Sabtu, 19 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Diduga Ada Aktor Intelektual di Balik Serangan KKB

Diduga Ada Aktor Intelektual di Balik Serangan KKB

* 3 Korban Penembakan Saudara Kandung
admin Selasa, 11 Desember 2018 10:44 WIB
Jakarta (SIB)- Staf Khusus Presiden Bidang Kelompok Kerja Papua, Lenis Kogoya, menduga ada aktor intelektual di balik serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menewaskan para pekerja Trans Papua di Kabupaten Nduga, Papua. 

Lenis mengatakan, peristiwa penembakan 19 pekerja Trans Papua yang dilakukan KKB pimpinan Egianua Kogoya itu dirasa janggal. Sejak Jokowi menjabat Presiden RI, baru kali ini terjadi hal seperti itu.

"Kejadian kemarin itu sangat berbeda sekali. Semenjak kepemimpinan Pak Jokowi, baru ini terjadi yang separah ini. Padahal tahun-tahun kemarin nggak terjadi apa-apa. Saya di lapangan, kok," kata Lenis saat ditemui wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/12).

Dia mengatakan baru saja 'pulang kampung' dan mendatangi salah satu distrik di Papua pada 27-28 November 2018. Dia mendatangi distrik yang disebut warga sebagai zona merah alias berbahaya dari sisi keamanan, namun aksi brutal KKB itu tidak terjadi di sana.

"Mereka bilang di sana 'merah'. Padahal di sana, saya ke sana bakar batu. Bukan terjadi di situ, malah terjadinya di Nduga. Menyeberang gunung lagi. Jadi ini harus dicek," katanya.

Lenis juga menegaskan yang bisa mengungkap persoalan tersebut hanya kepolisian. Dia menduga ada peredaran senjata di pegunungan kawasan Papua.
"Yang mampu mengungkap persoalan ini hanya kepolisian. Ada peredaran senjata di gunung. Harus kontrol itu. Siapa yang menyuplai?" katanya.

Lenis kemudian menjelaskan maksud dugaannya itu. Dia mengatakan kejadian brutal itu tidak bisa berdiri sendiri.

"Mulai 2014, sejak Jokowi ke Papua, sampai 2017, setiap Desember, tidak pernah ada insiden di Papua. Tidak ada pengibaran bendera, semua tenang. Yang sempat terjadi di Paniai pada saat Natal, itu konsepnya kan beda. Nggak bisa dikaitkan dengan OPM. Nggak bisa. Itu kan konsepnya antara masyarakat dengan kepolisian," katanya.

"Tapi kejadian kemarin itu nggak pernah terjadi. Makanya saya curiga, siapa yang bermain ini?" tambahnya.

Untuk itu, dia minta pihak Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) mengecek betul kasus ini dengan jeli.

"Ini lingkaran apa? Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri-sendiri. Talinya tidak terputus. Makanya kepolisian, BIN, dicek baik-baik persoalan ini," katanya.
Namun Lenis menegaskan tak mau menuduh pihak mana pun. Dia menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada Polri.

"Saya sih belum bisa mengatakan nuduh orang, ya. Yang bisa menjelaskan itu pihak kepolisian. Kalau saya dengar dari Papua, ada beberapa korban lari, yang hidup, coba wartawan tanya dia baik-baik, latar belakang orang yang ikut bunuh itu siapa-siapa saja. Dari mana saja? Itu bisa jadi pintu masuk. Itulah diungkap dulu, supaya kita tahu semua," katanya.

"Sekarang saya minta, bukan cuma soal perlawanan terhadap kelompok ini, tapi kita kembalikan ke polisi. Tugas polisi adalah mengecek, pertama distribusi senjata itu dari mana? Itu pertama. Kedua, di belakang mereka itu siapa? Saya minta agar persoalan ini selesai, pihak kepolisian tahu, di Wamena pernah ada yang ditangkap pendistribusi logistik (untuk kelompok bersenjata). Coba ditelusuri dari situ," tuturnya. 

Saudara Kandung
Beberapa orang korban penembakan KKB berasal dari Sulawesi Selatan. 3 Di antara korban yang meninggal masih merupakan saudara kandung.

Ketiga korban yang masih bersaudara itu adalah Fais Syahputra, Aris Usi, dan Yusran. Ketiganya adalah kakak beradik yang tengah mengadu nasib di tanah Papua.

"Mereka bertiga bersaudara dan semuanya meninggal di lokasi yang sama di Nduga kemarin," kata Ayah mertua Yusran, Lukman saat berbincang di kediamannya di Jalan Takalar, Makassar.

Tidak hanya itu, korban lainnya yang meninggal adalah Yusafat dan Markus Allo masih sepupu dengan ketiga bersaudara itu. Satu lagi, yaitu Petrus Ramli yang saat ini masih belum ditemukan juga sepupu ketiganya.

"Jadi ini korbannya satu keluarga semuanya dan mereka berasal dari Tana Toraja," ungkapnya.

Untuk Yusran, Lukman menyebut bahwa anak menantunya itu meninggalkan Makassar pada 12 November. Sebelum berangkat ke Papua, Yusran bekerja sebagai penjual dompet di Makassar. Kepergiannya ke Papua untuk membantu kehidupan ekonomi keluarganya.

Lukman mengaku sempat berbincang dengan anak menantunya itu soal pendapatan yang akan diterimanya nanti di Papua. Menurutnya, sebagai pekerja lepas, Yusran dijanjikan upah Rp 250 ribu per hari.

"Tapi kita tidak tahu ternyata dia dibawa ke zona merah. Yusran pun hanya tahu bahwa dia akan bekerja di Papua tapi detail lokasinya sendiri juga dia tidak tahu sebelum berangkat," ungkapnya.

"Orangnya ulet dan paling rajin tidak ada masalah dan paling sabar. Dia hanya bilang ke saya 'Pak biar saya pergi karena saya banyak utang. Biar saya pergi dan Insya Allah lima bulan bisa terlunasi utangku" sambung Lukman.

Sebelum tertembak di Nduga, Yusran sempat mengabarkan dirinya telah tiba di Papua lewat sambungan telepon kepada istrinya, Fadillah Aulia Lukman. Dia bahkan sempat berfoto kepada istrinya saat berada di bandara Wamena.

Hingga saat ini, jenazah yang ditemukan berjumlah 17 orang. Nama-nama 16 jenazah korban KKB di Distrik Yall, Kabupaten Nduga, yang sudah ditemukan adalah Agustinus T, Jepry Simaremare, Carly Zatrino, Alpianus M, Muh Agus, Fais Syahputra, Yousafat, Aris Usi, Yusran, Dino Kondo, Markus Allo, Efrandy Hutagaol, Samuel Pakiding, Anugrah Tolu, Emanuel Beli Naikteas, dan Daniel Karre. 

Ditemukan Selamat
Tim gabungan TNI-Polri yang menyisir Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, menemukan 3 korban selamat dari penembakan  KKB. Namun ketiga korban tersebut bukan karyawan PT Istaka Karya.

"Untuk kondisi ketiga pekerja tersebut sehat dan sementara masih berada di Pos Yigi," ucap Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal dalam keterangannya.
Kamal menyebut ketiga korban itu atas nama Petrus Tondi, Toding Allo, dan Saputra. Ketiganya teridentifikasi sebagai pekerja balai desa.

"Tiga korban selamat tersebut bukan merupakan karyawan PT Istaka Karya," sebut Kamal.

Sementara itu, tim gabungan TNI-Polri yang terdiri dari Yonif 751 dan Brimob masih melakukan pengejaran terhadap KKB di Puncak Kabo. Tim itu pula yang menemukan tiga korban selamat tersebut pada Minggu, 9 Desember kemarin.

Berangsur Normal
Setelah 10 hari insiden penembakan, kini Pasukan gabungan TNI-Polri telah menguasai Distrik Yigi dan Mbua di Papua.

"Sekarang warga Mbua sudah mulai berangsur kembali ke kampung, dan kegiatan sosial serta roda ekonomi mulai berjalan kembali," kata AM Kamal.

Sementara untuk distrik Yigi, kondisi perkampungan masih sepi. Kamal menyebut, warga lebih memilih berlindung di dalam hutan lantaran trauma setelah insiden teror KKB. 

"Sedangkan di Yigi situasi kampung masih sepi hanya beberapa warga yang bertahan di kampung sementara sebagian masyarakat masih berlindung di hutan," ucapnya.

Polda Papua, kata Kamal, menyesalkan adanya tudingan sejumlah pihak yang menyebut pasukan gabungan TNI-Polri mengebom kedua distrik tersebut. Padahal selama ini, TNI-Polri hanya fokus terhadap upaya evakuasi korban. 

"TNI-Polri juga hingga saat ini belum pernah melakukan serangan, sebaliknya pada saat melaksanakan upaya evakuasi justru merekalah KKSB yang menyerang tim evakuasi sehingga terjadi kontak tembak dan mengakibatkan satu orang anggota Brimob menderita luka tembak," pungkasnya. (detikcom/kumparan/d)
Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments