Selasa, 17 Sep 2019

JK: UAS Harus Ikuti Proses di Negeri Ini

* Sekum FPI Membela UAS,Bareskrim Kaji Unsur Pelanggaran UU ITE
admin Rabu, 21 Agustus 2019 10:24 WIB
Jusuf Kalla
Jakarta (SIB) -Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengomentari ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) yang dituduh menghina simbol benda-benda rohani milik agama Kristen. JK menyebut UAS harus mengikuti proses yang ada di negara.

"Apa yang terjadi pada Ustaz Somad itu tentu harus diklarifikasi. Karena juga banyak usulan, ya dilalui dengan proses di negeri ini," kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (20/8).

Ia meminta semua pihak, entah agama apa saja agar memberikan dakwah atau khotbah yang menyejukkan. Pesan yang disampaikan harus saling menghormati.

"Kita semua Islam, Kristen, Buddha dalam berdakwah maupun memberikan khotbah harus lebih adem dan lebih menghormati satu sama lain," jelas JK.

FPI MEMBELA
Sementara itu, Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman menilai kasus ceramah UAS sengaja dicari-cari.
"Kasus dicari-cari dan dibuat-buat," ujar Munarman, Senin (19/8) malam.

Dia mengingatkan ceramah UAS yang diduga tiga tahun lalu itu terjadi di Pekanbaru, Riau. Ceramah dilakukan secara tertutup. Semestinya jika ingin melapor UAS maka ke lembaga berwenang setempat Polda Riau.

"Secara hukum, perkara itu hanya bisa diproses oleh institusi yang yurisdiksinya ada di wilayah yang dianggap sebagai TKP. Itulah gunanya ada locus delicti dan adanya pembagian wilayah hukum," jelas Munarman.

Dia menambahkan jika kasus ini melebar dengan laporan di sejumlah daerah maka dinilai keliru. Sebab, bisa memunculkan kekacauan hukum bila cara ini diterapkan.

"Kalau semua orang bisa melaporkan di mana saja, maka jangan salahkan bila ke depan kekekacauan hukum akan terjadi di mana-mana," tuturnya.

Munarman menyebut setiap orang mesti paham dalam yurisdiksi wilayah hukum dalam melapor. "Enggak bisa seenaknya orang melapor suatu peristiwa yang tidak terjadi di wilayah hukum tempat terjadinya perkara," ujarnya.

Sejauh ini, UAS dilaporkan sejumlah pihak ke kepolisian. Salah satunya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang melaporkan UAS ke Bareskrim Mabes Polri, Senin (19/8).

Sebelumnya, organisasi Horas Bangso Batak (HBB) juga melaporkan UAS ke Polda Metro Jaya. HBB melaporkan Ustad Somad terkait ceramahnya yang membahas soal salib dan menjadi viral di media sosial. Ceramah dai 42 tahun itu dinilai menyinggung umat Kristiani.

Terkait hal ini, UAS sudah memberikan klarifikasi terkait viralnya video ceramah yang dinilai menghina agama Kristen dan Katolik. Hal itu disampaikan UAS lewat video yang diunggah kanal YouTube FSRMM TV pada Minggu, 18 Agustus 2019.

Klarifikasi tersebut diucapkan di sela-sela ceramah dalam rangka peringatan HUT RI ke-74 di Masjid At-Taqwa, Simpang Kelayang, Indragiri, Riau pada 17 Agustus lalu.

BARESKRIM KAJI UU ITE
Terkait laporan terhadap UAS, Bareskrim Polri masih mengkaji sejumlah laporan terkait video ceramahnya mengenai salib yang viral di media sosial. Bareskrim masih mendalami unsur pelanggaran UU ITE terkait pelaporan itu.

"LP Abdul Somad sudah ada di SPKT Bareskrim, cuma sampai sekarang pelaporan tersebut masih di Karobinops. Soalnya kan apa itu memenuhi unsur ITE atau tidak, sedang dikaji," kata Kasubdit II Dirtippidsiber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (20/8).

Rickynaldo menyebut laporan itu akan ditindaklanjuti Dirtippidsiber Bareskrim jika terbukti memenuhi unsur pelanggaran ITE. Jika tidak, laporan akan ditangani Direktorat Tindak Pidana Umum.

"Kalau memenuhi unsur ITE-nya, baru diserahkan ke Siber. Tapi kalau tidak, biasanya diserahkan ke Pidum," ujarnya.

Dia juga menyebutkan laporan terhadap UAS di sejumlah daerah lain ada kemungkinan akan ditangani Bareskrim Polri. "Biasanya kalo dilaporkan di beberapa polda, biasanya ditarik jadi satu. Jadi nanti tunggu keputusan pimpinan, apakah ditangani tim, apakah ditangani gabungan, apakah ditangani per direktorat," ucap Rickynaldo. (SP/Viva/Detikcom/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments