Kamis, 06 Agu 2020
  • Home
  • Headlines
  • Gubernur Edy Bentuk Tim Tutup Pertambangan Liar di Madina

Diduga Sebabkan Bayi Lahir Cacat,

Gubernur Edy Bentuk Tim Tutup Pertambangan Liar di Madina

redaksi Rabu, 20 November 2019 09:11 WIB
Sib/Doc
Edy Rahmayadi

Medan (SIB)
Maraknya aktivitas pertambangan liar di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) diduga kuat menjadi penyebab terjadinya sejumlah bayi di daerah itu lahir dengan tubuh cacat. Sebab pertambangan liar itu menggunakan zat kimia, yaitu merkuri dan limbahnya dibuang ke sungai di daerah itu. Penambangan liar itu sudah berlangsung lama dan saat ini masih berlangsung.


Bupati Madina Dahlan Nasution dalam suratnya ke Gubernur Sumut Edy Rahmayadi melaporkan, sedikitnya ada 5 orang bayi di Madina yang lahir cacat diduga dampak aktivitas pertambangan liar itu. Sementara berdasarkan catatan Pemkab Madina, jumlah bayi cacat 6 orang.


Namun menurut Gubernur Edy, jumlah bayi cacat karena aktivitas pertambangan liar itu sudah 12 orang. Gubernur Edy tampak geram dengan persoalan itu. Dia mengatakan telah membentuk tim untuk menutup aktivitas pertambangan ilegal tersebut. "Saya bentuk tim dan itu tolong wartawan membantu apakah kalian tak kasihan melihat anak-anak korban seperti itu.

Anak kita sudah 12 orang seperti itu, tolong kasihanilah," sebut Edy menjawab wartawan usai penyerahan DIPA di Aula Raja Inal Siregar Lantai 2 Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro Medan, Selasa (19/11)
Gubernur Edy menyebutkan aktivitas pertambangan liar di Madina itu menggunakan merkuri. Karenanya aktivitas pertambangan itu harus dihentikan.


Disinggung mengapa baru sekarang diseriusi penutupan mengingat tambang liar di Madina itu? Gubernur Edy mengatakan, tidak tahu.


Karena tidak tahu, dia mencari informasi. "Karena saya tidak tahu seperti itu, saya cari dua hari yang lalu saya dapatkan itu, makanya saya perintahkan kemarin saya kumpul Forkopimda, saya perintahkan berhenti. Harus segera sehingga rakyat kita terselamatkan," tegasnya.


Apakah penutupan tambang ilegal itu dilakukan menyeluruh untuk semua perusahaan tambang di Madina? Menurut Edy bukan begitu. "Kalau dia legal pasti Amdal sudah dilakukan. Kalau ilegal itulah sembarangan dia lakukan itu," jelasnya.


Sebelumnya, Bupati Madina, Dahlan Nasution, menyebutkan sedikitnya di wilayahnya ada 5 orang bayi lahir (di laporan 6 bayi) dalam kondisi di luar kewajaran atau cacat dalam 2 tahun belakangan ini (dalam laporan 5 tahun).


Berdasarkan dugaan para dokter, sebut Dahlan Nasution, 5 orang bayi cacat itu merupakan dampak dari maraknya pertambangan liar di kabupaten tersebut.


Untuk itu, semua pihak diminta Dahlan untuk menutup aktivitas pertambangan liar itu. Hal itu disampaikan Dahlan Nasution dalam suratnya Nomor 005/3057/TUPIM/2019 tertanggal 15 November 2019 kepada Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi.


Bahkan berdasarkan pengakuan beberapa ibu dari bayi cacat itu, sebut Dahlan, bahwa mereka saat hamil aktif bekerja di mesin pengolahan (galundung) menggunakan zat kimia sebagai tukang pencet (memisahkan batu halus). Sementara para ibu hamil itu tidak menggunakan sarung tangan.


Pemakaian zat kimia dalam pertambangan ilegal itu, kata Dahlan, berdampak buruk bagi kesehatan karena mencemari lingkungan air permukaan, air bawah tanah, maupun pertanian/perkebunan rakyat
Kemudian mesin pengolahan galundung antara 700 unit hingga 1.000 itu, kerap dioperasikan bersebelahan dengan rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah, rumah-rumah warga maupun di seputaran lahan pertanian/perkebunan. (M11/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments