Minggu, 20 Sep 2020

Gubernur SU: Corona Seperti Jelangkung

* Tak Diundang Dia Datang, Orang Jadi Stres
redaksisib Rabu, 01 Juli 2020 09:36 WIB
karirpad

Ilustrasi

Medan (SIB)
Gubernur Sumatera Utara (SU) Edy Rahmayadi berbicara soal penyebaran virus Corona yang disebutnya belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Edy mengumpamakan Corona seperti jelangkung yang datang tak diundang.

"Khusus untuk Sumatera Utara udah 3 bulan. Belum ada tanda-tanda Corona meninggalkan tempat. Saya kadang berpikir, kenapa Corona betah sekali sama kita ini. Corona ini seperti jelangkung, tak diundang dia datang dan pergi pun tak kita antar nanti," kata Edy dalam temu ramah wartawan di rumah dinas Gubsu, Medan, Selasa (30/6).

"Sebenarnya Corona ini cuma-cuma. Tapi begitu sulitnya, orang stres karena Corona ini," sambung Edy.

Mahluk Tuhan
Edy Rahmayadi mengatakan yang bisa mengatasi Covid-19 ini harus semua pihak mau bekerjasama, tidak bisa satu per satu, termasuk rakyat sendiri. "Kalau hanya Posko Gugus Tugas Covid-19 Sumut ini saja yang melawannya, tapi rakyat tidak peduli maka virus ini tidak akan selesai. Hanya Tuhan yang bisa mengatasi corona ini, namun di lapangan kita harus bersama mendukung dan mencegahnya," katanya.

Mantan Pangkostrad ini mengatakan, saat ini sedang masa transisi new normal. Draf new normal sudah dikirim ke Jakarta dan dalam waktu dekat, penerapannya akan diberlakukan di Sumut.

"Seluruh pakar sudah saya ajak duduk, dari pakar ekonomi, budaya, kesehatan, psikologi, anak dan kami mengharapkan, setelah pemerintah di Sumut dapat menerapkan new normal. Masyarakat juga wajib mematuhi aturannya. Mari sama-sama mencegah penyebaran Covid 19," imbaunya.

Dia menyebut, kondisi saat ini ada yang senang dengan kehadiran virus corona ini. Tapi paling banyak pihak yang sengsara. "Misalnya, ada yang senang ingin selalu di rumah dan mendapatkan bantuan. Bebas di rumah dan menerima bantuan. Ada juga yang susah karena dagangannya atau penjualannya menurun," katanya.

Edy menyebut, dirinya selalu memperhatikan, bagaimana perkembangan penyebaran Covid-19 di Sumut. "Saya coba perhatikan corona ini, mahluk Tuhan yang sebenarnya menyengsarakan umat yang lain. Tapi kita sama-sama mahluk Tuhan. Tuhan yang menciptakan corona, Tuhan yang menciptakan kita. Tapi kita telah lelah menghadapi corona ini. Semoga corona ini segera berakhir. Namun, sambil menunggu itu, kita semua harus menerapkan protokol kesehatan," katanya.

Untuk itulah, dirinya meminta seluruh elemen pemerintah, swasta dan masyarakat bersama-sama mencegah penyebarannya.

"Corona sudah sekitar lima bulan di Indonesia, khusus untuk Sumut sudah tiga bulan. Namun belum ada tanda-tanda corona ini meninggalkan tempat. Untuk itulah, kita semuanya harus bersama-sama mencegah penyebaran, caranya menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir," katanya.

Kritik Kinerja Anak Buah
Edy Rahmayadi juga mengkritik kinerja anak buahnya. Dia kemudian mengungkit Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang marah kepada para menteri soal kinerja.

Edy awalnya bicara potensi pertanian di Karo yang terkendala tanah rusak akibat penggunaan pupuk tertentu. Edy menilai hal tersebut membuat petani malah susah.

"Petani susah. Kita butuh pemeliharaan-pemeliharaan tertentu sehingga nanti dia harus ada pabrik pupuk organik di situ. Itulah stimulus, itulah kehadiran pemerintah," kata Edy.

Namun, kata Edy, kehadiran pemerintah membantu petani di Karo itu malah terkendala aturan. Jika pengadaan pabrik pupuk yang bersifat hibah itu tak sesuai aturan, hal tersebut bisa bermasalah nantinya.

"Tapi susahnya saya di situ, saya komunikasi karena adanya undang-undang di daerah, itu kan harus diaminkan oleh bupati.

Bentuknya hibahkah. Kalau salah tak mau buka keran, saya juga tak bisa, aturan-aturan, mainkan-mainkan, ternyata tak bisa dimainkan (dieksekusi)," ucap Edy.

Edy lalu mengungkit soal Presiden Jokowi yang mengungkapkan kekesalan terhadap kinerja menterinya. Menurutnya, Jokowi marah karena ada menteri yang malah membuat aturan pelaksanaan suatu program sulit mengalir hingga tingkat bawah.

"Kalau Anda lihat semua Presiden sampai marah itu sama menteri-menterinya. Kenapa? Menterinya megang aturan, dengan aturan itu begitu susah ngalir ke bawah," ucap Edy.

Meski demikian, Edy menyebut aturan tersebut harus dipatuhi agar tidak terseret kasus hukum dan mencontohkan soal kasus Bank Century. Dia berharap aturan bisa diperbaiki agar kinerja pemerintah lebih mudah.

"Sri Mulyani hari itu urusan dengan Century. Century itu kan maunya itu sebenarnya, tapi kan saat itu harus, tapi begitu dibawa ke ranah hukum kan kacau. Itulah yang dipegang, sebenarnya aturan itu yang harus dibenahi," tuturnya.

Melayat
Sementara itu, secara terpisah dilaporkan, jumlah pertambahan kasus positif berdasarkan hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali melonjak dan menembus angka 1.551 kasus hingga Selasa (30/6).

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut dr Aris Yudhariansyah MM menyampaikan jumlah kasus positif Covid-19 telah mengalami peningkatan 71 kasus. "Sehingga totalnya hari ini menjadi 1.551 kasus," kata Aris.

Peningkatan terbilang banyak juga pada ODP yakni 319 orang. Sebelumnya angka ODP ini hanya 1.071 kini sudah mencapai 1.390 orang. PDP jumlahnya turun 16 kasus dari 228 menjadi 212. Pasien yang meninggal, angkanya tidak berubah di angka 92 orang.

"Tapi kita patut bersyukur hari ini terdapat lima orang lagi penderita Covid-19 yang dinyatakan sembuh. Sehingga totalnya kini 405 orang," rinci Aris Yudhariansyah yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut.

Dari data ini, terang Aris, sudah ada 28 kabupaten/kota di Sumut yang telah terpapar Covid-19. Menurutnya, hal ini menggambarkan bahwa disiplin kepatuhan untuk menjalankan protokol kesehatan belum baik.

"Di pasar adalah tempat yang paling rawan untuk terjadi penularan. Karenanya gugus tugas telah bekerjasama dengan OPD untuk melakukan sosialisasi tentang protokol kesehatan agar dipastikan semua pengunjung dan penjual di pasar bisa menjalankan protokol kesehatan dengan baik," terangnya.

Aris juga menyampaikan kesehatan adalah harta yang terpenting terutama di masa pandemi ini. Pemerintah, kata dia, sebetulnya sudah lama mempromosikan pola masyarakat hidup sehat yang disebut Germas. Komponen pertama pada Germas ini, adalah melakukan olahraga, karena dianggap dapat mengoptimalkan daya tahan tubuh. "Namun di masa pandemi Covid-19, olahraga harus disesuaikan dengan tingkat resiko,dan resiko rendah terhadap kemungkinan terpapar virus corona adalah melakukan olahraga di rumah," ungkapnya.

Sedangkan resiko tinggi, lanjut dia, apabila olahraga dilakukan di tempat umum dan berkelompok serta menggunakan peralatan yang bergantian. Apabila mempunyai penyakit seperti diabetes, hipertensi, gangguan paru, gangguan ginjal atau penyakit auto imun dan yang sedang hamil sebaiknya hindari olahraga tipe ini. "Namun dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru (new normal), olahraga yang dilakukan bersama dan menggunakan sarana umum akan mulai meningkat kembali," tuturnya.

Aris mengaku memang mempersilahkan hal itu dilakukan, asalkan harus tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19. "Seperti, olahraga dilakukan tanpa berpindah tempat atau olahraga dilakukan dengan posisi sejajar dan berjarak dua meter," ujarnya.

Akan tetapi bila olahraga dilakukan dengan berjalan kaki berjarak, jarak yang harus dilakukan dengan orang di depannya ialah kurang lebih lima meter. Selanjutnya bila berlari agar berjarak sejauh 10 meter, kemudian untuk yang bersepeda berjarak 20 meter dengan orang yang berada di depannya.

"Setelah berolahraga pastikan untuk selalu mencuci tangan, mandi, ganti pakaian, bersihkan seluruh alat olahraga dan barang bawaan seperti handphone, kacamata, tas dan barang lainnya dengan cairan disinfektan. Karena tujuan olahraga itu adalah untuk sehat dan badan kita kuat, sehingga kita lawan Covid-19 dengan kekebalan tubuh yang prima," pungkasnya. (detikcom/M11/M17/d)
T#gs CoronaGubernur Sumatera Utara (SU) Edy RahmayadiSeperti JelangkungTak DiundangheadlineMedan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments