Rabu, 21 Agu 2019

Eks Kapolda Metro Jaya Jadi Tersangka Makar

* Presiden Gus Dur Pernah Suruh Sofjan Jacoeb Ditangkap, Eks Anggota Tim Mawar Diduga di Belakang Peristiwa 21-22 MeiDari
admin Selasa, 11 Juni 2019 09:11 WIB
Sofjan Jacoeb
Jakarta (SIB) -Mantan Kapolda Metro Jaya Irjen (Purn) Sofyan Jacob ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan makar. Jacob diduga menyebarkan seruan makar melalui sebuah video.

"Ucapan, ada yang ucapan berupa video ada juga di sana," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (10/6).

Hanya, Argo tidak menjelaskan kalimat apa yang diucapkan Sofyan sehingga dirinya dituduh melakukan makar. Video itulah yang kemudian dilaporkan oleh seseorang ke Bareskrim Polri. Kasus itu kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

"Saya nggak lihat videonya ya. Tentunya penyidik sudah lebih paham, lebih tahu dia sudah mengumpulkan namanya sudah menetapkan sebagai tersangka berarti sudah memenuhi unsur di sana ya itu sudah digelarkan di situ," ungkap Argo.

Polisi saat ini masih mendalami kasus yang melibatkan Sofjan Jacoeb ini. Pihak kepolisian juga sedang menyelidiki apakah ada keterkaitan kasus Sofjan dengan kasus-kasus dugaan makar lainnya.

"Tentunya ada berbagai macam kelompok yang melakukan kegiatan makar di situ ya, nah itu sedang kita lakukan pemeriksaan saksi yang lain di situ," kata Argo.

Diketahui, kemarin polisi memanggil Sofjan sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar. a menyebut kasus itu merupakan kasus makar.

Sementara Kuasa hukum Sofjan, Ahmad Yani menyebut pemeriksaan Sofjan ditunda karena kliennya sedang sakit. Pihaknya juga sudah mengirimkan permohonan reschedule ulang pemeriksaan Sofjan kepada penyidik.

"Ya hari ini Pak Sofjan dijadwalkan pemeriksaan, tapi karena beliau berhalangan karena sakit, tadi kita antar (surat permohonan) ke penyidik untuk di reshedule ulang," kata Ahmad Yani kepada wartawan di Polda Metro Jaya.

suruh tangkap
Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) ternyata pernah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Agum Gumelar dan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Chaeruddin Ismail untuk mengambil tindakan hukum terhadap Kapolri nonaktif Jenderal Polisi Surojo Bimantoro dan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Sofjan Jacoeb. Langkah itu diambil untuk menegakkan disiplin. Pernyataan itu diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Yahya Cholil Staquf dalam jumpa pers di Bina Graha Jakarta, Kamis (12/7) delapan belas tahun lalu.

Yahya mengatakan, bila tindakan hukum ini menghendaki penangkapan terhadap dua jenderal tersebut, Menko Polsoskam dan Wakapolri wajib menindaklanjuti perintah tersebut. Bimantoro dinilai telah melakukan tindakan insubordinasi, tidak mematuhi perintah atasan.

"Untuk itu, Presiden perintahkan Menko Polsoskam Agum Gumelar dan Wakapolri untuk mengambil tindakan tegas secara hukum terhadap pelaku-pelaku insubordinasi," kata Yahya. Presiden Wahid menyesalkan pernyataan Kapolda Sofyan, akan menangkap Presiden dan Wakapolri. Gus Dur juga menyayangkan rapat-rapat yang dihadiri sejumlah jenderal Polri di rumah dinas Bimantoro.

Lantas bagaimana komentar Sofjan Jacoeb? "Saya jawab ha ha ha, ketawa aja," kata Sofjan. Sofjan mengaku tidak mengetahui berita itu karena sedang berada di Sekolah Kepolisian Negara Lido, Jawa Barat. Dalam wawancara telepon dengan Rosianna Silalahi, Sofyan menegaskan, tidak pernah membangkang terhadap Presiden Wahid. "Tunjukkan dimana subordinasi itu," kata mantan Kapolda Sulawesi Selatan itu.

Sofyan mengakui bertemu dengan Kapolri Bimantoro hampir setiap hari. Sebab, sebagai penanggung jawab keamanan di Jakarta, Sofjan wajib melaporkan situasi Ibu Kota. "Kami tidak pernah membahas pengangakatan Kapolri Bimantoro. Kita juga tidak pernah menolak Wakapolri Chaeruddin. Kita hanya minta konstitusi ditegakkan," ujar Sofjan, menegaskan. Karena itu, Sofjan bersedia diperiksa. "Silakan saja. Dengan senang hati saya ingin bekerja sama," kata Sofjan, mantap.

Sementara itu, Mantan anggota Tim Mawar, Fauka Noor Farid, ditengarai berada di belakang aksi demonstrasi di sekitar Badan Pengawas Pemilu pada 21-22 Mei 2019 yang berujung rusuh. Fauka adalah anak buah Prabowo Subianto di Komando Pasukan Khusus. Ia juga anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis 1998.

Dugaan keterlibatan Fauka dalam demo yang berujung rusuh itu diungkap dalam laporan Majalah Tempo edisi 10 Juni 2019.
Penelusuran Tempo menemukan Fauka ditengarai berada di kawasan Sarinah, persis di depan Gedung Bawaslu, saat kerusuhan 22 Mei terjadi. Transkrip percakapan yang diperoleh Tempo juga mengungkap Fauka beberapa kali berkomunikasi dengan Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya Dahlia Zein tentang kerusuhan yang pecah di kawasan Bawaslu.

Dua sumber di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi bercerita Fauka ikut merancang demonstrasi di Bawaslu beberapa pekan sebelumnya. Menurut sumber ini, telah terjadi beberapa kali pertemuan membahas rencana demo bertempat di kantor BPN di Jalan Kartanegara, Jakarta Selatan, serta hotel di dekat Masjid Cut Meutia, Menteng.

Fauka membantah ikut merencanakan unjuk rasa. "Tidak ada pertemuan itu," ucapnya. Dia juga membantah berkomunikasi dengan Dahlia selama kerusuhan pecah dan mengaku tak ada di kawasan itu. "Saya jauh dari Bawaslu."

Laporan Tempo juga mengungkap keterlibatan sejumlah personel Garda Prabowo, organisasi yang didirikan dan dipimpin Fauka, dalam demonstrasi. Salah satunya Abdul Gani Ngabalin, yang memiliki banyak nama alias. Ia bekas anak buah Rozario Marshal alias Hercules, preman Tanah Abang dan kini sudah ditahan polisi. Tapi Fauka menyangkal memerintahkan Abdul Gani ikut berunjuk rasa. (detikcom/liputan6/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments