Rabu, 23 Jan 2019
  • Home
  • Headlines
  • Isu Tsunami Merebak, Warga Nias Mengungsi ke Bukit

Isu Tsunami Merebak, Warga Nias Mengungsi ke Bukit

admin Jumat, 11 Januari 2019 10:11 WIB
Nias (SIB) -Isu akan terjadi tsunami yang melanda Kepulauan Nias, Sumatera Utara, meresahkan warga. Akibatnya, tidak sedikit yang mengungsi ke lokasi lebih tinggi karena takut akan terjadi bencana tersebut.

Warga Kota Gunungsitoli, Juli, mengaku sudah mendengar isu air laut surut dan sepanjang pengetahuannya, hal tersebut merupakan pertanda akan terjadi tsunami di Kota Gunungsitoli.

"Kami sudah dengar isunya, dan hari ini kami tidak izinkan anak-anak sekolah karena takut jika benar akan terjadi tsunami," ucapnya sebagaimana dilansir , Kamis (10/1).

Hal yang sama dikatakan Kris warga Desa Lasara, Kota Gunungsitoli, yang mengaku telah mendengar isu tersebut tetapi tetap beraktivitas seperti biasa.

"Pagi ini banyak saya melihat warga yang mengungsi ke desa kami, mereka takut terjadi tsunami dan untuk menyelamatkan diri mereka mengungsi ke daerah yang lebih tinggi," ujarnya.

Dari keterangan resmi yang dikeluarkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Gunungsitoli, Djati Cipto Kuncoro, membantah berita bahwa surut air laut di perairan Sibolga, Sumatera Utara, mengakibatkan tsunami di Kepulauan Nias dan sekitarnya.

BMKG Sibolga, Sumatera Utara, juga tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut, sehingga BMKG Stasiun Geofisika Gunungsitoli menyatakan berita tersebut tidak benar, dan BMKG tidak pernah membuat berita tersebut.

Berita tersebut, menurut dia, hanya isu dan membohongi masyarakat, karena isu tersebut tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas.
Dia menerangkan bahwa fenomena pasang-surut yang terjadi disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari.

Di mana saat ini jarak bulan akan mendekati titik terdekatnya dengan bumi pada 20 Januari 2019.

Sedangkan jarak matahari ke bumi saat ini pada titik terdekatnya pada 3 Januari 2019.

"Sampai saat ini gempa bumi tektonik belum dapat diprediksi secara ilmiah dengan baik dan BMKG Stasiun Geofisika Gunungsitoli akan terus berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah setempat untuk menenangkan warga," katanya.

Sedangkan Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Edison Kurniawan mengatakan setelah mengetahui isu tersebut, pihaknya segera menganalisis rekaman data sinyal seismik di sensor terdekat. Hasilnya tidak ada aktivitas kegempaan di wilayah Tapanuli dan sekitarnya.

"Hasil pengamatan stasiun pasang surut (tide gauge) di Sibolga, Gunung Sitoli, Lahewa, Teluk Dalam, Pulau Tello dan Tanabala, sama sekali tidak ditemukan perubahan gelombang air laut yang signifikan. Melainkan hanya gejala normal pasang surut harian," kata Edison, Kamis (10/1).

Selain itu, kata Edison dari pengamatan lapangan BMKG Pinangsori, Sibolga dan BMKG Nias, tidak didapatkan gejala tsunami.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai isu tsunami yang berkembang dan beraktivitas seperti biasa.

"Namun masyarakat harus tetap waspada dengan selalu memantau informasi resmi yang bersumber dari BMKG. Baik melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi di Instagram, Twitter (@infoBMKG), dan website (www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (iOS dan Android @infobmkg)," pungkasnya.

tidak terpengaruh
Sementara itu Wali Kota Gunungsitoli Ir Lakhomizaro Zebua melalui Sekda Agustinus Zega mengimbau masyarakat tidak terpengaruh informasi tidak jelas yang menduga air laut pasang surut pertanda adanya tsunami.

Pemko juga menginstruksikan para camat agar berkoordinasi dengan Kades serta perangkat terbawah untuk memahamkan masyarakat terkait kabar yang jelas. "Hari ini BMKG stasiun geofisika Gunungsitoli telah mencerahkan informasi bahwa belum ada diperoleh potensi gempa serta tsunami. Masyarakat agar beraktifitas sebagaimana sehari-harinya," papar Agustinus.

Pantauan SIB di pinggir laut Gunungsitoli, seperti pantai taman Yaahowu, pantai kawasan Grand Kartika, pesisir museum dan sepanjang pesisir Jalan Diponegoro, memang ada sedikit fenomena surut, namun sesuai keterangan BMKG bahwa hal itu lumrah disertai alasan ilmiah, masyarakat tidak perlu resah meski harus tetap waspada. (detikcom/A17/BR9/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments