sertifikasi.

"Sebelum 2005 bisa. Tapi setelahnya, 2006, 2007, 2008, dan sampai sekarang tidak bisa," akunya.

Jokowi kembali bertanya. Ia ingin memastikan kesulitan yang dihadapi Mega.

"Waktu datang untuk dapat sertifikasi dites? Apa yang sulit? Berbelit-belitnya gimana? Masalahnya tes atau kuota?" ujar Jokowi.
"Kuota," jawab Mega.

Kendala lain yang disampaikan Mega antara lain batas usia maksimal 35 tahun. Selain itu, peserta harus memiliki pendidikan minimal S1 yang linear dengan bidang yang diajarkan.

"Jadi harus punya ijazah apa? Harus punya S1 linear sesuai mata pelajaran atau jurusan? Oke," kata Jokowi sembari meminta aduan Mega dicatat. (detikcom/h)
T#gs Jokowi Kaget Dengar Penghasilan Guru Masih Rendah
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments