Minggu, 17 Nov 2019

Dua Warga Singapura Tersangka Limbah Impor

admin Sabtu, 05 Oktober 2019 10:10 WIB
Warga negara Singapura yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus impor limbah terkontaminasi bahan berbahaya dan beracun (B3)
Jakarta (SIB) -Dua warga negara Singapura sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus impor limbah terkontaminasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

"Dua WNA tersebut yaitu inisial LSW komisaris dan KWL Direktur PT ART," kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rasio Ridho Sani, di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Kamis (3/10).

Menurut dia, tersangka dengan sengaja memasukkan 87 kontainer berisi limbah impor berupa skrap plastik yang terkontaminasi B3 tanpa dokumen perizinan resmi.

Berdasarkan keterangan tersangka, limbah impor dalam kontainer-kontainer tersebut didatangkan dari Hong Kong, Spanyol, Kanada, Jepang, dan Australia serta masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta pada 13 Juni 2019.

Sebanyak 24 kontainer limbah tersebut sudah berada di area PT Advance Recycle Technology (ART) di Cikupa, Tangerang, Banten, dan 63 kontainer lainnya masih ada di Pelabuhan Tanjung Priok.

Rasio mengatakan penyidik menemukan kontaminasi B3 pada limbah berupa printed circuit board, remote kontrol bekas, baterai bekas, dan kabel bekas dalam kontainer-kontainer itu. "Para pelaku ini akan kita tindak tegas sesuai aturan yang berlaku. Dan penetapan tersangka ini merupakan pertama kalinya," ujar dia.

Kedua tersangka dijerat menggunakan Pasal 105 dan 106 Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Tersangka ini bisa dipidana paling lama 15 tahun dan denda 15 miliar rupiah," kata Direktur Penegakan Hukum Pidana Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Yazid Nurhuda.

Ia mengatakan bahwa pengungkapan kasus kontaminasi B3 pada limbah impor bermula dari per-mohonan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean A Tangerang ke Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 untuk proses pemeriksaan.

"Permohonan izin dilayangkan medio Agustus 2019. PT ART memang harus memohon izin mengimpor limbah. Hal ini sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2016 .

Seharusnya, PT ART terlebih dulu meminta izin pada KLHK dan Kementerian Perindustrian sesuai aturan. Namun, ketentuan ini tak dijalankan sehingga Bea Cukai Tangerang tak kunjung memberi izin. (KJ/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments