Rabu, 23 Jan 2019

Dua Pimpinan KPK Diteror Bom

* Wiranto: Kejar dan Tangkap Pelaku * DPR Minta Polisi Usut Motif
admin Kamis, 10 Januari 2019 10:21 WIB
SIB/Kumparan

OLAH TKP: Beberapa petugas dari Densus 88 dan Tim Polda Metro Jaya melakukan olah TKP dan memeriksa barang bukti di rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Jalan Kalibata Selatan, Kalibata, Pancoran, Jakart

Jakarta (SIB)-Rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Jatiasih Kota Bekasi diteror diduga bom molotov. Peristiwa ini terjadi selang beberapa jam dengan pelemparan molotov ke rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Kalibata Jakarta Selatan.

"Rumah di Bekasi rumahnya Pak Agus, rumah Kalibata rumahnya Pak Laode. Kejadiannya ada selang beberapa jam," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (9/1).

Tim Inafis dan Labfor sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tapi belum jelas soal teror yang dialami Agus.
"Patut diduga bom molotov tapi masih didalami. Handak tersebut ditemukan di halaman rumah," sambungnya.

Sementara itu, di rumah Wakil Ketua KPK Laode Syarif ditemukan pecahan botol dan sumbu api. Tidak ada korban akibat pelemparan molotov pada sekitar pukul 01.00 WIB dini hari kemarin.

Ada dua bom molotov yang dilemparkan ke rumah Laode M Syarif. Satu molotov tidak meledak.

"Di kediaman Pak Laode ada bom molotov, botol isi bahan bakar, dua biji dilemparkan. Sekali tidak menyala, utuh, yang (molotov) kedua pecah," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Rabu (9/1).

Sedangkan di rumah Agus Rahardjo ditemukan benda mirip bom pipa paralon. Benda mirip bom yang digantungkan di pagar rumah Agus masih diidentifikasi.

"Kita cek sama Labfor dan Inafis," ujarnya.

Dalam benda mirip bom itu ditemukan paku.

"Iya itu masih dicek Labfor, apa saja kandungannya kita belum tahu," kata Argo.

Selain paku, ada kabel, bubuk berwarna putih, serta baterai dalam benda mirip bom pipa itu.

"Isinya ya ada paku di antaranya," ucap Argo.

Melky tetangga Agus mengatakan, saat kejadian itu, rumah Agus dijaga dua orang ajudan.

"Pas kejadian itu ada dua orang yang jaga," kata Melky, yang tinggal di seberang rumah Agus.

Menurut Melky, rumah Agus setiap hari mendapat penjagaan. Selain dari unsur kepolisian, Agus memiliki ajudan dari warga sipil.

"Tiap hari ajudan ramai-ramai nganter (Agus), biasanya pakai batik, bawa pistol di pinggang," jelas Melky.

Saat kejadian itu, lanjut Melky, dua ajudan Agus langsung menghampirinya. Mereka menanyakan barang kali Melky memiliki rekaman CCTV.

"Salah satu penjaganya ke rumah saya, minta rekaman CCTV, padahal di rumah saya tidak ada CCTV," ungkapnya.

Menurut Melky lagi, ajudan Agus juga sempat mencari CCTV ke tetangga lain.

"Katanya ini saya kecolongan ini ada keresek, terus dia lihat CCTV di samping-samping rumah," sambungnya.

Sementara pelaku teror di rumah Laode diduga dua pria mengendarai motor.

"Diduga dua orang berboncengan motor," kata Argo.

Keduanya terekam kamera CCTV. Namun soal rupa pelaku tidak bisa diketahui.

"Pakai helm fullface," ucapnya.

Polisi saat ini tengah menganalisis rekaman CCTV tersebut. Diharapkan, dari rekaman CCTV itu, bisa diberi petunjuk siapa pelakunya.

"Iya itu teknis," ungkapnya.

Bentuk Tim
Polisi membentuk tim gabungan untuk menyelidiki teror bom di rumah kedua pimpinan KPK. Kepala Detasemen Khusus (Kadensus) 88 Irjen Syafii ikut dilibatkan.

"Dari tim Mabes Polri yang Kadensus, dari Polda Metro Jaya ada Inafis Puslabfor, kita bentuk tim untuk mengungkap siapa pelakunya," ucap Argo.

Argo mengatakan sudah ada sejumlah saksi yang sudah diperiksa. Namun saat ini menurutnya belum ada kejelasan siapa terduga pelaku dalam teror itu.

"Kalau sudah ada titik terang, kami sampaikan," ucapnya.

Argo Yuwono mengatakan pihaknya saat ini masih mendalami motif di balik teror tersebut.

"Sejauh ini masih penyelidikan, kita belum bisa memastikan apa motifnya," kata Argo.

Argo mengatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah teror itu berkaitan dengan profesi keduanya sebagai pimpinan KPK.
"Kita belum bisa menyimpulkan ke arah situ," ungkapnya.

Serahkan ke Polri
Sementara itu, KPK menyerahkan urusan teror pada kedua pimpinannya ke Polri. KPK juga siap berkoordinasi terkait pengusutan pelaku teror tersebut.

"Terkait dengan peristiwanya dan pencarian informasi siapa pelaku dan kronologis lainnya, KPK mempercayakan hal tersebut pada proses di Polri. Nanti tentu Polri juga akan menjelaskan pada publik perkembangan yang bisa disampaikan. Tim dari KPK juga sudah berkoordinasi di lokasi sejak pagi bersama Polri," ucap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Seharian ini menurut Febri ada sejumlah kegiatan pimpinan yang tetap dilakukan seperti biasa. Teror yang terjadi pada kedua pimpinan, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif, disebut Febri tidak mengganggu kegiatan itu.

"Beberapa kegiatan yang dilakukan pimpinan dari pagi seperti menjadi narasumber di Kemendikbud tentang Pelaksanaan Anggaran Pemerintah yang bebas dari KKN, menerima audiensi dari Kedutaan Norwegia, rapat hasil kajian dengan Kementerian Kesehatan tentang alkes," ucap Febri.

Kegiatan KPK juga disebut Febri berjalan seperti biasa. Namun tidak dipungkiri bila KPK harus berkoordinasi dengan Polri terkait peristiwa teror itu.

"Dan juga terima kasih pada tim Polri karena respons yang cepat dalam penanganan ini. Kita semua tentu menunggu bagaimana perkembangan penanganannya," ucap Febri.

Maju Terus
Di tempat terpisah, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengutuk keras peristiwa dugaan teror bom di rumah Agus dan Laode. Dia meminta Polri segera mengungkap pelaku teror itu.

"Mengutuk keras aksi yang tidak bertanggung jawab kepada pimpinan KPK. Saya telah meminta Polri usut tuntas dan temukan pelaku serta dalangnya. Kita tidak bisa membiarkan orang seenaknya melakukan aksi-aksi yang tidak bertanggung jawab dan membuat suasana ketakutan masyarakat," kata Bamsoet di gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Menurut Bamsoet, teror bom terhadap Agus dan Laode merupakan upaya menakut-nakuti pihak tak bertanggung jawab. Ia menyebut pelaku sengaja ingin membuat situasi mencekam menjelang Pemilu 2019.

"Ini hanya menakuti-nakuti, kalau teori perang kota, ini salah satu cara-cara membuat masyarakat tercekam atau suasana mencekam. Sekali lagi, saya minta kepada kepolisian, penegak hukum, ini tidak boleh dibiarkan. Apalagi tahun politik, jangan sampai suasana demokrasi, pesta politik dengan aksi seperti ini menjadi mencekam," ujar politikus Golkar itu.

Ia lantas memberikan ungkapan semangat kepada KPK, khususnya kepada Agus dan Laode. Bamsoet berharap KPK tak gentar menjalankan tugas dan fungsinya sebagai lembaga antirasuah.

"Jangan takut, maju terus, karena yang Saudara lakukan adalah berguna bagi masyarakat kita," ucap Bamsoet.

Jangan Takut
Sedangkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar mengharapkan KPK tidak takut terhadap teror bom di rumah dua pimpinan KPK. Seluruh tugas, pokok, dan fungsi KPK sebagai komisi antirasuah harus tetap berjalan sesuai ketentuan perundangan.

"Jangan takut dan jalan terus! Itu aja," kata Antasari kepada wartawan di Kantor Staf Presiden, Jakarta. Ia mengaku terkejut sekaligus mempertanyakan motif teror tersebut.

Ia berpikir dengan dirinya pernah dipenjara ketika menjabat ketua KPK, ancaman terhadap KPK berakhir. Ternyata, lanjut Antasari, masih ada teror. "Saya pikir dengan memenjarakan saya, selesai. Rupanya masih ada. Kita berdoa mudah-mudahan selamat," ucapnya.

Ia optimistis teror tak akan menyurutkan langkah KPK memberantas korupsi di Indonesia. "Dulu waktu saya masuk (penjara), saya katakan, 'Kalaupun saya masuk hari ini, korupsi tak akan berhenti. Jalan, terus kan'. KPK tidak akan bisa diteror, percayalah," tegasnya.

Disinggung adanya upaya menakuti KPK, ia pun menduga seperti itu. "Ya antara lain mungkin. Mungkin ada yang ingin dibuat oleh KPK, tahu mereka (koruptor) melakukan tindakan korupsi, sehingga KPK tidak bergerak," ujarnya.

Kejar dan Tangkap
Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto turut berkomentar mengenai teror-teror tersebut. Wiranto menegaskan hukum harus ditegakkan dan pelakunya segera ditangkap.

"Bom di mana saja, siapa pun yang membuat bom itu. Berusaha menakut-nakuti ya ditangkap saja. Kita ada peraturan perundangan dan hukum, kita terapkan dengan tegas, selesai," kata Wiranto seusai rapat di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Wiranto menjelaskan setiap tindakan melawan hukum ada aturan hukumnya. Wiranto pun menyarankan, apabila sudah diketahui siapa pelakunya, harus segera ditangkap.

"Jangan kita ributkan, ada saja orang seperti itu. Kita tinggal usut, polisi sudah tangkap, sudah ada identifikasi manusianya siapa, kejar tangkap, proses, latar belakangnya apa, ada hukumnya semua di situ," jelasnya.

DPR Minta Polisi Usut
Di bagian lain, Komisi III DPR, yang membawahkan bidang hukum, angkat bicara soal dugaan teror bom di rumah pimpinan KPK. Polisi diminta segera menangkap pelaku dan mengusut motif teror itu.

"Bahaya sekali. Saya minta polisi usut tuntas," kata Wakil Ketua Komisi III Erma Suryani Ranik saat dimintai tanggapan.

Ia menyebut teror bom itu sebagai aksi yang disengaja. Erma menilai aksi itu terstruktur dan sistematis.

"Pasti disengajalah. Terstruktur dan sistematis kayak gitu," ujarnya.

Hal senada disampaikan anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu. Ia juga meminta polisi mengusut tuntas dan mengungkap motif teror ini.

"Ini aksi teror terencana karena dilakukan bersamaan di tempat yang berbeda. Dan teror ini sama-sama ditujukan ke rumah pimpinan KPK, Saudara Agus Rahardjo dan Laode Syarif," kata Masinton saat dihubungi terpisah.

"Tidak cukup hanya dengan mengutuk pelaku teror tersebut. Kita harus dorong langkah cepat kepolisian mengusut dan menangkap pelakunya. Serta mengungkap motif teror tersebut," sambungnya. (detikcom/d)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments