Selasa, 10 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Gerindra Gaungkan 2019PrabowoPresiden, PPP: Redakan Ketegangan

Gerindra Gaungkan 2019PrabowoPresiden, PPP: Redakan Ketegangan

* Aksi GantiPresiden Ingin Bikin Kontrak Politik dengan Prabowo-Sandi
Rabu, 05 September 2018 11:25 WIB
Jakarta (SIB)- Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani menyambut baik jika hastag 2019GantiPresiden berubah menjadi 2019PrabowoPresiden. Arsul menyebut masyarakat harus membangun kompetisi yang beradab.

"Bagus, kita itu harus membangun kompetisi yang beradab, tidak provokatif. Kita ini kan semua sudah tahu yang akan berkontestasi adalah Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma'ruf. Ya sudah hastagnya di sekitar itu saja," kata Arsul kepada wartawan di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

"Boleh 2019PrabowoPresiden atau 2019Jokowiduaperiode, ya sudah itu saja jadi tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan," sambungnya.

Sekjen PPP itu minilai jika ada konflik masyarakat karena hastag 2019GantiPresiden sulit diselesaikan, berbeda dengan konflik antarparpol. Arsul mencontohkan saat Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyinggung mengenai IQ komunal Timses Jokowi.

"Contoh ketika Pak Mardani bilang IQ 80 kemudian saya tanggapi, ya sudah selesai di situ karena tiap hari ketemu kalau parpol entah di DPR, DPRD. Kalau relawan bagaimana mau ketemunya?" kata Arsul.

Selain itu, Arsul menekankan penggunaan hastag 2019GantiPresiden tidak melanggar hukum. Namun yang menjadi masalah, lanjutnya, hastag itu berubah menjadi forum dan dalam forum itu menyebarkan fitnah maupun hoax sehingga mengakibatkan perpecahan.

"Tapi kan hastag itu tidak hanya dipasang, itu dioperasionalkan dalam bentuk pertemuan atau forum yang ada konsentrasi massa. Begitu ada konsentrasi massa kemudian ada yang menolak, kemudian dalam konsentrasi massa itu ada pembicaraan hate speech, ujaran kebencian, fitnah, hoax itukan problemnya. Masalahnya bukan di hastag tapi di forum itu," kata Asrul.

Sebelumnya, Gerindra menginisiasi hastag 2019PrabowoPresiden yang dimaksudkan untuk mempertegas hastag 2019GantiPresiden. Gerindra ingin suasana sejuk.

"Ini merupakan upaya kami untuk menyejukkan suasana di kalangan masyarakat. Kami mencoba pertegas esensi dari gerakan hastag 2019GantiPresiden," kata Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan, Selasa (28/8).

Bikin Kontrak Politik
Sementara itu, gerakan tagar ganti presiden sampai saat ini belum mendeklarasikan dukungan ke oposisi petahana Presiden Joko Widodo, yaitu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Deklarator gerakan itu, Mardani Ali Sera, menyebut mereka hendak membuat kontrak politik dengan Prabowo-Sandi.

"Tergantung sepakat apa tidak temen-temen di ganti presiden dan Pak Prabowo-Sandi mau atau tidak melakukan kontrak politik," ujar Mardani di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut Mardani, massa gerakan tagar ganti presiden punya suara signifikan. Suara dari gerakan tersebut diklaim bisa menambah perolehan elektabilitias Prabowo-Sandi.

Mardani memberi contoh kontrak politik yang akan diterapkan. Isinya, lanjut Mardnai, bersinggungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

"Kami lagi buat. Contoh emak-emak gampang, pokoknya kalau Pak Prabowo jadi, harga telur Rp 11 ribu, gitu loh, riil. Kalau Pak Prabowo jadi, listrik 2.000 ke bawah disubsidi. Sekolah gratis sampai ke sepatu, tas, pakaiannya. Emak sih sederhana aja," urai Mardani.

Meski nantinya akan mendukung Prabowo-Sandi, Mardani tak bisa memastikan ada perubahan nama tagar. Yang pasti, sebut Ketua DPP PKS itu, konten dari acara gerakan tagar ganti presiden akan disesuaikan dengan arah dukungan ke capres-cawapres.

"Kalau nama tagar mungkin agak susah dievaluasi, tetapi konten dan arahnya bisa kita diskusikan," jelas dia.

Mardani membeberkan mengapa gerakan ini belum solid ke satu paslon. Menurut Mardani, para pendukung gerakan merupakan massa beberapa tokoh.
"Pendukung ganti presiden ini pendukung Pak Prabowo, ada pendukung Ustaz Abdul Somad, ada pendukung Gatot, ada pendukung Rizal Ramli, ada pendukungnya Habib Rizieq, banyak. Nah ini belum solid," pungkas dia. (detikcom/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments