Jumat, 15 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jokowi Ajak Semua Pihak Hadapi Ancaman Intoleransi

Indonesia Kokoh Karena Punya Pancasila

Jokowi Ajak Semua Pihak Hadapi Ancaman Intoleransi

* Ketua DPD: Lawan Liberalisasi dan RadikalKetua
admin Senin, 19 Agustus 2019 09:50 WIB
Ant/Sigid Kurniawan
PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN: Presiden Joko Widodo dengan baju adat suku Sasak NTB menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI dalam Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8).
Jakarta (SIB) -Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyeru kepada semua pihak untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan dan melawan ancaman-ancaman bangsa. Semua lembaga negara harus melawan sikap yang tak menghargai perbedaan.

"Saya mengajak semua Lembaga-Lembaga Negara untuk membangun sinergi yang kuat guna menyelesaikan tugas sejarah kita.

Mendukung lompatan-lompatan kemajuan untuk mengentaskan kemiskinan, menekan ketimpangan, dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya," kata Jokowi dalam pidato kenegaraan di sidang tahunan MPR tahun 2019, Jumat (16/8). Selanjutnya, Jokowi mengajak semuanya bersama-sama untuk melawan tiga ancaman bangsa.

"Bergandengan tangan menghadapi ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme," kata Jokowi.

"Serta ikut serta melahirkan lebih banyak lagi SDM-SDM unggul yang membawa kemajuan bangsa," imbuhnya.

Perbedaan Bukan Alasan
Jokowi juga menyampaikan pesan bahwa perbedaan yang ada merupakan kekuatan bangsa. Maka perbedaan bukanlah alasan untuk saling membenci.

"Tentu dalam negara demokrasi, perbedaan antarindividu, perbedaan antarkelompok, atau bahkan antarlembaga negara adalah sebuah keniscayaan," kata Jokowi.

Dia berpesan, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

"Perbedaan bukanlah alasan bagi kita untuk saling membenci, bukan alasan bagi kita untuk saling menghancurkan, atau bahkan saling meniadakan. Jika perbedaan itu kita kelola dalam satu visi besar yang sama, maka akan menjadi kekuatan yang dinamis. Kekuatan untuk mencapai Indonesia Maju," kata Jokowi.

Sidang juga dihadiri para menteri-menteri kabinet pemerintahan Jokowi dan pimpinan lembaga tinggi negara. Dia mengajak agar semua unsur negara bahu-membahu membangun bangsa.

"Saya mengajak semua Lembaga-Lembaga Negara untuk membangun sinergi yang kuat guna menyelesaikan tugas sejarah kita," kata Jokowi.

Kokoh karena Punya Pancasila
Menurut Jokowi, kita bersyukur karena Indonesia tetap kokoh 74 tahun sejak kemerdekaan. Kekokohan itu tak lepas dari peran Pancasila.

"Esok hari, kita merayakan 74 tahun Indonesia merdeka. Kita patut bersyukur, di tengah berbagai tantangan dan terpaan badai sejarah, Indonesia sebagai rumah besar kita bersama tetap berdiri kokoh. Indonesia berdiri kokoh karena kita memiliki fondasi yang sangat kuat, Pancasila," kata Jokowi.

"Pancasila adalah dasar negara, bintang penjuru, sekaligus pemersatu kita semua," sambungnya.

Jokowi mengatakan bangsa Indonesia bisa hidup rukun tanpa dibeda-bedakan latar belakang agama, suku, ras, maupun golongan di rumah Pancasila. Dia menekankan bahwa rumah besar Indonesia tempat yang nyaman untuk seluruh anak bangsa, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

"Dalam rumah besar ini, semua anak bangsa bisa berkarya, bisa bergerak, dan bisa berjuang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita bersama," ungkapnya.

Dia menegaskan bahwa perbedaan bukanlah penghalang bangsa Indonesia untuk bersatu. Dengan persatuan, rakyat Indonesia bisa sama-sama maju.

"Dalam persatuan itulah, kita menemukan energi yang mahadahsyat, untuk menggerakkan seluruh tenaga, pikiran, dan tetesan keringat untuk kemajuan Indonesia. Dalam persatuan itulah, kita menemukan solidaritas, kepedulian dan semangat berbagi antarsesama anak bangsa," ucap Jokowi.

Ego Lembaga Harus Diruntuhkan!
Dia juga meminta lembaga-lembaga negara meninggalkan ego sektoral. Kolaborasi harus dikedepankan.
Jokowi awalnya bicara soal semangat bersatu untuk kemajuan.

"Bersatu untuk mencapai satu tujuan, bersatu untuk maju bergerak di jalan perubahan, serta bersatu dengan penuh optimisme menatap masa depan," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan saat ini bangsa kita menghadapi tantangan yang berbeda, dunia berubah dengan sangat cepat. Meski demikian, persatuan dan persaudaraan tetap yang utama.

"Kita masuk dalam era kompetisi antarnegara yang semakin sengit. Akan tetapi, kita tidak boleh berhenti berkreasi dan berinovasi," ungkapnya.

Dia mengingatkan pada lembaga negara bahwa check and balances antarlembaga sangat penting tapi tetap harus berada dalam bingkai yang sama yaitu visi besar Indonesia Maju. Dalam bingkai yang sama, Jokowi yakin Indonesia makin solid dan terdepan di kompetisi global.

"Pencapaian visi besar harus kita percepat. Tidak ada jalan lain bagi kita semua, selain meninggalkan cara-cara lama dan beradaptasi dengan cara-cara baru. Kita butuh terobosan-terobosan baru untuk menjawab harapan rakyat yang makin meningkat. Kita butuh lompatan-lompatan kemajuan untuk meningkatkan kepercayaan dan kecintaan rakyat," papar Jokowi.

Terakhir, Jokowi mengingatkan agar sesama lembaga negara berkolaborasi. Dia meminta tidak ada ego antarlembaga.
"Untuk menjadi kuat, kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Ego lembaga harus diruntuhkan, sehingga karya-karya baru dapat diciptakan bersama-sama," ucap Jokowi.

"Ego sektoral yang terkotak-kotak sudah tidak relevan lagi dan harus ditinggalkan. Kolaborasi dan sinergi antarlembaga harus ditingkatkan," pungkasnya.

Tidak Boleh Alergi Kritik
Presiden juga mengajak semua elemen negara untuk tidak antikritik. Soalnya, kritik berguna supaya semuanya bisa bekerja baik demi orang banyak.

Jokowi menyampaikan pencapaian lembaga-lembaga negara baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

"Segala pencapaian dari Lembaga-Lembaga Negara tersebut adalah modal kita bersama untuk menghadapi tantangan masa depan. Kita tidak boleh cepat berpuas diri," kata Jokowi.

Kritik merupakan hal yang diperlukan demi mencapai tujuan yang baik. Menurut Jokowi, kritik juga merupakan bentuk perhatian terhadap pemerintah.

"Kita perlu saling mengingatkan dan saling membantu. Kita tidak boleh alergi terhadap kritik. Bagaimanapun kerasnya kritik itu, harus diterima sebagai wujud kepedulian, agar kita bekerja lebih keras lagi memenuhi harapan rakyat," kata Jokowi.

Sidang tahunan MPR ini dihadiri oleh 473 anggota dari 692 anggota MPR. Sidang juga dihadiri para menteri-menteri kabinet pemerintahan Jokowi dan pimpinan lembaga tinggi negara. Hadir pula Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin juga mantan calon wakil presiden Sandiaga Uno.

Mantan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri juga hadir. Selain Mega, istri Mantan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid hadir.

Lawan Liberalisasi dan Radikal
Sementara itu, Ketua DPD Oesman Sapta dalam pidatonya pada acara Sidang Tahunan MPR mengingatkan soal merebaknya dua paham besar, yakni liberalisasi dan paham radikal.

Oesman mengatakan, dalam menghadapi era globalisasi, dua paham tersebut menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Dia menyebut dua paham ini telah bergerak secara radikal di Indonesia dan bertentangan dengan Pancasila dan agama.

"Tantangan berat tersebut adalah merebaknya dua paham besar, yakni liberalisasi dan paham radikal. Atas nama kebebasan dan demokrasi, dua paham ini telah bergerak secara radikal ke anak-anak ibu pertiwi," ujarnya.

"Dua paham tersebut telah masuk ke masyarakat kita dengan mempertentangkan antara Pancasila dan Agama. Pancasila yang telah menjadi konsensus final kita dalam bernegara, telah dikaburkan oleh mereka," sambungnya.

Maka dari itu, Oesman menegaskan bahwa pancasila sudah menjadi konsensus final bangsa Indonesia. Dia mengingatkan, bila masyarakat lengah menyadari hal ini, maka tidak mustahil Indonesia bakal punah.

"Pancasila yang telah menjadi konsensus final kita dalam bernegara, telah dikaburkan oleh mereka. Sungguh ini merupakan tantangan besar buat kita semua. Jika kita lengah, tidak mustahil Indonesia akan tereduksi," tuturnya.

Lebih lanjut, Oesman menyatakan bahwa pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia dalam bernegara. Pancasila harus diimplementasikan ke segenap elemen masyarakat.

"Pancasila sebagai filsafat kita dalam bernegara harus terimplementasi secara Terstruktur, Sistematis, dan Massif di semua lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan elit hingga masyarakat yang bersandal jepit. Mulai dari anak-anak dan remaja, hingga kalangan yang sudah dewasa," ujarnya. (detikcom/d)
T#gs Presiden JokowiPidato Kenegaraan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments