Selasa, 22 Sep 2020

20 Ribu Lebih Umat Kristiani Bernatalan Bersama Presiden di Medan

Jokowi: Jadilah Garam dan Terang Dunia!

* Ephorus BNKP Pdt Tuhoni Telaumbanua: Zaman Sudah ‟Terbalik‟, yang Kerja Melayani Dianggap Penghancur, Provokator Dianggap Pejuang, * Yasonna Laoly: Indonesia ‟Bahtera Nuh‟ Keselamatan Kebinekaan
Admin Minggu, 30 Desember 2018 11:46 WIB
SIB/Horas Pasaribu/Ant/Wahyu Putro A
Medan (SIB) -Perayaan Natal Nasional 2018 di Medan dihadiri Presiden Ir H Joko Widodo (Jokowi) berlangsung hikmat dan sukses. Diperkirakan 20 ribu lebih umat Kristiani hadir memadati dua gedung yang disediakan panitia, yaitu gedung Serbaguna Pemprovsu dan GOR Futsal Dispora Pancing Medan, Sabtu (29/12).

Seperti biasa setiap kehadiran Jokowi, massa undangan dari jemaat berbagai denominasi gereja ini pun tak kalah semangatnya untuk menyambut Jokowi saat memasuki gedung. Begitu juga saat meninggalkan acara, tampak para undangan berlomba-lomba menyalami maupun berfoto. Sehingga sang presiden pun dengan sabar melangkah pelan untuk mengakomodir para undangan.

Acara yang berlangsung sore hingga malam itu dihadiri Ketua Umum Panitia Yasonna Laoly, Ketua Pengarah Luhut Binsar Panjaitan, Wakil Ketum Dumoly F Pardede, Ketua Pelaksana Harian Pdt R Bambang Jonan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Gubsu Edy Rahmayadi, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Penasehat Dr RE Nainggolan MM, drg Annita, Wakil Ketua John Eron Lumban Gaol, Sekretaris Jadi Pane, para bupati, tamu negara, para pimpinan gereja, Pengkhotbah Ephorus BNKP Pdt Tuhoni Telaumbanua PhD dan doa syafaat oleh Uskup Agung Medan Emeritus AB Sinaga OFM Cap.

Presiden Jokowi dengan berpakaian ulos Batak Toba dalam sambutannya mengajak umat Kristiani agar selalu menjadi garam dan terang dunia. "Perayaan Natal adalah perayaan yang menghadirkan kedamaian sejati. Damai di hati kita semua, damai di Indonesia dan damai di bumi kita. Kedamaian ini harus terus kita rawat dan jaga. Dengan selalu berdoa dan tulus bekerja. Dalam perayaan Natal kita juga perlu bersukacita atas anugerah-anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, kepada bangsa Indonesia," katanya.

Kita telah dianugerahi keragaman yang luar biasa. Penduduk Indonesia sekarang sudah mencapai 260 juta jiwa, hidup di 17 ribu pulau yang dianugerahi perbedaan suku, agama dan budaya. Tapi ini bukan sumber perpecahan. Namun menjadi potensi besar untuk kekuatan bangsa Indonesia.

"Tuhan telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan persaudaraan yang tinggi serta cinta kasih yang tinggi. Persatuan itu juga bersumber dari keragaman yang ada di Indonesia. Ada kekuatan kita yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun. Kita semua adalah bersaudara sebangsa dan setanah air," paparnya.

Oleh sebab itu,  sambung dia, sebagai anugerah Tuhan kepada bangsa ini, maka keragaman dan persatuan harus terus dijaga. "Terus kita rawat, kita syukuri dengan saling menghormati dan menghargai. Juga saling membantu serta saling mengasihi. Kepada seluruh umat Kristiani saya mengajak untuk selalu menjadi garam dan terang dunia. Dengan selalu membuka hati untuk menerima hikmat. Karena itu berbahagialah orang yang mendapat hikmat," katanya.

Dia mengatakan, orang yang mendapat hikmat keuntungannya melebihi emas dan perak, lebih berharga dari permata. "Dengan menerima hikmat jalan kita akan penuh dengan rasa kebahagiaan, penuh dengan rasa kesejahteraan. Dengan hikmat kita secara bersama-sama bekerja membangun negara kita Indonesia. Dengan hikmat saling membantu sesama anak bangsa. Dengan hikmat kita persiapkan anak-anak kita untuk menghadapi masa depan dengan manusia-manusia yang unggul dan berahlak mulia. Dengan hikmat kita hadirkan rasa keadilan sosial di seluruh penjuru tanah air dan majukan negara Indonesia," katanya dengan di akhiri ucapan selamat Natal dan Tahun Baru kepada semua yang hadir.

"TERBALIK"
Sebelumnya pada kebaktian Natal, Ephorus BNKP Pdt Tuhoni Telaumbanua mengatakan, bahwa zaman saat ini sudah "terbalik". Karena yang bekerja dan melayani untuk kesejahteraan orang banyak dianggap penghancur. Tapi provokator dan kaum radikal dianggap pejuang sejati. "Terbalik," katanya.

Disebutkan, yang diam, sederhana, tulus dan jujur dianggap pengacau. Tapi yang omongannya besar dan kasar serta membuat diskriminatif dan rasis dianggap pengayom. "Serba terbalik. Makanya yang sukses adalah orang-orang yang cerdik licik. Sedangkan orang yang cerdik tulus malah terpinggirkan," kata dia.

Di zaman edan, sambungnya, korupsi di mana-mana. Yang justru dilakukan oleh orang yang sudah kaya, yang terus-menerus menguras uang negara tidak peduli penderitaan orang miskin. Keserakahan telah merasuki hati manusia. "Di zaman edan moral tidak dipentingkan, tidak ada persahabatan dan tidak ada kawan abadi. Tapi yang ada adalah kepentingan. Kawan bisa menjadi lawan, lawan bisa menjadi kawan asalkan menguntungkan," katanya.

HIKMAT
Bagaimana kita menghadapi ini, kata dia, tentu hanya dengan mengandalkan Tuhan dan hikmat yang diberikannya. "Alkitab mengatakan, bahwa hikmat sangatlah penting, penting bagi para pemimpin dan setiap orang. Tanpa hikmat para pemimpin dan rakyat jadi bebal dan saling menindas satu dengan yang lain, dan tidak takut akan Tuhan. Barang siapa yang tidak memiliki hikmat dia akan menjadi pasif, sesat dan berjalan dalam kegelapan menuju kebinasaan," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, kitab suci menyampaikan berbahagialah orang-orang yang mendapat hikmat. Karena mereka takut kepada Tuhan dan diselamatkan. Sebab Tuhan adalah sumber hikmat.  Seperti tema Natal Nasional 2018, Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (1 Korintus 1:30a).

Sedangkan doa syafaat oleh Uskup Agung Medan Emeritus AB Sinaga OFM Cap mendoakan agar bangsa ini dilindungi Tuhan dan dijauhkan dari segala bencana dan perpecahan.

Sementara liturgi dibawakan oleh sejumlah pendeta dan penampilan Orkes Simphony dipimpin Edward dengan melibatkan 1.000 anggota paduan suara dengan pakaian Nusantara.

"BAHTERA NUH"
Sementara Ketua Umum Panitia Natal Yasonna H Laoly dalam sambutannya mengatakan, masyarakat Sumut yang beragama Kristen sangat bersyukur dan bersukacita atas digelarnya perayaan Natal Nasional 2018 di Medan, Sumut dengan tema "Yesus Kristus, Hikmat Bagi Kita (1 Korintus 1:30a)". 

Yasonna menekankan bahwa Natal adalah kebahagiaan yang sangat istimewa bagi umat Kristen karena hari yang dirayakan sebagai kelahiran Tuhan Yesus Kristus ini merupakan keselamatan. 

Selamat karena manusia sudah ditebus dari dosa-dosanya dengan pengorbanan darah daging Yesus. 

Ia juga mengibaratkan negara Indonesia sebagai Bahtera Nuh yang disiapkan Tuhan untuk menyelamatkan berbagai makhluk ciptaan Tuhan di Bumi sehingga kita bisa sampai ke zaman sekarang. Demikianlah Indonesia sebagai bahtera kehidupan berbangsa di negeri ini dengan kebinekaannya.

Yasonna pun menekankan perayaan Natal Nasional ini juga sebagai simbol persatuan, keberagaman dan toleransi di Indonesia.

Dalam bagian lain sambutannya, Yasonna menyampaikan, sejak Presiden Soekarno hingga SBY, perayaan Natal Nasional selalu diadakan di Jakarta. Sejak pemerintahan Presiden Jokowi, Natal Nasional baru diadakan di luar Jakarta, mulai dari Papua, NTT, Manado, Pontianak dan sekarang di Sumut. "Kecintaan beliau terhadap Indonesia dari Sabang hingga Merauke itu, yang menjadikan masyarakat Sumut bersukacita dengan perayaan Natal Nasional tahun ini," ujarnya.

Acara di akhiri dengan hiburan, dengan menampilkan artis Rita Butarbutar dan lainnya dengan membawakan lagu puji-pujian pada Tuhan. (R1/A11/h)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments