Senin, 16 Sep 2019
  • Home
  • Headlines
  • Festival Tao ( Danau ) Toba : “ From Pulo Samosir To Toba Samosir “

Festival Tao ( Danau ) Toba : “ From Pulo Samosir To Toba Samosir “

* Oleh : Parulian Tigor Hamonangan Damanik
Minggu, 14 September 2014 10:35 WIB
Kata-  Tapanuli, berasal dari  : “ Tapian Na Uli “. Tapian = tepi/tepian , Na = Yang/nan  dan Uli   =  Cantik/Indah. Artinya,  sebuah tempat/lokasi  nan indah,  megah dan permai , terletak  di tepian  (Tao ) Danau Toba.

Syair lagu berjudul : “ Dekke Na Ni Ura “ ( Ikan Yang Di Ura = biasanya  ikan mas ,  dimasak pakai asam dan garam dengan  bumbu-bumbu  khas Tapanuli  ) mana , jika diterjemahkan , memiliki arti :

”Matang meski  tanpa dimasak  dengan menggunakan api. Asam dan garamlah yang membuat ikan menjadi matang.  Alangkah enak dan nikmat  rasanya ikan mas yang di ura , terlebih  jika disantap  di  Toba ( lokasi/tempat )   Nan Indah dan Permai , ditepian Danau Toba”.

Festival Tao Toba ( Festival Danau Toba )  : From Pulo Samosir to Toba Samosir ( Tobasa) . Sebelum itu ,  di 2013 lalu , Festival Danau Toba ( FDT  ) dilaksanakan di Pulo/Kabupaten  Samosir selama tujuh hari ( 8 September 2013 -14 September 2013).

Di 2014 ini , Kabupaten Tobasa yang beribukota Balige dan yang diistilahkan sebagai  “ Toba Holbung”  ( kota Toba nan megah dan permai ) mendapat giliran/kepercayaan   untuk menggelar FDT  selama  lima hari ( 17 September 2014 - 21 September 2014).

Jika mencoba melongok agak jauh ke belakang , Kabupaten Tobasa merupakan kabupaten pemekaran dari  Kabupaten Tapanuli Utara yang ber-ibu kota Tarutung.

FDT  :  Diantara Pesimisme, Retorisme dan Optimisme
Dari tahun ke tahun, sejak  PDT ( Pesta Danau Toba ) digelar tahun 1969 dan terhitung  sejak 2013 ketika dilaksanakan di Kabupaten Samosir  berubah nama/istilah  menjadi FDT,  terkesan , selain waktu pelaksanaannya yang begitu sangat singkat dan acara-acaranyapun begitu-begitu saja , sepertinya FDT hanya sekadar  melaksanakan kegiatan rutinitas tahunan belaka nan berbau retorisme.

Ma’af, bukan bermaksud  hendak merendahkan dan membuat rasa pesisime, seolah memvonis FDT hanya sekadar beramai-ramai sejenak, namun bagaimana “what next” ( tindak lanjut )-nya sepertinya pesimis dan kurang terarah.

Bak sekawanan  burung yang datang secara berduyun-duyun, lalu hinggap disebuah tempat/lokasi/tanah karena ada ( banyak)   beras/padi-nya disitu dan  setelah   kenyang ( bosur/butong berpesta) , lalu ..... byuuuuurrrr !....... terbang semua !.

Tata dan jenis  acara dan pelaksanaannyapun  sepertinya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun sejak diselenggarakannya PDT  untuk pertama kali pada Juni  1969 , yakni mayoritas berupa hiburan, berbagai perlombaan, festival musik/kesenian, keramaian dan sebagainya.

Bahkan menurut Mr Djariaman Damanik SH, mantan Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara dan Bali/Nusa Tenggara Barat (kini sudah almarhum ) , saat penulis berbincang-bincang santai di rumahnya Kompleks Menteng Indah Medan pada 2011 lalu (semasa hidupnya ) , kala itu tokoh masyarakat Simalungun itu mengatakan  malah ada semacam acara pemilihan :   “ Ratu Danau Toba “.

Memilih putri/dara cantik asal Kawasan Danau Toba (KDT) , Batak/Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Dairi dan lainnya.

Sehingga, kini, meskipun ada perubahan , perubahannya tidaklah  terlalu signifikan.

Hanya perubahan modifikasi  bersifat tekhnis belaka , terutama yang terkait dengan acara dan tekhnis pelaksanaan pestanya.

Seperti acara rutin , berdagang/berjualan dimana barang jualan ( makanan dan atau penganan dan lain-lain  )  dan acara festivalnya ( pertandingan olah raga, kesenian, permainan rakyat, acara adat, solu bolon  dan lain-lain  )  yang selalu mencoba untuk disajikan dengan enak, menarik dan bermutu.

Hanya saja , ketika di 2012 ditetapkan bahwa penyelenggara PDT  bukan lagi oleh panitia adhoc ( panitia penyelenggara bentukan sementara ) namun menjadi  oleh setiap Pemerintah Kabupaten di  KDT , tersembul harapan bahwa PDT akan berubah total.

Yakni kala Kabupaten Simalungun mendapat giliran pertama  sebagai Pemkab penyelenggara dan  berlangsung di Parapat selama empat hari (  27 Desember 2012 - 30 Desember 2012 ).
Menyusul  Kabupaten Samosir di 2013 yang menjadi tuan rumah dan berganti nama pula dari PDT ke  FDT serta ikut campurnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( malah diwakili oleh Wamenparekrafnya ! ) , membuat rasa optimisme semakin bertumbuh bahwa penyelenggaraan FDT akan mengalami perubahan ke arah kemajuan yang pesat atau signifikan.

Apalagi, katanya, bahwa  FDT 2013 akan  diproyeksikan untuk dapat memulihkan iklim pariwisata di Sumatera Utara ( Sumut ) dari kelesuan , dengan mencoba menggiring event FDT  hingga ke manca negara/mendunia.
Lalu, katanya lagi, FDT 2013 yang penyelenggaraannya kala itu berbiaya Rp, 11,6  miliar (dari APBD Pemprov Sumut Rp. 5 miliar , APBN Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rp. 5 miliar, dan APBD Pemkab Samosir Rp. 1,6 miliar),  akan menjadi batu loncatan dan menjadi contoh untuk setiap  penyelenggaraan tahunan FDT kedepannya, yang berevent nasional melalui konsep sinergitas daerah dan pusat yang berbasis budaya.

Dimana  penyelenggaraannya sudah tidak  lagi seperti PDT-PDT sebelumnya  yang hanya bersifat domestik untuk regional Sumut semata, membuat  semakin menumbuhkan rasa optimisme besar bahwa setiap penyelenggaraan  FDT kedepannya tentu akan mengalami kemajuan  pesat..

Tapi kini, faktanya, beberapa minggu bahkan hingga sedikit hari lagi penyelenggaraan FDT 2014 di Tobasa ( 17 September 2014 ) , gaungnya seolah masih kurang terdengar  hingga menimbulkan kesan negative. Cenderung tertutup, tidak seperti “gaung” ketika FDT dilaksanakan di Pulo Samosir pada  2013 lalu.
Kalaupun ada yang terekam media, hanya informasi ringan bersifat tekhnis belaka. Seperti bagaimana dan apa saja acara-acara yang akan dilaksanakan di FDT Kabupaten Tobasa ,  mayoritas bersifat rutinitas.

Bahkan untuk mengetahui informasi berapa biaya penyelenggaraannya dan siapa-siapa saja penyandang/penyumbang dananya (pemerintah pusat/provsu, pemkab, pengusaha/sponsor dan sebagainya ) belum terdeteksi/terinformasi.

Padahal, berbagai ambisi dipermukaan , bahkan seperti akan meng-geopark-kan Danau Toba dan berbagai cita-cita tinggi lainnya kerap  membuncah.
Seolah Danau Toba itu menjadi sangat di/terperhatikan, bukan hanya oleh Pemprovsu, Nasional/Pemerintah, tapi juga oleh internasional (kesan pencitraan  asal orang Batak/Sumut senang).

Padahal kesemuanya itu, yang kalau orang Batak bilang  “ holan hata sambing “ (cuma omdo = omong doang) hingga menimbulkan rasa pesimisme akibat retorisme yang mayoritas berupa teoritis dan angan-angan belaka namun memancing rasa optimisme.

Bukan bermaksud hendak membuat rasa pesimis kepada panitia yang dalam hal ini Pemkab Tobasa loh !. Tapi , bahwa keterbukaan , dalam hal apapun itu sangat diperlukan, antara lain tentang hal apa saja kendala yang kini  masih dihadapi Pemkab Tobasa di dalam menyelenggarakan FDT 2014 dan sebagainya.
Sehingga semuanya menjadi serba terbuka dan tidak menjadi seremonial belaka. Jika memang ingin memajukan Danau Toba, marilah kita  sama-sama mendiskusikannya dan merembukkannya (diskusi bersolusi).

Antara lain, mulai dari tekhnis pelaksanaan pengembangannya, proses, biaya dan promosi , prospek kedepannya , pemeliharaan Danau Toba dan lain sebagainya.

Sebab, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan bila masing-masing kita itu selalu terbuka dan memberikan hatinya yang tulus demi untuk kemajuan Danau Toba melalui FDT 2014 di Kabupaten Tobasa.

Padahal , selain demi memberikan pemahaman efektif dan tepat sasaran terkait pariwisata setempat , salah satu tujuan utama FDT 2014 adalah  untuk mempromosikan (citra) Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata di Sumut, untuk para turis, domestik/lokal , terutama turis manca negara.

Sehingga bukan semata berharap kepada peran aktif masyarakat agar pelaksanaan FDT berlangsung sukses, tapi juga , bahwa perhatian, aksi dan peran Pemprovsu dan Pemerintah Pusat adalah sangat besar dan dibutuhkan.

Malah kecewanya, di 2012 yang menutup (masih) PDT adalah bupatinya JR Saragih yang mewakili Pemprovsu , bukan langsung oleh Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho !.

Sehingga berharap, baik pembukaan maupun penutupan FDT 2014 bukan lagi oleh bupatinya ataupun gubernurnya, tapi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu.

Bila perlu dan memungkin serta ada waktu , langsung saja oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum masa jabatannya berakhir 20 Oktober 2014.

Karena Danau Toba yang memiliki luas 1.145 kilometer persegi dan  lebih menyerupai lautan itu, menyimpan potensi sangat besar, terutama dibidang ekonomi (domestik/nasional/internasional ) , khususnya untuk meraup devisa besar.

Ingat !, bahwa  Danau Toba bukan hanya  aset masyarakat Batak, Simalungun, Karo, Dairi, Humbahas, Taput dan Pemkab di KDT ataupun Pemprovsu semata, tapi juga merupakan aset “emas” ( sangat berharga ) nasional yang sudah mendunia, hanya saja sampai saat ini belum terlalu serius untuk mempromosikan dan memajukannya .

Selamat ber- FDT 2014 di Kabupaten Tobasa-Balige, Horas!. (c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments