Rabu, 13 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Eks Harokah Islam, DI/TII Hingga NII Ikrar Setia Pancasila

Eks Harokah Islam, DI/TII Hingga NII Ikrar Setia Pancasila

* Anak Kartosuwiryo Sadar Akibat Buruk dari Perpecahan
admin Rabu, 14 Agustus 2019 10:05 WIB
SIB/Ant/Akbar Nugroho Gumay
CIUM BENDERA: Menko Polhukam Wiranto (kiri) menyaksikan anak pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, Sarjono Kartosuwiryo (kedua kiri) mencium bendera merah putih dalam acara pengucapan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Jakarta, Selasa (13/8). Sebanyak 14 orang Keluarga Besar Harokah Islam Indonesia, mantan anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) mengikuti pembacaan ikrar setia tersebut.
Jakarta (SIB) -Keluarga Besar Harokah Islam Indonesia, eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan eks Negara Islam Indonesia (NII) membacakan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan Bhinnekka Tunggal Ika. Ikrar dibacakan di hadapan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.

Pembacaan ikrar dilaksanakan di ruang Nakula, Gedung A, Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (13/8). Total ada 14 peserta perwakilan yang hadir dari gerakan tersebut.

Empat di antaranya mewakili pembacaan ikrar yang dilihat langsung oleh Wiranto. Keempatnya yakni Sarjono Kartosoewirjo, Dadang Fathurrahman, Aceng Mi'rah Mujahidin, dan Yudi Muhammad Auliya.

Usai membacakan ikrar, mereka langsung menandatangani piagam ikrar yang sudah disediakan. Mereka lalu satu persatu mencium bendera merah putih.

Sadar
Sementara itu Putra tokoh pendiri Darul Islam Indonesia/Tentara Islam Indonesia (DII/TII), Sarjono Kartosuwiryo, mengungkapkan alasannya berikrar setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Sarjono mengatakan, dia sadar akan akibat buruk dari adanya perpecahan.

"Saya tidak bisa menilai sesuatu hal yang baik atau buruk. Itu bukan hak saya. Itu nanti Allah yang memutuskan. Tetapi saya menerima akibat yang buruk daripada perpecahan," ujar Sarjono di gedung Kemenko Polhukam, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/8).

Tidak hanya kepada dia, Sarjono bercerita, akibat buruk itu turut dirasakan oleh anak dan cucunya. Ia mengaku masih butuh bantuan dari pemerintah untuk keberlangsungan hidup ke depannya.

"Sekarang orang-orang yang mulai mengadakan perlawanan baik itu apa pun bentuknya itu berakibat kepada anak dan keluarganya.
Bapaknya meninggal udah selesai, anaknya anak yatim siapa yang ngurus? Kita yang ngurus yang ditinggalkan. Itu kan jadi masalah pendidikannya. Itu kalau satu coba kalau ada seribu, waduh repot," ucapnya.

Sarjono mengatakan saat ini anggotanya berjumlah sekitar 2 juta. Ia lalu mengajak seluruh kelompok di luar ideologi Pancasila untuk bersatu membangun bangsa.

"Saya tidak punya data resminya ada berapa, tapi saya memperkirakan masih ada dua juta," katanya.

"Nah, oleh sebab itu, saya mengimbau kepada rekan-rekan untuk bersatu bersama membangun negara ini sebab negara ini kalau rusak bocor ya kita sendiri yang tenggelam," lanjut Sarjono.

Menurut Sarjono, NKRI sudah dibela oleh semua pihak. Karena itu, dia mengajak semuanya untuk membela NKRI.

"Jadi negara ini sudah dibela oleh semua pihak, pertama ada TNI kalau diserang dari luar TNI yang bertindak, kalau serangan dari dalam gimana ada polisi, kalau ada yang korupsi ada lagi KPK, kalau ada yang narkoba BNN, kalau ada yang memecah ideologi siapa kitalah bagian yang harus membela ideologi ini," tuturnya. (detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments