Selasa, 07 Jul 2020
PalasBappeda
  • Home
  • Headlines
  • Israel Mobilisasi Pasukan Cadangan Tambahan, AS Pasok Amunisi Baru

Israel Mobilisasi Pasukan Cadangan Tambahan, AS Pasok Amunisi Baru

*AS dan PBB Kutuk Pemboman Sekolah di Gaza *Israel Hancurkan Terowongan Hamas Dengan Bom dan Buldozer
Jumat, 01 Agustus 2014 08:27 WIB
SIB/INT
Ilustrasi
Jerusalem (SIB)- Israel memobilisasi 16.000 pasukan cadangan tambahan sehingga total jumlah mereka menjadi 86.000 orang, saat operasi militer di Jalur Gaza terus berlanjut, kata seorang juru bicara militer negara itu, Kamis (31/7). "Militer telah mengeluarkan perintah mobilisasi tambahan 16.000 orang sehingga memungkinkan pasukan di lapangan beristirahat. Dengan demikian, jumlah pasukan cadangan menjadi 86.000 orang," kata juru bicara itu.

Kabinet keamanan Israel, yang mengadakan pertemuan selama lima jam pada hari Rabu, dengan suara bulat memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap "sasaran-sasaran yang terkait dengan teroris" Hamas dan sejumlah operasi lainnya untuk menghancurkan sebuah jaringan terowongan yang digunakan gerakan Islam itu di antara Gaza dan Israel, kata radio publik.

PM Benjamin Netanyahu menegaskan Israel akan menghancurkan terowongan-terowongan milik Hamas di Jalur Gaza “dengan atau tanpa gencatan senjata”. Israel sejauh ini telah menghancurkan 32 terowongan. “Kami harus menghancurkan lusinan terowongan teroris dan komitmen menjalankan misi hingga berakhir dengan atau tanpa gencatan senjata. Karena itu saya tidak akan setuju atas upaya apa pun yang berusaha mengakhiri misi penting militer demi keamanan rakyat Israel,” tegas Netanyahu.

Mobilisasi penambahan pasukan cadangan itu berlangsung saat AS memastikan, pihaknya telah memasok lagi persediaan amunisi buat Israel. Kepastian tersebut terungkap beberapa jam setelah AS mengeluarkan kecaman keras atas serangan Israel terhadap sekolah PBB di Gaza. Militer Israel meminta tambahan amunisi guna mengisi kembali persediaannya yang berkurang pada 20 Juli, kata Pentagon. Departemen Pertahanan AS menyetujui penjualan itu tiga hari kemudian.

"Amerika Serikat punya komitmen terhadap keamanan Israel, dan sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siaga," kata Juru Bicara Pentagon, Laksamana John Kirby. "Penjualan (alat-alat) pertahanan itu konsisten dengan tujuan tersebut." Persediaan Amunisi Cadangan Perang Israel (WRSA-I) diperkirakan bernilai satu miliar dollar AS.

Keputusan memberikan amunisi kepada Israel bisa menyulut kontroversi. Keputusan itu terungkap beberapa saat setelah Washington menyatakan kekhawatiran tentang kematian lebih dari 1.300 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, sejak operasi militer Israel di Gaza dimulai pada 8 Juli.

Kirby mengatakan, Kepala Pentagon Chuck Hagel telah mengemukakan kepada Israel bahwa Amerika Serikat prihatin dengan konsekuensi mematikan dari konflik yang sedang berlangsung itu, dan menyerukan gencatan senjata serta mengakhiri permusuhan.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon, Hagel menyatakan "keprihatinan Amerika Serikat terkait meningkatnya jumlah kematian warga sipil Palestina dan hilangnya nyawa warga Israel, serta situasi kemanusiaan yang memburuk di Gaza." Hagel "menekankan perlunya gencatan senjata kemanusiaan yang mengakhiri permusuhan dan mengarah ke penghentian permanen permusuhan," tambah Kirby.
Kutuk Pemboman Sekolah

Sementara itu Amerika Serikat dan PBB mengutuk pengeboman Israel atas sekolah yang menjadi tempat tinggal pengungsi sipil di Gaza. PBB menyatakan kemarahan terkait serangan pada sebuah sekolah di kamp pengungsi Jabaliya tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan serangan yang menewaskan 16 orang tersebut "keterlaluan". Bernadette Meehan, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS juga mengutuk pengeboman ini. Tetapi dia juga mengutuk "pihak-pihak yang terlibat dalam penyembunyian senjata pada fasilitas PBB di Gaza". Israel mengatakan militernya membalas serangan mortir dari dekat sekolah.

Pemerintah Israel menyatakan akan menyelidiki kasus pengeboman sekolah di Gaza. Jika militer Israel terbukti melakukannya, pemerintah Israel akan meminta maaf. Berbicara kepada BBC, juru bicara pemerintah Israel, Mark Regev mengatakan: “Kami punya kebijakan—kami tidak menargetkan warga sipil.” “Kami akan menyelidikinya. Dan jika kami menemukan bahwa itu tembakan dari Israel, pasti kami akan meminta maaf,” kata Regev.

Menurutnya, belum jelas apakah pengeboman terhadap satu sekolah PBB di Gaza merupakan aksi militer Israel. ”Yang kami tahu pasti ada tembakan permusuhan yang dilancarkan terhadap pihak kami dari area sekolah itu.” Regev kemudian menuding Hamas menyembunyikan senjata di fasilitas publik dan tempat penampungan PBB. ”Kami tidak ingin melukai warga sipil Gaza yang tidak berdosa. Itu bukan niatan kami.”

Pada Rabu (30/7), Israel melancarkan serangan ke sekolah PBB di Gaza yang menampung pengungsi walau sudah diperingatkan lebih dari 3.000 warga sipil yang berlindung di sana. Akibat serangan militer ini, sedikitnya 16 orang warga sipil tewas.

Seorang juru bicara Badan PBB, UNRWA, Chris Gunness, mengatakan anak-anak dibunuh ketika mereka sedang tidur bersama orangtuanya di ruang kelas di Jabaliya yang jadi tempat penampungan pengungsi. Dia menambahkan Israel sudah diberitahu sampai 17 kali kalau sekolah itu dihuni penduduk sipil yang mengungsi.

Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan 106 orang tewas hari Rabu sehingga membuat jumlah korban tewas keseluruhan 1.336 orang. Sebagian besar warga sipil. Sekitar 58 warga Israel tewas, 56 tentara dan dua warga sipil. Seorang pekerja Thailand di Israel juga tewas.

Sementara Pemerintah Skotlandia akan menyediakan dana 500.000 Poundsterling untuk bantuan kemanusiaan di Gaza. Dana itu akan diambil dari anggaran dana bansos nasional. Seperti dilansir BBC, Kamis (31/7), Menteri Urusan Eksternal Skotlandia Humza Yousaf menyebut uang tersebut akan dialokasikan untuk penyediaan saluran air, makanan, rumah, serta bantuan medis. Ini diberikan karena telah lebih dari 1.300 orang tewas (kebanyakan warga sipil) akibat invasi Israel terhadap militan Hamas.

Yousaf juga berharap masyarakat internasional turut memberikan bantuan seperti Skotlandia. Tetapi hal yang paling penting adalah melakukan upaya mendorong rekonsiliasi agar korban berjatuhan tidak semakin banyak. "Meningkatnya kekerasan di Gaza telah menyebabkan terlalu banyak nyawa yang hilang dan orang-orang yang akan terluka," ujar Yousaf.

Menurut dia PBB telah menyerukan kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata. Tetapi menurut Yousaf masih ada hal yang harus diluruskan. "Serangan roket oleh militan di Gaza yang salah, dan harus berhenti. Namun respon Israel telah sangat tidak proporsional seperti yang ditunjukan oleh hilangnya nyawa masyarakat sipil dan ini tak dapat tergantikan," tegas Yousaf.

Di tengah krisis berkepanjangan di Gaza, rupanya bantuan kemanusiaan dinilai menurun. Itulah sebabnya Skotlandia berniat untuk menggelontorkan dana bansos. "Ada juga bukti bahwa peningkatan situasi kemanusiaan terus memburuk dan itulah sebabnya pemerintah Skotlandia menyediakan dana 500.000 Poundsterling untuk membantu PBB menyediakan air, makanan, tempat tinggal dan bantuan medis yang dibutuhkan orang di Gaza," papar Yousaf. Sementara itu Kerajaan Inggris juga akan menambahkan dana bantuan tersebut sebesar 3 juta Poundsterling. Dengan demikian total bantuan yang akan diberikan menjadi 3,5 juta Poundsterling.

Hancurkan Terowongan
Militer Israel saat ini menjalankan misi menghancurkan seluruh terowongan milik milisi Hamas. Untuk itu, militer Israel melancarkan serangan ke beberapa tempat, bahkan tempat publik, sehingga banyak korban jiwa dalam serangan itu. Setelah tank Israel meninggalkan lokasi terowongan, barulah militer Israel mulai bekerja.

Tentara Israel menghancurkan sebuah rumah yang menutupi lokasi terowongan. Kemudian, tentara Israel menggali lubang sedalam 3 meter untuk mengetahui bagian dalam lorong terowongan. Dibutuhkan beberapa hari untuk meretas belasan lorong menuju terowongan, yang salah satunya tersembunyi di bawah rumah warga.

Seperti dikabarkan TvOne, selain menggunakan buldozer, militer Israel menjatuhkan peledak untuk menghancurkan terowongan tersebut. Hal itu sesuai dengan misi Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu untuk menghancurkan jaringan terowongan Hamas, sepanjang perbatasan timut Jalur Gaza.
Dalam perburuan terowongan milik Hamas, tentara Israel tetap berjaga-jaga untuk mengantisipasi anggota Hamas yang mungkin muncul. Israel tidak menurunkan tentaranya ke dalam terowongan karena dikhawatirkan ada jebakan.

Untuk menyelidiki bagian dalam lorong akses terowongan, pihak militer Israel menggunakan anjing pelacak dan robot. Ditemukan sekira 32 terowongan, beberapa di antaranya dengan kedalaman 25 meter. Selain itu, militer Israel juga menemukan belasan lorong akses menuju terowongan tersebut.  (Detikcom/AP/R15/A23/f/d)
T#gs Israel
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments