Rabu, 23 Jan 2019

HUT ke-46 PDIP

Jokowi Ajak Kader Gotong Royong Bumikan Pancasila

* Megawati Ingin PDIP Lahirkan Politikus Berkarakter dan Tidak Tersesat
admin Jumat, 11 Januari 2019 10:08 WIB
SIB/Ant/Puspa Perwitasari

HUT KE-46 PDI PERJUANGAN: Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri), mantan Wakil Presiden Try Sutrisno (ketiga kanan), Hamzah Haz (kedua kanan) dan Calon Wakil Presiden Maruf Amin (kanan) menerima potonga

Jakarta (SIB) -Presiden sekaligus politikus PDIP, Joko Widodo (Jokowi), menyampaikan pidato pada ulang tahun yang ke-46 PDIP. Pujian juga dialamatkan kepada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"PDIP bersyukur mempunyai Ibu Hj Megawati Soekarnoputri. Bersyukur. Ketum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan presiden ke-5 Republik Indonesia, figur yang berkeyakinan politik, figur yang berkeyakinan ideologi, figur yang berkeyakinan Pancasila yang sangat, sangat, sangat, sangat, sangat kuat," ujar Jokowi dalam pidatonya di JIEXpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

Jokowi memuji Mega sebagai tokoh bangsa yang memiliki ideologi Pancasila yang kuat. Jokowi mengajak kader PDIP meneladani sikap Mega.

"Pemikiran, ucapan, dan tindakannya selalu begitu membekas dalam diri kita semuanya. Keberaniannya, ketulusannya, konsistensinya selalu jadi teladan bagi kita semua, kader PDIP," ucapnya.

Dalam sambutannya, Jokowi mengajak peserta selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia menyerukan Indonesia menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.

"Selalu saya sampaikan di mana-mana bahwa aset terbesar kita adalah kerukunan, persatuan. Oleh sebab itu, kita tak boleh berhenti bergerak, kita harus gotong-royong memperkuat persatuan kita, membumikan Pancasila, bergerak bersama-sama agar Indonesia adil, makmur, dan sejahtera," kata Jokowi.

"Kita semuanya harus bersama-sama mewujudkan Indonesia yang berdikari, yang berkepribadian, dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain di dunia," ujar Jokowi.

HUT ke-46 PDIP juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Ketua DPR Bambang Soesatyo, dan Ketua MPR Zulkifli Hasan. Cawapres pendamping Jokowi, KH Ma'ruf Amin, juga hadir dalam HUT PDIP.

Bumikan Pancasila
Jokowi juga mengingatkan pentingnya ideologi Pancasila bagi NKRI. Jokowi pun menitipkan kepada kader PDIP untuk menjaga ideologi tersebut.

Jokowi mengatakan sudah banyak capaian selama 73 tahun Indonesia merdeka. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban masyarakat, termasuk kader PDIP, menjaga capaian itu dan melanjutkan perjuangan para pahlawan.

"Sudah jadi kewajiban kita untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Kita semua optimis. Optimis melangkah agar negara ini menjadi negara maju," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan Indonesia merupakan negara besar yang memiliki tiga aset penting. Yakni kerukunan, persaudaraan, dan persatuan.

"Oleh sebab itu, kita tidak boleh berhenti bergerak, kita harus bergotong-royong memperkuat kesatuan kita, gotong-royong untuk membumikan Pancasila dan untuk bergerak bersama menjadikan Indonesia adil, makmur, dan sejahtera," ujarnya.

"Kita semua harus bersama-sama mewujudkan Indonesia yang berdikari, berkepribadian, dan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain di dunia," imbuh Jokowi.

Di akhir sambutannya, Jokowi menitipkan pesan kepada kader PDIP agar menjaga Pancasila dan NKRI.

"Dirgahayu ke-46 PDIP," kata Jokowi.

Pengikut Patuh Buta
Sementara itu, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbicara soal ideologi dalam sambutannya di HUT ke-46 partai itu. Megawati mengatakan ideologi bukan untuk menciptakan pemimpin yang mahir memanipulasi.

Megawati awalnya bicara soal Pancasila sebagai penuntun kehidupan berbangsa dan bernegara. Megawati juga menyebut Pancasila seharusnya menjadi haluan dalam setiap pengambilan keputusan politik.

"Tahun lalu pada perayaan ulang tahun PDI Perjuangan yang ke-45, saya telah sampaikan beberapa hal penting dalam kaitan antara politik, partai politik, dengan ideologi Pancasila," ujar Megawati.

Megawati mengatakan berpolitik harus menggunakan ideologi Pancasila. Dia ingin PDIP melahirkan politikus yang berkarakter dan tidak tersesat. Dia menegaskan ideologi bukan untuk menciptakan pemimpin yang mahir memanipulasi.

"Pertama, berpolitik harus dengan ideologi Pancasila karena saya sangat menginginkan partai ini mampu melahirkan politisi-politisi yang berkarakter, punya prinsip sehingga tidak tersesat dan menyesatkan rakyat saat dipercaya menjadi pemimpin," ucap Megawati.

"Camkan. Ideologi bukan alat yang berfungsi untuk mengumpulkan pengikut dan melegitimasi para pemimpinnya. Ideologi bukan mesin untuk memproduksi pengikut yang patuh buta dan mati rasionalitasnya, bukan untuk ciptakan pemimpin yang mahir memanipulasi," sebut dia.

Mumet
Megawati kembali menyinggung soal anak buah Prabowo Subianto yang kerap menyudutkan pihaknya. Ia mengaku sampai mumet dibuatnya.

"Saya berteman baik dengan Pak Prabowo. Aneh kan ya? Ketika yang namanya, kok anak buahnya selalu menampilkan hal-hal yang menyudutkan kita. Padahal seorang terdekat Prabowo membisiki saya, 'Pak Prabowo kangen lho Bu sama nasi goreng Ibu.' Kan lebih enak ya," ujar Megawati.

Megawati berharap apa yang disampaikannya ini dapat didengar Prabowo dan pendukungnya.

"Mudah-mudahan terdengar beliau dan anak buahnya. Sebetulnya apa tho yang dicari? Saya suka mumet. Mumet bukan pusing aja, tapi sudah sampai muter," tutur dia.

Di Pilpres 2019 ini, Megawati mengingatkan kader-kadernya tetap menjaga perjuangan yang sehat, bukan perjuangan yang dihinggapi penyakit sesat. Ia juga bercerita soal ciri menjadi pemimpin yang baik.

"Tentunya beretika, punya budi pekerti, tidak asal main viral, jangan menebar kebencian dan hoax. Saya ingatkan kita pernah Pemilu sejak tahun '55, tapi saya belum pernah setelah sekian lama jadi ketum, tentunya yang terlama di Indonesia, saya belum pernah, bangsa kita sendiri hanya menuju keinginan untuk merebut kekuasaan saling membenci, menyanyikan kebencian, hoax," kata Megawati.

Meski tak aktif di dunia media sosial, Presiden RI ke-5 tersebut mengaku tahu soal isu-isu viral. Megawati miris atas kondisi saat ini.

Badan Riset
Megawati juga mengatakan konsep pembangunan nasional membutuhkan riset, teknologi, dan inovasi. Ia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun lembaga tersebut.

"Cara satu-satunya dengan membumikan Pancasila dalam politik pembangunan dengan baik, terukur, mencakup segala aspek. Saya tegaskan dan saya tugaskan, terutama kader partai di legislatif, eksekutif, saya tugaskan menjalankan visi-misi pembangunan yang disusun partai," ujar Megawati.

"Visi-misi tersebut diputuskan pada Rakernas PDIP, Februari 2018, yang diberi nama 'pembangunan nasional berdiri di atas kaki sendiri'. Inilah konsep pembangunan membumikan Pancasila dalam bidang kehidupan maupun mental. Konsep ini cetak biru Indonesia menjadi negara industri maju, rakyat sebagai subjek pembangunan nasional," katanya.

"Dengan demikian, jelas terutama bagi Bapak Presiden, saya memohon, jelas dibutuhkan badan riset dan inovasi nasional yang hasil kerjanya harus jadi landasan keputusan program pembangunan. Saya tidak akan pernah bosan mengingatkan tidak ada satu negara pun dapat menjadi negara maju tanpa mengedepankan riset pengetahuan dan teknologi, ini yang sedang kami perjuangakan bersama Pak Jokowi," imbuhnya.

Mega menyebut bangsa Indonesia membutuhkan riset, teknologi, dan inovasi supaya menjadi negara besar. Mega yakin badan tersebut bisa terwujud jika PDIP dan Jokowi menang dalam Pemilu 2019.

Pamer 3 Juta Pengurus
Megawati mengapresiasi para pengurus partai tingkat ranting. Megawati membanggakan jumlah pengurus ranting yang menurutnya mencapai 3 juta.

"Anak-anakku yang saya cintai, saat ini telah hadir para pengurus anak cabang atau yang disingkat PAC, yaitu struktural PDIP di tingkat kecamatan," ujar Megawati.

Megawati lalu mengulang obrolannya dengan Jokowi. Menurut Megawati, ada enam ribuan peserta yang hadir.

"'Oh, jadi tidak dengan ranting dan anak ranting?' kata Megawati mengulang pertanyaan Jokowi.

"Saya ketawa, 'Pak, nggak ada, Pak, lapangan yang bisa, yang bisa memenuhi. Karena kalau sampai tingkat anak ranting, kali dua saja kami mempunyai sekitar 3 juta, Pak'," jawab Mega diikuti riuh tepuk tangan peserta HUT PDIP.

Megawati mengaku ingin mengundang para pengurus partai tingkat kelurahan atau desa yang disebutnya sebagai pengurus ranting, juga pengurus di tingkat RT/RW atau anak ranting. "Kehadiran mereka sebenarnya sangat penting sebagai pengingat bahwa tak ada istilah elite partai, tak boleh ada perlakuan khusus bagi segelintir orang di struktur partai yang lebih tinggi," ucap Mega.

Mega meminta semua pengurus ranting atau anak ranting tak berkecil hati. Menurutnya, semua pengurus di setiap tingkatan punya status sama di partai, yang membedakan hanya wilayah kerja politik.

"Anak-anakku seluruh jajaran pengurus PAC, ranting dan anak ranting, jangan merasa rendah diri hanya karena kalian menjadi pengurus partai di kecamatan, kelurahan, desa, atau RT/RW. Hierarki kepengurusan dalam partai bukan berarti perbedaan status dan perlakukan. Jenjang pengurusan dalam partai hanya membedakan wilayah kerja politik saja," tegas Mega.

Sindir Kutu Loncat
Di kesempatan itu Megawati membanggakan kader partainya yang loyal. Megawati menyindir politikus kutu loncat yang kerap berpindah parpol untuk tujuan kekuasaan pribadi.

"Bendera banteng moncong putih dikibarkan mengalami pasang-naik tapi juga pasang-surut. Kita mengalami kekalahan dalam beberapa Pemilu, contohnya 2004 dan 2009. Tapi partai ini tidak pernah memilih jalan pintas," ujar Megawati.

"Tidak menerapkan asal comot caleg, apalagi dari partai lain, tidak mencomot tokoh pendongkrak," sebut Megawati.

Presiden RI ke-5 itu menyatakan partainya memang terbuka untuk siapa saja. Namun Megawati menegaskan setiap orang yang ingin menjadi kader PDIP harus berideologi Pancasila.

"Pintu PDIP selalu selalu terbuka bagi siapa yang siap dan berani ditugaskan sebagai penjaga Pancasila, the guardian of Pancasila," tuturnya.

"Tapi saya tidak ingin partai ini diisi oleh kader karbitan atau orang yang mendadak kader saat Pemilu. Mengaku kader, tapi jika tidak direkomendasikan atau tidak dipilih lalu loncat ke partai lain," imbuh Megawati.

Dia menyebut PDIP bukan kendaraan loncatan bagi yang mengejar kekuasaan. Megawati lalu menyindir politikus yang berpindah partai karena mengejar jabatan yang lebih tinggi.

"Beberapa terjadi di PDIP, tapi kami tidak berkecil hati kehilangan politisi pragmatis. Itu seleksi alam ideologi. Seleksi alam ideologi akan memilah mana yang kader dan bukan kader. Yang mementingkan kelompoknya akan menyingkir atau tersingkir dari PDIP," tutup Megawati.

Sopiri Megawati-JK-Ma'ruf
Sebelumnya di lokasi acara, Jokowi menyopiri Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Wapres Jusuf Kalla (JK), dan cawapres KH Ma'ruf Amin.

Jokowi menghadiri acara ini mengenakan kemeja berwarna merah dan lencana di dada kiri.

Lencana yang dipakai Jokowi menandakan ia menghadiri HUT PDIP dalam kapasitas sebagai presiden. Ia juga hadir di lokasi menggunakan mobil RI-1. Acara HUT PDIP masuk agenda resmi kepresidenan.

"Sebagai presiden," ujar Stafsus Presiden Adita Irawati melalui pesan singkat.

Kehadiran Jokowi dalam acara-acara partai atau acara politik terkadang tidak terlepas dalam kapasitasnya sebagai calon presiden.
Misalnya saat menghadiri deklarasi ulama Madura di Bangkalan, Jokowi tidak mengenakan lencana di dada kiri dan memakai mobil SUV yang tidak berpelat RI-1 atau Indonesia-1.

"Iya, juga kalau pakai mobil RI-1 berarti presiden. Kalau capres tentu nggak pakai itu," ujar Adita.

Meski demikian, Jokowi memiliki jabatan melekat sebagai presiden ataupun capres. Ada ketentuan tersendiri mengenai standar pengamanan Jokowi dalam kapasitas sebagai capres.

"Kalau perangkat tetap diperbolehkan nempel ke beliau sebagai capres. Ada aturannya," terangnya. (detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments