Sabtu, 19 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jimmy Aritonang Selamat Dari Aksi Penembakan KKSB di Papua

Kisah Mencekam Saksi Hidup

Jimmy Aritonang Selamat Dari Aksi Penembakan KKSB di Papua

* Korban Tewas 19 Orang, Versi Polda 31 Orang
Admin Kamis, 06 Desember 2018 11:47 WIB
Jakarta (SIB) -Jimmy Aritonang, karyawan PT Istaka Karya, selamat dari aksi penembakan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) di jalur Trans Papua. Dia menceritakan detik-detik mencekam penembakan brutal itu.

Jimmy menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada anggota TNI yang mengevakuasi para korban penembakan. Cerita Jimmy kemudian disampaikan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi.

Aidi mengungkapkan awalnya semua karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja pada 1 Desember yang merupakan Hari Kemerdekaan KKSB.

"Bahwa pada tanggal 1 Desember 2018 seluruh karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja karena pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat," kata Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, Rabu (5/12).

Setelah itu, KKSB tiba-tiba mendatangi tempat kemah atau kamp karyawan PT Istaka dan memaksa para pekerja keluar menuju Kali Karunggame. Saat berjalan keluar, para pekerja diikat tangannya dengan dikawal anggota KKSB yang memakai senjata.

"Sekitar pukul 15.00 WIT, kelompok KKSB mendatangi Kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan, yang berjumlah 25 orang, keluar. Selanjutnya digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standar militer," tutur Aidi menyampaikan cerita Jimmy.

Pada Minggu (2/12), semua pekerja diminta berbaris berjalan jongkok dengan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo. Akhirnya, mereka ditembaki anggota KKSB yang menari-nari sambil berteriak suara hutan khas pendalaman Papua. Namun ada beberapa karyawan yang pura-pura meninggal.

"Tidak lama kemudian, para anggota KKSB dengan kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat. Sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah," jelas dia.

Sebelas karyawan yang pura-pura meninggal disebut meninggalkan lokasi setelah KKSB melanjutkan perjalanannya ke Puncak Kabo. Saat karyawan melarikan diri, ada anggota KKSB yang melihat dan langsung menembaki mereka, termasuk Jimmy.

"Setelah itu, KKSB meninggalkan para korban dan melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Sebelas orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri. Namun malangnya aksi mereka terlihat oleh anggota KKSB sehingga mereka dikejar. Lima orang tertangkap dan digorok oleh KKSB (meninggal di tempat), 6 orang berhasil melarikan diri ke arah Mbua, 2 orang di antaranya belum ditemukan, sedangkan 4 orang (di antaranya saksi Jimmy Aritonang) selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua," tutur dia.

Menurut Aidi, berdasarkan kesaksian Jimmy korban meninggal dunia ada 19 orang pekerja. "Menurut keterangan saudara JA (Jimmy Aritonang) jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh KKSB di lereng bukit puncak Kabo adalah 19 orang," kata Aidi.

Aldi menambahkan, Satgas gabungan TNI-Polri sudah berhasil menguasai Mbua dan melaksanakan evakuasi korban.

VERSI POLDA
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal dalam keterangannya mengatakan 31 pekerja proyek Trans Papua tewas dibunuh KKB. Kasus ini bermula saat KKB membunuh 24 pekerja proyek. Sedangkan 8 pekerja proyek lainnya melarikan diri dan bersembunyi di rumah salah satu anggota DPRD setempat.

"Delapan orang yang selamatkan diri di rumah anggota DPRD dijemput dan dibunuh. Tujuh orang meninggal dunia dan 1 orang belum ditemukan atau melarikan diri," jelasnya.

Belakangan diketahui bahwa pembunuhan itu dilakukan di Hari Papua Merdeka. Polisi kini mengejar pelaku pembunuhan tersebut.

"Informasi yang kita terima di saat KKB merayakan peringatan Hari OPM/TPN pada 1 Desember 2018, salah satu dari pekerja mengambil foto. Hal itu kemudian diketahui oleh kelompok KKB. Mereka marah dan mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan," kata Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Piter Reba saat dihubungi, Selasa (4/12).

Amankan Lokasi 
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut 154 personel gabungan dari TNI dan Polri telah dikirim untuk mengamankan lokasi penembakan pekerja proyek jembatan di jalur Trans Papua. Moeldoko ingin masyarakat setempat merasa aman.

"154 TNI-Polri dikirim untuk pemulihan. Kita tidak ingin masyarakat di sana merasa situasi tidak menentu. Merasa tidak aman dan nyaman," ucap Moeldoko kepada wartawan di kantornya, Jalan Veteran, Jakarta, Rabu (5/12).

Selain itu, Moeldoko meminta setiap proyek yang dikerjakan di daerah rawan di Papua dijaga aparat keamanan. Hal ini agar pengerjaan proyek tidak terganggu.
"Pembangunan tetep berjalan perlu dikawal di daerah yang tidak aman. Perusahaan kontraktor atau BUMN perlu pengawalan TNI-Polri agar pembangunan tetap berjalan dengan baik," kata Moeldoko.

Menurut Moeldoko, pembangunan di Papua tidak boleh berhenti. Hal ini sebagai bentuk perhatian pemerintah untuk pembangunan Papua.

"Upaya pemerintah Jokowi untuk segera samakan kondisi pemerataan pembangunan ini tidak kenal situasi. Walau kita diganggu, ini kebutuhan besar masyarakat Papua," kata Moeldoko.

Bagi Moeldoko, pembangunan bisa mengubah kerawanan kawasan. Termasuk di lokasi kejadian di Kabupaten Nduga.

"Masih merah (rawan), makanya Pak Presiden buka akses, semoga daerah jadi tumbuh, tidak terisolasi. Mudah in-out orang. Kesejahteraan meningkat. Kalau berubah, tingkat keamanan juga berubah," ucap Moeldoko.

Gerakan OPM
Moeldoko juga menilai aksi penembakan pekerja proyek jembatan di jalur Trans Papua bukan sekadar aksi kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB). Dia menyebut aksi itu kemungkinan dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Itu bukan sekadar dilakukan aksi kelompok kriminal bersenjata, tapi aksi yang boleh saya katakan gerakan OPM. Aksi kriminal tidak seperti itu," ucap Moeldoko.
Moeldoko menyebut perlu ada pembahasan terkait istilah yang digunakan. Hal ini akan berpengaruh pada penanganan yang dilakukan oleh pemerintah.

"Keputusan politik mungkin dibicarakan dengan DPR untuk tentukan istilah. Karena istilah bawa implikasi membawa apa," ucap Moeldoko.

Jika disebut kriminal, maka Polri yang menangani. Sedangkan jika gerakan bersenjata atau separatisme, penanganan ada di tangan TNI.

"Mestinya, dengan peristiwa besar seperti ini, kita konstruksi lagi. Kita jujur harus lihat batas kemampuan. Ini di hutan dan sebagainya. Kita lihat batas kemampuan polisi seperti apa," ucap Moeldoko. (detikcom/l)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments