Minggu, 19 Jan 2020

GP Ansor Lapor ke Jokowi Ada Kelompok Radikal Gabung Kontestan Pemilu

Istana: Tidak Ada Ruang Bagi Kelompok Radikal

admin Sabtu, 12 Januari 2019 10:52 WIB
SIB/Ant/Akbar Nugroho Gumay
PRESIDEN BERTEMU GP ANSOR: Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan dengan Pimpinan Pusat dan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor se-Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/1). Pertemuan itu membahas sejumlah kasus-kasus radikalisme
Jakarta (SIB)-Gerakan Pemuda (GP) Ansor melaporkan ke Presiden Jokowi ada kelompok radikal yang terkonsolidasi terkait Pilpres 2019. Kelompok-kelompok itu disebutnya tersebar di Indonesia.

"Saya ajak seluruh pimpinan wilayah seluruh Indonesia dari 34 provinsi datang. Mereka semua melaporkan kepada Presiden situasi yang terjadi di daerah masing-masing," ujar Ketum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas di Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (11/1).

Yaqut menjelaskan hal pertama yang dilaporkan ke presiden yaitu terkait perubahan dan situasi politik. Kedua, soal kelompok radikal. Kelompok radikal yang terkonsolidasi karena kontestasi Pilpres.

Yaqut mengatakan, kelompok radikal itu salah satunya berada di Jawa Barat dan Riau. Mereka disebut menginduk ke salah satu peserta Pemilu.

"Mereka bukan merusak Pemilu, namun mereka menginduk pada salah satu kontestan Pemilu untuk masukkan agenda-agenda mereka," ucapnya.

Namun, Yaqut enggan menyebut kelompok radikal tersebut menyusup ke mana. GP Ansor meminta Jokowi menindak orang-orang yang tergabung dalam kelompok radikal.

"Kami paham pemerintah terbentur dengan UU tak bisa main pecat ASN yang terlibat dalam gerakan khilafah itu. Memutasi pun ada aturannya karena ada UU ASN yang atur," ujar Yaqut.

"Kami minta presiden setelah kontestasi politik selesai, pemerintah segara menindak orang-orang seperti ini yang sekarang ada di institusi pemerintah," imbuhnya.

GP Ansor juga menyampaikan sikapnya untuk melawan kelompok radikal. GP Ansor meminta jangan sampai ada pihak yang ingin mengganti ideologi Pancasila di Indonesia.

"Selama ini kami kami melakukan itu. Coba kalau Banser dan NU tak lakukan itu, mereka akan mudah bersemai. Kawan-kawan tahu kan bagaimana Banser berhadapan dengan kelompok radikal ini," paparnya.

Tak Ada Ruang
Sementara itu, istana menegaskan negara tidak memberikan ruang bagi kelompok radikal.

"Tadi rekan-rekan GP Ansor memberikan masukan kepada presiden atas berbagai situasi saat ini, di antaranya persoalan radikalisme yang perlu jadi perhatian bersama dan atensi bagi presiden," ujar Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Moeldoko hadir dan menemani Jokowi dalam pertemuan dengan GP Ansor. Menurutnya, kelompok radikal tidak boleh diberi ruang berkembang di Tanah Air.

"Contohnya kepada radikal, tetap, kita tidak memberikan ruang kepada kelompok-kelompok radikal. Kita semuanya harus memiliki sikap yang sama. Jadi akan lebih bagus lagi kalau menempatkan radikal sebagai musuh bersama. Karena negara tidak boleh memberi toleransi (kepada radikal)," ujar Moeldoko.

"Begitu diberi toleransi, maka dia akan berkembang. Begitu dia berkembang, ini akan mengganggu anak-anak masa depan bangsa Indonesia," ucap mantan Panglima TNI ini.(detikcom/d)
T#gs Istana: Tidak Ada Ruang Bagi Kelompok Radikal
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments