Sabtu, 22 Feb 2020
  • Home
  • Headlines
  • DPRDSU: Dana Pencegahan Virus Kolera Babi Hanya Rp178 Juta Dialokasikan di APBD 2019

DPRDSU: Dana Pencegahan Virus Kolera Babi Hanya Rp178 Juta Dialokasikan di APBD 2019

* Jika Sumut Tak Mampu Tanggulangi, Segera Minta Bantuan Menkes * 235 Ekor Babi Mati Mendadak di Lau Baleng Karo
redaksi Jumat, 01 November 2019 10:05 WIB
SIB/Dok
AMBIL SAMPEL: Petugas Balai Veteriner Medan mengambil sampel darah ternak babi yang mati di Lau Baleng. Sejauh ini diperkirakan ternak babi yang mati di Lau Baleng akibat terkena virus mencapai 235 ekor.
Medan (SIB) -Kalangan DPRD Sumut menegaskan, dana pencegahan dan penanggulangan virus kolera babi (hog cholera) hanya Rp178 juta dialokasikan di APBD Sumut Tahun Anggaran 2019, sehingga dikuatirkan daerah ini kekurangan anggaran untuk menangani virus "mesin" pembunuh babi yang sudah mewabah di 10 kabupaten tersebut.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi B DPRD Sumut Franc Bernhard Tumanggor kepada wartawan, Kamis (31/10) di DPRD Sumut menanggapi minimnya anggaran yang dialokasikan di APBD Sumut untuk pencegahan dan penanggulangan virus kolera babi tersebut.

"Kita mendapat informasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, bahwa virus kolera babi telah menyerang di 10 kabupaten di Sumut, seperti Dairi, Karo, Humbahas, Taput, Samosir dan sejumlah kabupaten lainnya. Virus itu telah mematikan ribuan babi. Tapi anggaran untuk menanggulanginya sangat minim," tegas Franc.

Namun demikian, tandas politisi Partai Golkar ini, jangan pula dikarenakan alasan anggaran sangat minim, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut lamban menangani penyebaran virus yang mematikan ternak babi tersebut.

"Segera putuskan mata-rantai penyebaran virus kolera terhadap ternak-ternak babi. Jika nantinya kekurangan anggaran, segera sampaikan ke lembaga legislatif untuk diambil kebijakan guna penambahan anggarannya," ujar Franc sembari mendesak Gubernur Sumut untuk memerintahkan Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan bergerak cepat mengatasi virus kolera babi ini.

Ditambahkan anggota dewan Dapil Karo, Dairi dan Pakpak Bharat ini, jika Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut dan kabupaten tidak mampu menanggulangi mewabahnya virus kolera babi ini, segera laporkan kepada Gubernur, untuk segera disampaikan ke pemerintah pusat khususnya Kementerian Kesehatan RI di Jakarta.

"Dinas terkait jangan ragu dan malu menyampaikan ketidakmampuan mereka. Jika tidak bisa mencegahnya, segera angkat tangan, sebab hingga saat ini masih terus terekspos ternak-ternak babi masih bermatian. Kita tidak tahu apa kemajuan di daerah yang telah mereka capai," ujar Franc.

Padahal, katanya, Tim Dirjen Peternakan cq Direktorat Hewan Pusat, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut dan Medan sudah turun ke sejumlah kabupaten untuk meneliti penyebab matinya babi tersebut. Tapi hingga kini belum ada progres yang dicapai untuk memutus mata rantai penyebaran virus kolera babi ini.

"Di sini perlu keterbukaan dan penjelasan dari tim, jangan sampai babi-babi di Sumut habis bermatian. Jika tim tidak bisa mengatasinya, segera minta bantuan Menteri Kesehatan, agar menurunkan tim ahlinya ke Sumut, untuk mencegah penyebarannya," ujar Franc sembari mengingatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan memberikan penjelasan ke publik tentang situasi terkini virus ternak babi di daerah.

Mati Mendadak
Sementara itu, dalam beberapa hari, sebanyak 235 ekor babi dilaporkan mati mendadak di Kecamatan Lau Baleng Kabupaten Karo. Warga belum mengetahui apa penyebab kematian babi mereka, namun kuat dugaan karena tertular virus Flu Babi Afrika (virus african swine fever).

"Dari laporan petugas lapangan, sudah ada 202 ekor babi mati secara mendadak di Kecamatan Lau Baleng," kata Kepala Dinas Pertanian Karo, Metehsa Karo-karo, Rabu (30/10) di Kabanjahe. Namun ketika dikonfirmasi SIB kepada petugas lapangan Sondang Gultom SP di Lau Baleng, Kamis (31/10) mengatakan sampai hari ini jumlah ternak babi yang mati 235 ekor.

Menurut Metehsa, belum bisa dipastikan penyebab kematian babi tersebut apakah akibat tertular virus. Dikatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Veteriner Medan.

Lebih jauh dikatakan, pihaknya sudah membentuk tim yang intens turun ke kecamatan-kecamatan di Karo, serta telah membuat surat edaran perihal langkah-langkah penanggulangan penyakit ternak babi. Dalam surat itu ditegaskan agar peternak/pengepul tidak memasukkan babi dari luar Kabupaten Karo. Babi yang sakit harus dipisahkan dari babi yang sehat, membersihkan kandang setiap hari. Membersihkan kotoran babi dan mengumpulkannya di suatu tempat dan jangan dibawa ke luar lokasi kandang agar penyebaran virus tidak meluas. Peternak dihimbau juga melakukan penyemprotan kandang dengan desinfektan sampai basah minimal satu kali sehari. Bagi kandang yang belum terinfeksi cukup tiga kali seminggu. Selanjutnya pakan ternak berupa sisa-sisa makanan dari limbah rumah tangga, atau rumah makan harus dimasak dengan sempurna.

"Kita juga sudah meminta camat segera mengintruksikan hal tersebut kepada para kepala desa di wilayah masing-masing, agar melaporkan keadaan ternak babinya. Termasuk apa bila ada ternak yang mati agar dimusnahkan dengan cara dikubur," pungkasnya.

Sementara menurut Kepala Dinas Kesehatan Karo, Irna Safrina Meliala yang dikonfirmasi SIB, Kamis (31/10) di Kabanjahe melalui telepon selulernya mengatakan bahwa virus hog cholera tidak membahayakan bagi manusia. Irna menyebut daging babi yang terpapar virus ini juga masih aman untuk dikonsumsi. Virus itu hanya menyebabkan kematian pada babi.

"Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan dengan kasus hog cholera ini. Meski demikian, masyarakat kita imbau lebih cermat dalam mengolahnya. Sebelum dikonsumsi, daging babi harus dimasak dengan matang," katanya. (M03/K01/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments