Kamis, 21 Feb 2019
  • Home
  • Headlines
  • Eks Napi Teroris Harry Kuncoro Buat Paspor dengan KTP Palsu di Priok

Berencana Gabung dengan ISIS di Suriah

Eks Napi Teroris Harry Kuncoro Buat Paspor dengan KTP Palsu di Priok

* Terancam 15 Tahun Bui
admin Selasa, 12 Februari 2019 09:34 WIB
Harry Kuncoro
Jakarta (SIB) -Mantan narapidana kasus terorisme, Harry Kuncoro, menggunakan identitas palsu untuk membuat paspor. Dia mengajukan pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Tanjung Priok.

"HK membuat paspor dibantu oleh jaringannya sekitar September 2018. Mereka berkomunikasi dengan aplikasi Telegram," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, kepada detikcom di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Dedi menceritakan Harry datang ke Kantor Imigrasi Tanjung Priok pada akhir September. Dia menyerahkan dokumen-dokumen palsu yaitu KTP, kartu keluarga, dan surat keterangan hilang paspor atas nama Wahyu Nugroho.

"HK membayar Rp 2,5 juta untuk keperluan pembuatan paspor," ujar Dedi.

Masih kata Dedi, setelah paspor dengan identitas palsu itu terbit, Harry melaporkan persiapan perjalanannya ke Suriah kepada Abu Walid. Harry disarankan masuk ke Suriah lewat Iran.

"Menurut Abu Walid, jalur ke Suriah yang saat ini terbuka adalah melalui Khurasan," cerita Dedi.

Abu Walid kemudian memberikan nomor kontak WNI yang merupakan anggota jaringannya, yang berada di Khurasan.
Harry ditangkap pada 3 Januari 2019 saat hendak terbang ke Iran, untuk melanjutkan perjalanan ke Suriah.
Terancam 15 Tahun

Sementara itu, polisi mengatakan mantan narapidana kasus terorisme, Harry Kuncoro, terancam pidana penjara di atas 15 tahun. Polisi menjerat Harry dengan empat pasal berlapis.

"Pasal 12A ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.
Pasal kedua dan ketiga yang diterapkan polisi kepada Harry masih terkait terorisme, yaitu Pasal 15 juncto Pasal 7 dan Pasal 13 huruf c.

"Untuk pasal yang terakhir kita kenakan pemalsuan dokumennya, itu ada di Pasal 263 KUHP. Hukuman maksimal dari keempat pasal ini di atas 15 tahun (penjara)," jelas Dedi.

Dedi menerangkan Harry empat kali ditangkap kepolisian terkait kasus terorisme. Sebelumnya, Harry diduga terlibat kasus Bom Bali II, kasus rencana bom di Jakarta, dan rencana penyerangan di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Untuk diketahui, Harry kembali ditangkap oleh Densus 88 Antiteror pada 3 Januari 2019 karena hendak terbang ke Teheran, Iran, untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.

"Ini kasus keempatnya. Kami berharap hukumannya kali ini maksimal," tegas Dedi.

Rekrutan Bahrun Naim
Mantan narapidana kasus terorisme (napiter), Harry Kuncoro, disebut kenal dengan Bahrun Naim. Bahkan Harry disebut hendak pergi ke Suriah karena ajakan hijrah dari Bahrun Naim.

"BN memberi motivasti kepada HK untuk hijrah, menyusul ke Suriah," kata Dedi Prasetyo.

Dedi menuturkan Harry Kuncoro mengenal Bahrun sejak tahun 2015. Saat itu, Harry adalah napiter yang menghuni Lapas Pasir Putih, Nusa Kambangan.

"Dia (Harry) mendengar berita dari seseorang bernama Zamzam, jaringan teroris kelompok JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) mengenai pernikahan anak perempuannya dengan Umar yang merupakan anak Imam Samudra. HK kemudian dikenalkan kepada Umar dan Umar mengenalkan HK kepada BN," ujar Dedi.

Meski berada dalam lapas, Harry leluasa berkomunikasi dengan Bahrun Naim lewat aplikasi Telegram. Selain memotivasi Harry ke Suriah, Bahrun Naim juga memberikan ponsel kepada Harry.

"Jenis ponsel yang bisa digunakan di Lapas Pasir Putih yaitu memiliki frekuensi 450 MHz. Jenis ponsel itu hanya ada di luar negeri," jelas Dedi.

Dedi menuturkan Bahrun Naim juga memberikan video-video tutorial berkonten radikal kepada Harry.

Algojo ISIS Danai Harry
Muhammad Syaifudin alias Muhammad Yusuf Karim Faiz alias Abu Walid merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi algojo di kelompok radikal ISIS di Suriah. Abu Walid disebut menjadi fasilitator yang membantu proses hijrah Harry Kuncoro, mantan narapidana teroris, dari Indonesia ke Suriah.

"Dia disosokkan sebagai algojo ISIS yang memiliki pengaruh dan peran besar di kelompoknya. Tapi dia dikabarkan terakhir, tewas pada akhir Januari karena terkena serpihan tank di Suriah," kata Brigjen Dedi Prasetyo.

Dedi menjelaskan nama Abu Walid mulai dikenal dari peristiwa kerusuhan Ambon pada tahun 1999 silam. Abu Walid bersama saudara kembarnya disebut ikut dalam kerusuhan tersebut.

"Setelah itu dia sekolah ke Arab Saudi. Pada awal 2000-an dia telihat di jaringan Jamaah Islamiyiah. Dia dekat dengan Noordin M Top (tersangka kasus Bom Hotel JW Marriot, Kedubes Australia dan Bom Bali II)," jelas Dedi.

Abu Walid, diceritakan Dedi, juga diketahui sebagai penyalur dana dari Timur Tengah kepada Noordin M Top. Abu Walid juga kerap bepergian ke Filipina Selatan.

"Abu Walid pernah ditangkap Pemerintah Filipina karena tidak memiliki dokumen yang lengkap, dia juga membawa senjata dan bahan peledak tahun 2004. Dia divonis 9 tahun penjara, setelah itu dikembalikan ke Indonesia," tutur Dedi.

Dedi menambahkan, Abu Walid menikah sepulangnya dari Filipina. Setelah lama tak terdengar kabarnya, Abu Walid muncul di salah satu video yang dirilis ISIS.

"Dalam video itu dia sebagai algojo dan melakukan eksekusi terhadap korbannya. Dia di Suriah dan akhir bulan kemarin tewas,"kata Dedi. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments