Jumat, 15 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Jelang Pilpres, "Warga Kedai Kopi" di Gunungsitoli Hangat Bahas Capres

Jelang Pilpres, "Warga Kedai Kopi" di Gunungsitoli Hangat Bahas Capres

admin Minggu, 31 Maret 2019 12:13 WIB
SIB/Riswan H Gultom
SEPAKAT: Meski berbeda pilihan presiden, pelanggan Warkop Damai Gunungsitoli sepakat pelaksanaan pemilu harus damai. Sabtu (30/3)
Gunungsitoli (SIB)- Menjelang pemilihan presiden (Pilpres) yang semakin dekat, pelanggan "Warung Kopi Damai" di Simpang Jalan Sudirman Gunungsitoli, saban hari hangat memperbincangkan plus minus capres Jokowi dan Prabowo.

Di warkop sebagai tempat diskusi berbagai profesi seperti pemerhati sosial, Ormas, rekanan, pengusaha, jurnalis dan lainnya, Sabtu (30/3), sejumlah pelanggan di antaranya Yamobaso Giawa, F Lomboe, Iwan Hulu, Yostinus Hulu, Pr Gulo, Juli Fau dan lainnya beradu pendapat membahas jagoannya.

Jokowi disebutkan memiliki kerja nyata dengan pembangunan infrastruktur yang kini telah dinikmati masyarakat. "Pembangunan nyata. Warga Sabang hingga Merauke menikmati infrastruktur jalan, di mana-mana tol dibangun, bahkan ibu kota Jakarta kini mirip kota di Eropa," kata Juli Fau.

Ia juga membanggakan Jokowi dengan aksi nyata menyentuh langsung kepentingan masyarakat kecil seperti melalui program layanan kesehatan gratis BPJS, kartu pra sejahtera, bea siswa miskin hingga penuntasan angka pengangguran. Sementara Pr Gulo tidak kalah menyanjung Prabowo untuk memimpin Indonesia 5 tahun ke depan. Menurutnya, Indonesia butuh suasana baru.

"Sepertinya kita butuh pimpinan yang lebih tegas untuk memberantas para mafia di berbagai sektor," katanya. Dia menduga, akibat masih adanya mafia bermain, termasuk dalam impor,harga-harga kebutuhan pokok masyarakat di pasaran masih tinggi. "Pemain-pemain bahan pangan ini tentu kuat, dibutuhkan pula cara kuat menertibkan. Kita tahu Prabowo tegas, juga memiliki jaringan," tegasnya.

Dia mengakui, selama 4 tahun lebih kepemimpinan Jokowi banyak perubahan, namun pembangunan belum merata. Dicontohkan, dalam 4 tahun terakhir Nias hampir tidak ada bedanya sebelum masa Jokowi.

"Pulau Nias tetap terkekang. Tiket pesawat mahal, menjangkau luar Nias melalui laut harus bermalam di tengah samudera, sementara jalur darat tidak ada. Masyarakat masih terisolir," katanya sembari menjelaskan porsi APBN ke Nias juga tidak mengalami kenaikan signifikan.

Namun demikian, warga berkomitmen siapapun yang terpilih menjadi presiden nantinya, masyarakat pasti menghormatinya, sebab itulah hasil demokrasi. (BR9/h)
T#gs Jelang Pilpres
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments