Minggu, 18 Agu 2019
  • Home
  • Headlines
  • Gubernur Kalbar Panggil 94 Perusahaan Terkait Karhutla

Gubernur Kalbar Panggil 94 Perusahaan Terkait Karhutla

* Kabut Asap di Palangka Raya, Sekolah Diliburkan * PT SSS Jadi Tersangka Kasus Karhutla karena Lalai Awasi Lahan
admin Selasa, 13 Agustus 2019 10:41 WIB
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji
Pontianak (SIB) -Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji, akan memanggil 94 pengusaha yang di sekitar lahan usahanya terdapat kebakaran hutan. Gubernur akan minta klarifikasi dan tanggung jawab perusahaan jika terlibat kebakaran hutan.

"Ke-94 perusahaan ini terdiri dari 56 perkebunan, 38 Hutan Tanam Industri. Mereka kita panggil karena di sekitar kawasan konsesi yang mereka kelola terdapat titik api," kata Sutarmidji di Pontianak, yang dikutip dari Antara, Senin (12/8).

Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut dari maraknya pembakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalbar. Sebelumnya Gubernur Kalbar Sutarmidji menyatakan akan memanggil perusahaan yang terindikasi melakukan pembakaran lahan.

"Kalau yang datang sekelas staf, akan kita suruh pulang. Kita mau ini cepat diatasi, makanya, sekelas manager atau pegawai yang bisa mengambil kebijakan yang akan kita panggil," tuturnya.

Dia menyatakan, akan tegas terhadap aturan. Jika memang terbukti lahan itu sengaja dibakar, pihaknya akan membekukan izin perusahaannya. Menurut Sutarmidji, jika kebakaran lahan terjadi dalam radius 2 kilometer di sekitar perusahaan, maka perusahaan tersebut berkewajiban untuk memadamkan apinya.

"Setelah pertemuan ini, kita akan berikan perusahaan-perusahaan ini kesempatan untuk mengklarifikasi hal ini dalam waktu 3x24 jam dan akan kita dengar alasan mereka. Jangan enak saja membakar lahan, yang repot kita, karena yang sakit masyarakat akibat udara tak sehat," tuturnya.

Kabut Asap
Sementara itu, BMKG Pontianak, memantau adanya 1.124 hotspot atau titik panas yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalbar. Titik panas paling banyak ada di Kabupaten Sanggau.

Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Erika Mardiyanti di Sungai Raya, menyatakan, titik panas tersebut, berdasarkan pengolahan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dari 11 hingga 12 Agustus 2019. Dari data LAPAN itu, titik panas terbanyak di Kabupaten Sanggau, yakni 308 titik panas.

Sementara itu, di tempat terpisah Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyatakan, pihaknya berencana akan memundurkan jam belajar tanpa meliburkan aktivitas belajar di kota itu karena dampak kabut asap akibat karhutla.

"Kami akan memantau terus perkembangan kondisi udara, sebab kondisi asap masih belum stabil antara pagi, siang dan malam," kata Edi yang dilansir Antara, Senin (12/8).

Dia menjelaskan, pihaknya akan melihat situasi sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, jika pagi hari kondisi asap sangat pekat jam belajar akan dimundurkan tanpa meliburkan siswa sehingga aktivitas belajar mengajar tetap berjalan.

Pihaknya juga akan mengurangi jam belajar siswa di sekolah bila kondisi udara masih diselimuti asap. Namun apabila kualitas udara sudah masuk kategori sangat tidak sehat, maka aktivitas belajar mengajar siswa di sekolah akan diliburkan.

"Harapan kita mudah-mudahan tidak berdampak pada aktivitas pendidikan karena sangat merugikan kita semua," tutur Edi.

Sekolah Diliburkan
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Senin meliburkan kegiatan sekolah. Upaya itu dilakukan karena kabut asap di kota tersebut makin pekat.

"Sementara sekolah hari ini diliburkan. Bagi mereka yang terlanjur berangkat dapat kembali belajar mandiri di rumah," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Sahdin Hasan, yang dilansir Antara, Senin (12/8).

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya bersama instansi terkait lainnya terus memantau dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kebijakan itu dikeluarkan untuk mengantisipasi dampak kabut asap.

"Jika nanti udara diketahui tidak sehat, apalagi membahayakan siswa, maka dimungkinkan sekolah akan kami liburkan," kata Sahdin, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Lalai Awasi Lahan
Sementara itu, perusahaan perkebunan sawit, PT SSS, menjadi tersangka korporasi di kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Polisi menetapkan tersangka ke PT SSS karena lalai mengawasi lahan mereka.

"Dalam hal ini kelalaian mereka. Jadi lahan yang sekian ribu hektare itu dibiarkan, tidak diawasi, tidak dirawat, sehingga terjadi kebakaran," jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dedi menambahkan, pihaknya masih melakukan pendalaman untuk menggali jenis kelalaian yang dilakukan perusahaan tersebut. Dia menjelaskan, tidak tertutup kemungkinan penetapan tersangka akan dilakukan ke jajaran direksi hingga karyawan.

"Nanti akan dicek semua tingkat kelalaiannya di mana, apakah mulai direksi sampai karyawan tidak peduli terhadap lahan yang menjadi tanggung jawab dan kontrol dia. Kalau memang terbukti, ya, nanti tidak menutup kemungkinan dari mulai direksi sampai karyawan yang bertanggung jawab mengontrol lahan tersebut bisa dijadikan tersangka," sambung Dedi.

Dedi menerangkan, 15 saksi, dari direksi sampai karyawan, telah dimintai keterangan soal sejauh mana kegiatan kontrol mereka terhadap lahan dan seperti apa prosedur pengawasan lahan.

"Ini sudah dimintai keterangan 15 orang, mulai dari direksi kemudian layer di bawahnya sampai dengan karyawan. Sampai sejauh mana kontrol mereka terhadap lahan menjadi tanggung jawab mereka. Kan sudah ada pembagian-pembagiannya, sudah ada SOP-nya," terang Dedi.

Polda Riau menetapkan perusahaan perkebunan sawit PT SSS sebagai tersangka dalam perkara kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan tersebut berada di Kabupaten Pelalawan.

"Kami sudah tetapkan tersangka korporasi PT SSS, saya sebutkan inisial," kata Kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo, saat jumpa pers di lokasi Karhutla, di Pekanbaru, yang dikutip dari Antara, Jumat (9/8). (detikcom/d/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments