Senin, 21 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Dishut Sumut akan Usut Penebangan Liar di Habitat Orangutan di Tapsel

Dishut Sumut akan Usut Penebangan Liar di Habitat Orangutan di Tapsel

* Perambahan Tahura, Dishut Surati Pemkab Karo
admin Kamis, 25 Juli 2019 09:28 WIB
SIB/Dok
Medan (SIB) -Dinas Kehutanan Sumut mengatakan akan menindak lanjuti temuan LSM mengenai penebangan liar di habitat Orangutan Tapanuli di Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Tapsel oleh orang tak dikenal. Tetapi Dishut Sumut terlebih dahulu berkoordinasi dengan Unit Pelaksanaan Tehnik (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sipirok untuk melakukan pengusutan lebih lanjut.

Hal itu dikatakan Plt Kadishut Sumut melalui Kasi Pengamanan Hutan Dishut Sumut Albert Sibuea SH MAP melalui telepon kepada SIB, Rabu (24/7) menanggapi berita tentang temuan LSM mengenai adanya penebangan liar di habitat Orangutan Tapanuli di Desa Sampean, Tapsel.

Dijelaskan Sibuea, bahwa dirinya bersama pejabat Dishut Sumut sedang mengikuti rapat di Jakarta, jadi belum bisa banyak memberikan komentar tentang temuan LSM mengenai penebangan liar di habitat Orangutan di Tapanuli Selatan itu, tetapi pihaknya mengatakan akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan kepala UPT KPH Sipirok.

"Kami sudah menghubungi UPT KPH Sipirok, dan mengatakan, Kamis (25/7) Tim dari UPT KPH turun ke lokasi untuk menyelidikinya dan menangkap orang yang terlibat membabat hutan habitat Orangutan yang dilindungi pemerintah itu," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, LSM Scorpion dan Resort Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara/BBKSDASU menemukan penebangan liar di habitat Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) di Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Tapsel, oleh Orang Tak Dikenal (OTK).

Dishut Surati Pemkab Karo
Terkait perambahan Tahura, Dishut Sumut telah menyurati Bupati Karo untuk mengeksekusi warga yang tinggal di Tahura bersama Tim Terpadu yang terdiri dari TNI/Polri dan Dinas Kehutanan. Tetapi karena alasan kemanusiaan korban Gunung Sinabung, Bupati Karo tidak menyetujui eksekusi mereka yang tinggal Desa Kuta Rayat dan Desa Sukanalu.

Hal itu dikatakan Albert Sibuea menanggapi pernyataan Komisi D DPRD Sumut yang menyesalkan terjadinya perambahan hutan Tahura di kawasan jalan tembus Kabupaten Karo-Langkat Desa Kutaraya dan Sukanalu Kecamatan Naman Teran Karo.

Pada awalnya Dishut Sumut telah berkoordinasi dengan Pemkab Karo, tetapi karena alasan kemanusiaan korban pengungsi Gunung Sinabung, Dishut Sumut tidak dapat berbuat banyak. Sebab untuk melakukan pemindahan pengungsi apalagi korban bencana alam erupsi Gunung Sinabung perlu ada koordinasi dengan Pemkab setempat.

"Kan kasihan kalau terjadi erupsi Gunung Sinabung mereka yang mengungsi itu terkena lahar panas bila mereka pulang ke rumah mereka di pinggiran Gunung Sinabung. Atas kondisi inilah mungkin Pemkab Tanah Karo tidak mau memindahkan dan membiarkan tetap tinggal di dua desa di Tahura menunggu Gunung Sinabung tidak erupsi lagi," katanya.

Karena alasan kemanusiaan itulah, maka warga yang tinggal di dua desa Tahura itu sudah menggarap seribuan hektar dengan menebangi hutan lindung dan mendirikan rumahnya serta bercocok tanam untuk melanjutkan kehidupan mereka.

Untuk itu Dihut Sumut berharap Pemkab Karo berkoordinasi dengan Pemprov Sumut dan pemerintah pusat untuk dapat segera mensterilkan pengungsi Gunung Sinabung di dua desa di Tahura itu. (M12/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments