Rabu, 13 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • China Kerahkan Tank ke Kota Perbatasan Dekat Hong Kong

China Kerahkan Tank ke Kota Perbatasan Dekat Hong Kong

* Pemimpin Hong Kong Dicecar Sengit Wartawan, AS Minta Semua Pihak Tahan Diri
admin Rabu, 14 Agustus 2019 10:04 WIB
SIB/Int/Newshub.com
KERAHKAN: Sejumlah kendaraan tempur berbaris di satu ruas jalan di Shenzen, kota yang berbatasan dengan Hong Kong, Senin (12/8). China dikabarkan mengerahkan kendaraan tempur terkait situasi di Hong Kong yang terus memanas.
Hong Kong (SIB) -China dilaporkan mengerahkan tentara beserta kendaraan lapis baja ke Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, yang berdekatan dengan perbatasan Hong Kong. Dikhawatirkan Negeri Tirai Bambu sengaja mengerahkan militer untuk meredam aksi demonstrasi di Hong Kong yang sudah berlangsung selama tiga bulan. Dalam laporannya, media pemerintah China menunjukkan sejumlah besar kendaraan lapis baja ke kota itu. Beberapa tank bahkan telah terparkir di wilayah itu.

Melalui video yang diunggah di Twitter, surat kabar People's Daily China memperlihatkan kendaraan-kendaraan militer itu dikerahkan ke Shenzhen dengan alasan untuk latihan. Pengerahan kendaraan militer ini berlangsung ketika demonstrasi masih berlangsung di Hong Kong sejak pekan lalu. Setelah selama tiga bulan berdemo di gedung-gedung pemerintahan, para pendemo menduduki Bandara Internasional Hong Kong kemarin hingga membuat kegiatan di sana lumpuh.

Selain itu, demonstrasi juga berlangsung ricuh selama akhir pekan lalu, di mana para pengunjuk rasa melemparkan bom molotov kepada kepolisian. Aparat merespons pendemo dengan menembakkan gas air mata dan meriam air.

China melalui Kantor Dewan Negara untuk Urusan Hong Kong dan Makau mengecam segala kekerasan yang dilakukan pendemo. Juru Bicara, Yang Guang, bahkan menyebut segala tindak kekerasan pendemo merupakan "aksi terorisme". "Para demonstran radikal Hong Kong telah berulang kali menggunakan alat yang sangat berbahaya untuk menyerang petugas kepolisian, ini sudah menjadi kejahatan serius dan juga menunjukkan tanda-tanda awal terorisme muncul," tutur Yang seperti dilansir Channel NewsAsia, pada Selasa (13/8). "Tindakan ceroboh ini telah menginjak-injak aturan hukum dan tatanan sosial Hong Kong," ujarnya menambahkan.

Pengerahan kendaraan lapis baja ke Shenzhen bukan yang pertama kali dilakukan China. Pada 6 Agustus lalu, sebanyak 12 ribu personel kepolisian China menggelar latihan antihuru-hara untuk menghadapi pendemo Hong Kong di Shenzhen. Latihan itu direkam dan diunggah ke media sosial kepolisian China. Salah satu komandan kepolisian menuturkan latihan itu dikerahkan untuk menjaga "stabilitas sosial."

China sebelumnya bahkan menegaskan akan mengerahkan personel militernya ke Hong Kong guna menangani pendemo dan mengembalikan ketertiban publik di wilayah itu. Namun, Beijing menuturkan langkah itu baru akan dilakukan atas permintaan Hong Kong.

Dicecar Sengit Wartawan
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam dicecar sengit oleh para jurnalis saat akan berbicara dalam konferensi pers mengenai aksi demo besar-besaran yang terus berlangsung di kota tersebut. Perempuan itu bahkan sempat terlihat seperti akan menangis. "Anda menyalahkan kesalahan penilaian politik Anda pada orang lain dan menolak untuk mengakui kesalahan Anda," cetus seorang jurnalis seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/8). "Kapan Anda akan menerima tanggung jawab politik untuk mengakhiri ketakutan warga negara? ... Kapan Anda akan bersedia untuk mundur? Kapan Anda akan mengatakan kepada polisi untuk berhenti," cecar wartawan dari media penyiaran publik Hong Kong, RTHK.

Sebelum Lam menjawab, reporter itu kembali berujar sengit. "Anda dulu meminta saya untuk bekerja dengan serius, jadi tolong jawab saya dengan serius juga," cetusnya. Pemimpin Hong Kong itu kemudian mencoba menjawab namun para wartawan lainnya meneriakkan pertanyaan mereka. "Warga negara takut pada Anda dan polisi, apakah Anda bisa menjawab pertanyaan itu?" kata seorang wartawan.

Konferensi pers yang berlangsung tegang dan sengit itu merupakan indikasi meningkatnya ketegangan di kota itu setelah kekerasan saat aksi demo akhir pekan lalu menyebabkan puluhan orang terluka, sebagian di antaranya terluka serius.

Lam sempat terlihat kaget dengan gencarnya pertanyaan yang diajukan wartawan. Ditambah lagi para wartawan berulang kali menginterupsi dirinya saat berbicara dan menuduh dirinya tidak menjawab apa yang ditanyakan. Beberapa kali Lam tampak menunduk ketika wartawan terus mencecarnya.

Saat Lam memulai pernyataan persnya, dia menyerukan untuk tenang. "Saya sekali lagi meminta semua orang untuk mengesampingkan perbedaan dan tenang," ujar Lam yang pada satu titik terlihat seperti akan menangis. "Luangkan waktu sebentar untuk berpikir, lihat kota kita, rumah kita, apakah kalian semua benar-benar ingin melihatnya didorong ke jurang yang dalam?" ujar Lam.

Lam juga membela polisi yang dituduh menggunakan kekerasan berlebihan dalam menghadapi para demonstran pada akhir pekan lalu, ketika peluru-peluru gas air mata dilepaskan ke stasiun kereta bawah tanah dan jalan-jalan perbelanjaan yang ramai.

Para wartawan terus mencecar Lam bahkan saat dirinya meninggalkan podium. "Apakah Anda punya hati nurani?" teriak seorang jurnalis kepada Lam. "Bu Lam, banyak warga yang baru-baru ini bertanya kapan Anda akan meninggal," teriak seorang jurnalis lainnya.

AS Minta Semua Pihak Tahan Diri
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) memantau aksi demonstran yang menduduki Bandara Internasional Hong Kong. AS minta semua pihak menahan diri dari kekerasan. "Masyarakat paling baik dilayani ketika pandangan politik yang beragam dihormati dan dapat diungkapkan secara bebas dan damai. Amerika Serikat mendesak semua pihak untuk menahan diri dari kekerasan," kata seorang pejabat administrasi Trump, seperti dikutip dari Reuters, Senin (12/8).

Sebelumnya, ada 5 ribu demonstran yang menduduki Bandara Internasional Hong Kong. Terkait aksi demo ini, otoritas telah membatalkan semua penerbangan dari dan ke bandara internasional yang sibuk itu.

"Informasi yang saya dapat sebelum kami masuk adalah bahwa di gedung terminal penumpang di bandara tersebut, ada lebih dari 5.000 demonstran," ujar Kong Wing-cheung, pejabat kepolisian dari unit relasi publik seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (12/8).

Sementara itu, lumpuhnya Bandara Hong Kong tersebut juga berdampak pada tim renang dari Pemprov DKI Jakarta yang baru saja mengikuti Hong Kong Open Swimming Championship, 9-11 Agustus 2019. Total 47 orang tim renang DKI sudah dibawa ke KJRI Hong Kong. "Sudah keluar dari bandara menggunakan satu bus," kata Pelaksana Tugas Konsul Jenderal RI di Hong Kong Mandala S Purba saat dihubungi detikcom, Senin (12/8).

Tim renang sedianya kembali ke Jakarta pada malam tadi. Namun penerbangan dibatalkan karena ribuan demonstran sempat menduduki Bandara Hong Kong. "Sekarang dibawa ke KJRI," kata Mandala.

Menurut Mandala, tim renang DKI dijadwalkan akan kembali ke Jakarta pada pukul 09.15 waktu setempat, Selasa (13/8). Namun kepastian terbang ke Jakarta masih menunggu informasi lanjutan maskapai penerbangan. "Masih menunggu komunikasi ketua rombongan dengan pihak penerbangan. Mereka naik Cathay," sebutnya. (AFP/Rtr/dtc/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments