Selasa, 18 Feb 2020
  • Home
  • Headlines
  • Indonesia Penerima Panggilan Telepon Spam Terbanyak ke-3 di Dunia

Indonesia Penerima Panggilan Telepon Spam Terbanyak ke-3 di Dunia

redaksi Minggu, 08 Desember 2019 11:23 WIB
inet.detik.com
Ilustrasi
Jakarta (SIB)
Truecaller, aplikasi pemblokir spam, merilis Truecaller Insight Report 2019. Dalam laporan tersebut disebutkan Indonesia menjadi negara paling banyak ketiga dalam menerima panggilan telepon spam di dunia.

Dibandingkan 2018 lalu, ini adalah lompatan yang signifikan karena saat itu Indonesia masih berada di peringkat ke-16 dalam hal penerimaan panggilan spam. Di Asia Tenggara sendiri, Indonesia adalah negara dengan panggilan spam terbanyak, dengan jumlah panggilan spam sebanyak 27.9 setiap bulannya.

Padahal pada 2018 lalu jumlah panggilan spam tiap bulannya hanya 8,5 kali. Telepon dari bank, layanan finansial, dan broker asuransi merupakan sumber spam terbesar, berkontribusi sekitar 64% dari semua panggilan spam.

Yang lebih mengkhawatirkan, jumlah penipuan (scam) lewat telepon meningkat dua kali lipat sejak tahun lalu, dari 10% menjadi 21% - ini berarti 1 dari 5 panggilan spam merupakan penipuan. Penipuan semacam ini seringkali memanfaatkan momen seperti kerusuhan dan aksi demonstrasi yang terjadi beberapa waktu lalu.

Salah satu penipuan yang kerap terjadi belakangan ini adalah telepon palsu dari rumah sakit. Mereka memberitahu Anda bahwa ada anggota keluarga atau teman yang masuk ke rumah sakit dan membutuhkan perawatan medis segera. Lalu, Anda akan dimintai uang untuk membayar perawatan tersebut.

Selain itu, ada pula penipuan 'wangiri' atau 'one ring' yang umum terjadi di Indonesia. Penipu akan mencoba meninggalkan panggilan tidak terjawab (missed call) berulang kali dari nomor telepon internasional ke ponsel korban. Jika korban menelepon balik nomor tersebut, mereka akan dialihkan ke layanan tarif premium yang mahal, dimana penipu akan mendapat keuntungan dari tarif tersebut.

Truecaller Insights Report 2019 juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-10 sebagai negara penerima SMS spam terbanyak di dunia. Rata-rata, satu orang Indonesia menerima 46 SMS spam setiap bulan. Tiga negara dengan jumlah SMS spam terbanyak di dunia semuanya berasal dari Benua Afrika, yaitu Ethiopia (119), Afrika Selatan (114), dan Kenya (102).

Negara tetangga Malaysia adalah negara penerima spam terbanyak kedua di Asia Tenggara. Malaysia menempati posisi ke-19 untuk penerima panggilan spam dan posisi ke-15 untuk penerima SMS spam terbanyak di dunia. Dibandingkan dengan Indonesia, orang Malaysia rata-rata hanya menerima 8,3 panggilan spam dan 24 SMS spam setiap bulan.

Namun, laporan Truecaller mengungkapkan bahwa Malaysia mencatatkan persentase panggilan penipuan tertinggi di dunia. Sekitar 63% panggilan spam di Malaysia bersifat penipuan, sebagian besar terkait dengan asuransi palsu dan panggilan penagih utang. Negara-negara lain yang paling banyak menerima panggilan scam adalah Australia (60%), Lebanon (49%), dan Kanada (48%).

"Seperti yang terlihat dalam laporan kami dari tahun ke tahun, angka penipuan melalui telepon maupun SMS terus meningkat secara signifikan di Indonesia. Saat ini, ponsel memang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kegiatan sehari-hari, namun oknum yang tidak bertanggung jawab justru menggunakan kesempatan ini untuk melakukan penipuan dengan mengelabui masyarakat umum. Karena itulah, di Truecaller, kami sangat bangga bisa membantu lebih dari 420.000 pengguna aktif harian di Indonesia untuk melindungi mereka dari panggilan scam," kata Kim Fai Kok, Director of Communications Truecaller dalam keterangan yang diterima.

Truecaller Insights Report 2019 dikompilasikan secara anonim dari panggilan masuk yang ditandai sebagai spam oleh pengguna - atau secara otomatis ditandai oleh Truecaller selama periode 1 Januari 2019 hingga 30 Oktober 2019, untuk memahami tingkat spam rata-rata bulanan. Truecaller sendiri saat ini sudah diinstal lebih dari 500 juta kali dengan 150 juta pengguna aktif di seluruh dunia. (Detikinet/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments