Jumat, 06 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jokowi Gaet Milenial, Prabowo Andalkan Isu Korupsi

Jokowi Gaet Milenial, Prabowo Andalkan Isu Korupsi

* Prabowo Tepis Pro-khilafah * Jokowi: Rantai Persahabatan dengan Prabowo Tidak akan Putus
admin Minggu, 31 Maret 2019 10:46 WIB
SIB/Ant/Hafidz Mubarak A
JABAT TANGAN: Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional.
Jakarta (SIB)-Debat Pilpres 2019 putaran keempat antara capres 01 Jokowi dan capres 02 Prabowo Subianto telah selesai.

Sementara pakar politik Rico Marbun menyoroti pemerintahan 'Dilan' yang disebut Jokowi. Menurutnya, Jokowi ingin mendekatkan tema berat ke milenial.

"Jokowi ingin mendekatkan tema yang berat kali ini. Ideologi pemerintahan dengan bahasa anak muda, 'Dilan', digital melayani," kata Rico.

Rico mengatakan, dalam survei yang muncul selama Pilpres 2019, kedua pasangan memang bersaing untuk mendekati pemilih muda.

"Jokowi bersaing ketat di segmen pemilih pemula dan milenial dengan Prabowo. Bahkan di beberapa segmen, Prabowo bisa unggul. Sehingga soundbyte menjadi penting, strategi ini konsisten dipakai," tuturnya.

Diksi-diksi yang dipakai paslon 01, menurut Rico, dilakukan secara konsisten. Terlebih, ketika debat antar-cawapres, Ma'ruf Amin menyinggung soal '10 years challenge'. Jadi semakin jelas, Jokowi-Ma'ruf ingin mendekatkan tema-tema berat ke pemilih muda.
"Sekarang Jokowi memilih film anak muda yang laris sebagai pilihan kata dalam tema yang berat," kata Rico.

Rico menambahkan isu korupsi hingga ideologi pemerintah yang diangkat Prabowo karena ingin memperkuat berita negatif tentang OTT.

"Saya melihat Prabowo sengaja menarik isu korupsi ke tema ideologi dan pemerintahan karena ingin memperkuat berita negatif tentang OTT yang akhir-akhir ini ramai. Dan sayangnya, isu OTT banyak menyerang partai-partai koalisi pendukung 01. Jadi Prabowo sengaja mengungkit korupsi dalam capaian visi-misinya," kata Rico.

Jokowi juga dinilai unggul di sesi penyampaian visi-misi debat capres. Singkatan 'Dilan' dinilai jadi keunggulan Jokowi.

"Sebenarnya agak mirip dengan debat sebelumnya. Masing-masing punya gaya tersendiri, gimik tersendiri, Prabowo dengan gaya orasinya, Jokowi yang tenang," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya kepada wartawan, Sabtu (30/3).

Toto, sapaan akrab Yunarto, menilai Jokowi unggul karena menggunakan istilah-istilah aktual. Jokowi, dia menambahkan, berhasil keluar dari narasi lama.

"Narasi baru ini kemudian akan diingat orang," ujarnya.

Prabowo, kata Yunarto, disayangkan tak menyinggung soal pertahanan-keamanan lebih jauh. Padahal, kata dia, di situlah seharusnya letak keunggulan Prabowo.

Capres 02 Prabowo Subianto dinilai tak bisa keluar dari narasi besarnya sendiri. Jokowi tak tampil istimewa, namun Prabowo dinilai blunder.

"Polanya sama, Pak Prabowo asik dengan narasi besarnya sendiri, akhirnya dia tidak bisa menjawab pertanyaan secara substantif dan akhirnya seakan-akan pemikirannya menjadi tertinggal, pemikiran purba, ketinggalan jaman," kata Yunarto.

"Bahkan dia mengatakan lebih baik menggunakan teknologi lama, yang penting kekayaan tidak lari," imbuhnya.

Yunarto menyayangkan pernyataan tersebut. Dia mencontohkan Korut pun kini membuka diri, sebab teknologi akan memajukan peradaban.

"Bagi saya ada 2 problem, Prabowo tak bisa lepas dari kerangkeng narasi besarnya, jawaban dari semua tema sama, sisi emosionalnya juga lebih menonjol," ujarnya.

"Padahal Jokowi tidak tampil istimewa, mengulang 2014. Saya tidak melihat hal mutakhir 5 tahun kepemimpinan, Pak Jokowi diselamatkan narasi sempit Prabowo," pungkas Yunarto soal sesi II.

Kedua capres dinilai tampil dengan ciri khas masing-masing.

"Penampilan keduanya masih menunjukkan ciri khas masing-masing. Prabowo tampak tegas, patah-patah dengan intonasi penuh tekanan di sana-sini. Sementara Jokowi tampak rileks dan bicara lembut dan tidak ngoyo," kata Direktur Konsepindo Research and Consulting Veri Muhlis Arifuzzaman kepada wartawan, Sabtu (30/3).

Keduanya, kata Veri, sama-sama menyatakan Pancasila adalah ideologi negara yang final dan merupakan hasil konsensus bersama. Jokowi dinilainya unggul dalam bicara soal hubungan internasional ketika berbicara tentang kompetisi bahwa semua negara punya kebijakan proteksionisme, meski tetap menganut asas bebas aktif.

"Soal pemerintahan, Jokowi dengan sadar menyatakan beberapa tantangan yang sedang dan harus dihadapi, itulah kemudian ia menawarkan solusi, seperti penyederhanaan lembaga, peningkatan SDM, dan perlunya mengadopsi layanan berbasis digital," ujar Veri.

"Prabowo terlihat tegas dan menyatakan diri secara langsung bahwa dia adalah tentara yang sejak muda tanda tangan setia pada negara dan Pancasila. Lalu langsung 'menyerang' dengan menyatakan korupsi merajalela dan dia akan memberantasnya. Tanpa menyebut peran lembaga pemberantasan korupsi, seperti KPK dan lainnya. Prabowo juga menyatakan di bidang Hankam terlalu lemah karena anggaran terlalu kecil. Ia tidak mengelaborasi di mana lemahnya apakah karena anggarannya kecil itu?" imbuhnya.
"Jokowi lebih solutif, sementara Prabowo lebih banyak mengelaborasi masalah," sambungnya lagi.

LETUPAN EMOSI PRABOWO
Prabowo Subianto dinilai tampil sangat emosional di sesi debat ketiga. Capres 01 Jokowi dinilai menikmati emosi Prabowo itu.
"Ini titik terendah penampilan Prabowo dari semua sesi debat yang dijalani selama ini," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Yunarto mengatakan, Prabowo seolah menunjukkan semua mitos soal karakter pribadinya yang selama ini hanya menjadi asumsi-asumsi. Bagi Yunarto, Prabowo tampil temperamental.

"Ketakutan sebagian orang akan karakter temperamental dan impulsif Prabowo seolah ditampilkan. Ketika dia emosional, dia lupa terhadap apa yang diperdebatkan. Saat bicara soal diplomasi, dia masuk lagi ke pertahanan karena emosi dikritik Jokowi soal tidak percaya kepada TNI," ulas Yunarto.

Bagi Yunarto, penampilan emosional Prabowo akan berdampak elektoral. Dia meyakini penampilan emosional Prabowo akan membuatnya dijauhi swing voters.

"Lemahnya penguasaan mental Prabowo terhadap dirinya sendiri selama ini sering dikritik, sering diasumsikan, kini ditampilkan. Ketika emosi itu terjadi, dia merendahkan latar belakangnya, TNI, yang digeneralisasi tidak bisa dipercaya dan diplomat yang dinyatakan dibayar untuk baik-baik," ulasnya lagi.

"Bisa berdampak elektoral terhadap swing voters. Artinya, bisa saja sebagian dari mereka kecewa terhadap kebijakan Jokowi, tapi ada mitos terkait dengan karakter kepemimpinan Prabowo yang agak berbahaya bisa membuat mereka memilih Jokowi," imbuhnya.
"Kalau menurut saya Jokowi bisa menikmati emosi Prabowo yang muncul sekarang, yang selama ini tidak muncul, bahkan dari 2014 sekalipun," pungkas Yunarto soal sesi III.

TANAMKAN PANCASILA
Jokowi mengatakan akan menanamkan Pancasila kepada rakyat Indonesia sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan Pancasila mesti diberikan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD).

"Tadi di depan sudah saya sampaikan bahwa Pancasila adalah kesepakatan suku, ras, golongan. Harus dijelaskan sejarah mengenai dirumuskannya Pancasila, dibangunnya Pancasila harus diberikan di dalam pendidikan anak-anak kita bukan saja dari TK, tapi sejak PAUD, SD, SMP, SMA, sampai pendidikan tinggi," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan yang paling penting adalah menjalankan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hal mendasar yang mesti ditanamkan ialah toleransi.

Pasalnya, Indonesia memiliki keberagaman, dari suku, budaya, agama, hingga bahasa. Jokowi mengatakan cara menanamkan Pancasila tanpa jalan indoktrinasi bisa dilakukan lewat jalur media sosial.

Jadi nilai Pancasila bisa sampai ke anak-anak muda.
"Yang paling penting adalah bahkan bagaimana memberikan pendidikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak harus diberi tahu toleransi karena kita terdiri dari 700 suku. Anak-anak juga harus diberi tahu bahwa ada 1.100 bahasa berbeda," tuturnya.

"Kehidupan sehari-hari itulah yang sebetulnya ingin kita beri pendidikan. Dan kita telah bentuk BPIP. Tapi ini harus kekinian, bukan indoktrinasi. Bisa dilakukan lewat visual di Facebook, Instagram, sehingga relevansi dengan anak muda," sambung Jokowi.

TEPIS PRO-KHILAFAH
Prabowo Subianto berbicara mengenai tuduhan-tuduhan yang mengarah kepadanya selama ini di panggung debat keempat. Mengenai tuduhan dia pro-khilafah, Prabowo memiliki argumen untuk menepisnya mentah-mentah.

"Seolah-olah saya membela khilafah. Ini tak masuk akal. Ibu saya seorang Nasrani. Saya lahir dari seorang Nasrani," ujar Prabowo.
Prabowo juga memiliki argumen lain untuk menepis tuduhan-tuduhan yang tak masuk akal itu. Sejak usia remaja, dia telah mendaftar sebagai TNI.

"Saya dari umur 18 tahun telah mempertaruhkan nyawa saya untuk membela Pancasila. Nyawa saya, saya pertaruhkan," kata Prabowo.

Meski begitu, Prabowo meyakini Jokowi sendiri tidak akan merestui pendukungnya untuk melempar tuduhan kepada Prabowo.
"Saya percaya Pak Jokowi seorang patriot," tutur Prabowo.

TAK PERCAYA TNI
Jokowi menilai rivalnya, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto tidak percaya dengan TNI. Padahal, menurut Jokowi, kekuatan dan pembangunan TNI nyata adanya.

"Saya melihat Pak Prabowo tidak percaya pada TNI kita," ujar Jokowi.

Jokowi menyatakan itu menanggapi Prabowo yang sebelumnya menyebut bila di TNI ada budaya ABS atau Asal Bapak Senang. Sebab, Prabowo menilai laporan yang diterima Jokowi dari bawahannya tidak sesuai kenyataan.

Namun Jokowi mengaku melihat langsung bagaimana pembangunan Armada 3 yang diperintahkannya berlangsung. Kekuatan pertahanan TNI disebut Jokowi mampu untuk mendeteksi serangan dari berbagai bidang.

"Saya yang sipil, saya sangat percaya pada TNI yang kita miliki karena misalnya saya di Natuna saya lihat sendiri dibangun, saya cek di Sorong, ada barangnya," kata Jokowi.

Prabowo menegaskan dirinya merupakan sosok TNI. Dia juga mempertaruhkan nyawanya saat berdinas di militer.

"Kalau ada armada asing masuk ke laut kita, apa yang kita bisa buat, jadi bukan saya tidak percaya. Saya TNI pak, saya pertaruhkan nyawa di TNI, saya lebih TNI dari banyak TNI," kata Prabowo.

Prabowo juga menyentil penasihat militer Joko Widodo. Dia juga mempertanyakan alutsista yang dimiliki oleh Indonesia.

"Pak Jokowi tolong penasihat militernya, bukannya saya tidak percaya sama TNI. Kapal selam berapa yang kita miliki, jenis berapa, kemampuannya berapa. Pesawat berapa, kita negara seluas Eropa, berapa skuadron fighters yang kita punya, peluru kendalinya berapa," tuturnya.

Menurut dia, diplomasi bukan hanya soal menjadi mediator. Tetapi, sambung dia, diplomasi harus bertujuan untuk kepentingan nasional.

"Tetapi diplomasi tidak bisa hanya dengan menjadi mediator, itu penting, tetapi ujungnya diplomasi itu merupakan bagian dari upaya mempertahankan kepentingan nasional, inti sebuah negara," ucapnya.

Jokowi menjawab tudingan capres Prabowo Subianto soal rendahnya anggaran pertahanan. Jokowi mengatakan anggaran di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sudah yang tertinggi kedua.

"Anggaran di Kemenhan kita sudah Rp 107 triliun, itu nomor dua setelah Kementerian PU. Artinya perhatian kita tidak main-main. Kalau ada proses, kurang, itu yang perlu kita perbaiki," ujar Jokowi.

Dia mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk menjaga seluruh teritori Indonesia. Kini Indonesia sudah bisa memonitor tiap wilayah karena radar yang dipunya sudah bisa meng-cover wilayah-wilayah dari Sabang-Merauke.

"Radar negara kita sudah menguasai 100 persen wilayah Indonesia," tuturnya.

Selain itu Jokowi mengatakan sudah dilakukan gelar pasukan terintegrasi di empat penjuru mata angin. Pasukan berjaga di posisi terluar Indonesia untuk memastikan tiap wilayah Indonesia terjaga.

"Saya juga sudah minta gelar pasukan di empat titik yaitu di Natuna, Morotai, Saumlaki di selatan, kemudian di Biak. Apa yang kita harapkan dari gelar pasukan ini? Artinya titik-titik di luar negara kita terjaga," ujar dia.

RANTAI PERSAHABATAN
Jokowi menyinggung tentang 'rantai persahabatan' dalam pernyataan penutup dalam debat capres. Jokowi menegaskan 'rantai persahabatan' dengan Prabowo Subianto sebagai capres nomor urut 02 tidak akan pernah putus.

Awalnya Jokowi menyampaikan bila yang terpenting bukanlah tentang debat, tetapi masa depan bangsa. Jokowi juga menyampaikan bila yang terpenting adalah mendengarkan masyarakat serta mencarikan solusi bagi negara.

"Debat malam ini mungkin kita banyak perbedaan pendapat namun kita jangan pernah lupa bahwa yang terpenting bukanlah tentang debat melainkan tentang masa depan dan kesejahteraan rakyat kita Indonesia," ujar Jokowi.

Jokowi kemudian menyinggung hobi menggowes. "Pak Prabowo, saya ini senang naik sepeda, saya naik sepeda sejak kecil dan sering ketika naik sepeda rantainya putus. Namun percayalah pak, rantai persahabatan saya dengan pak Prabowo tidak akan pernah putus," kata Jokowi.

Juga tali persahabatan saya bersama Pak Ma'ruf Amin dengan Pak Prabowo dan Pak Sandiaga Uno juga yakinlah, insya Allah tidak akan pernah putus, tali persahabatan tali silaturahmi di antara kita," imbuh Jokowi yang kemudian menutup pernyataannya.

TAWA HANGAT PRABOWO
Capres Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan hangat sebagai penutup debat keempat Pilpres 2019. Tawa turut mewarnai closing statement Prabowo.

"Kadang-kadang maaf, Pak, suara saya keras. Saya ini setengah Banyumas setengah Minahasa. Bapak kan Solo," kata Prabowo.
Prabowo lantas tertawa. "Ini closing statement, kok (jadi begini)...," ucap Prabowo.

Prabowo meyakinkan Jokowi bahwa dirinya juga punya rasa hormat. Dia menegaskan bersahabat dengan Jokowi.

"Saya juga yakinkan Bapak saya tetap bersahabat," sebut Prabowo. (Detikcom/d)
T#gs Prabowo Andalkan Isu KorupsiJokowi Gaet Milenial
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments