Kamis, 17 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Bupati Karo Akhirnya Minta Gubsu Usulkan Sinabung Jadi Bencana Nasional

Bupati Karo Akhirnya Minta Gubsu Usulkan Sinabung Jadi Bencana Nasional

*Hasil Investigasi NDC: Kerugian dan Rencana Relokasi Rp 4,477 T
Rabu, 22 Januari 2014 10:47 WIB
SIB/Sonry Purba
Menteri BUMN Dahlan Iskan menghibur anak-anak pengungsi yang ditampung di Paroki Katolik Jalan Irian Kabanjahe, Selasa (21/1)
Medan (SIB)- Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti akhirnya meminta Gubsu H Gatot Pujonugroho ST mengusulkan kepada pemerintah pusat agar bencana erupsi Gunung Sinabung dijadikan sebagai bencana nasional. Situasi semakin memburuk serta berdampak negatif yang semakin serius terhadap kehidupan masyarakat sekitar Gunung Sinabung.

Hal itu ditegaskan Bupati Karo dalam suratnya bernomor 361/0030/Bappeda/2014 tertanggal 18 Januari 2014 perihal usulan peningkatan status dan tingkat bencana erupsi Gunung Sinabung yang ditujukan kepada Gubsu.

Dalam surat setebal 3 halaman ini, Bupati Karo menyatakan, berdasarkan informasi dan hasil pemantauannya secara intensif, situasi  semakin memburuk akibat erupsi Gunung Sinabung. Dampak negatifnya semakin serius terhadap sarana kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Sinabung, seperti lahan-lahan pertanian yang secara total telah tertutup debu serta kehancuran secara massif seluruh tanaman di atasnya, perlu segera ditangani secara serius.

Berkaitan dengan itu,  kiranya Gubsu berkenan mengusulkan kepada pemerintah pusat, bahwa bencana ini dapat diterima dan ditetapkan sebagai bencana nasional dengan berbagai dasar pertimbangan. Di antaranya, status erupsi Gunung Sinabung terus mengkhawatirkan dan tidak diketahui tanda-tanda akan berhenti, sehingga telah memberikan beban psikologis yang amat berat kepada para pengungsi.

Selain itu, tulis Bupati Karo, jumlah pengungsi yang hingga kini telah mencapai 26.174 jiwa (8.161 KK) dari 27 desa dan 2 dusun dalam 4 kecamatan serta kerusakan rumah penduduk, areal pertanian yang tertimbun lava, kerusakan sarana dan prasarana wilayah maupun umum, dampak sosial ekonomi dan lingkungan sangat diperlukan penanganan yang serius dalam penanggulangannya.

Apalagi beban biaya yang harus ditanggung terlalu berat, bahkan tidak sanggup untuk dipikul APBD Karo, yakni 26.174 pengungsi x 10.000/hari = Rp261.740.000/hari. Masih disyukuri, bahwa sebahagian dari beban ini terpenuhi dari sumbangan spontanitas masyarakat luas, baik dari daerah Karo maupun dari luar Kabupaten Karo.

Selain itu, katanya, jumlah desa yang harus direlokasi segera mencakup 3 desa dengan 347 KK atau 1.186 orang (berada pada radius 3 Km dari Gunung Sinabung sesuai rekomendasi PVMBG).

Bupati juga membeberkan dampak negatif ikutan pada desa-desa yang berada di luar radius berbahaya (radius 5 Km), seperti Desa Batukarang, Sukatendel, Munthe, Merek dan lain-lain yang pada dasarnya juga tidak berbeda dengan desa-desa radius 5 Km. Karena di desa tersebut juga diterpa hujan debu dan musnahnya tanaman mereka.

Namun demikian, ujar Bupati Karo dalam suratnya yang ditembuskan kepada Kepala BNPB Jakarta, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Sosial dan Kepala BPNP Sumut, desa-desa tersebut sama sekali tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah Kabupaten Karo maupun sumbangan  spontanitas masyarakat.

Rp4.477 T
Dari hasil investigasi para pakar ilmuwan asal Tanah Karo yang tergabung dalam Neumann Development Center (NDC) Medan mengkalkulasikan, kerugian yang diderita pengungsi erupsi Sinabung dan rencana relokasi masyarakat ke daerah lain atau ke tempat yang dianggap lebih aman menghabiskan anggaran  Rp4.477.481.265.000.

Hal itu ditegaskan Dewan Pakar NDC Medan Prof Dr Ir Sukaria Sinulingga MEng, Dr Ir Budi D Sinulingga, MSi, Dr Sumbul Sembiring Depari MSc didampingi Ketua dan Sekjen Majelis Permusyawaratan Rakyat Karo (MPRK) Yusuf Pehulisa Sitepu, Roy Fachraby Ginting SH MKn dan tokoh masyarakat Karo Drs Pengarapen Sinulingga kepada wartawan, Selasa (21/1) di Medan.

“Dari hasil perhitungan kerugian dan rencana relokasi bencana erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, jumlahnya sangat signifikan mencapai Rp4.477 triliun lebih, sehingga Pemkab Karo kelihatannya tidak sanggup lagi mengatasi para pengungsi yang jumlahnya mencapai 17 ribu jiwa. Akhirnya menyurati Gubsu sekaligus mengusulkan peningkatan status erupsi Gunung Sinabung, menjadi bencana nasional,” tegas Budi Sinulingga.

Adapun perhitungan kerugian ini meliputi, jumlah pengungsi yang sepenuhnya korban langsung erupsi Gunung Sinabung hingga 19 Januari 2014 menurut BNPB mencapai 28.221 jiwa (8,873 Kepala Keluarga) dari 27 desa dan 2 dusun dalam 4 Kecamatan diperkirakan akan bertambah terus, mengigat radius sebaran debu vulkanik Gunung Sinabung setiap hari melanda masyarakat.

Selain itu, ujar Sinulingga, kerugian harta benda masyarakat berdasarkan hasil ovservasi lapangan sangat besar, yakni jumlah rumah penduduk yang rusak sebanyak 2.209 unit yang seluruhnya mencapai Rp234.750.000.000. Luas areal pertanian dengan tanaman yang menjadi fuso 10.408 ha dengan nilai kerugian sebesar Rp271.185.000.000. Begitu juga luas areal perikanan yang menjadi gagal panen seluas 19,78 hektar dengan total nilai kerugian dipekirakan Rp8.795.300.000.

Sementara kerusakan sarana dan prasarana  wilayah dan umum diakibatkan erupsi Gunung Sinabung meliputi, rusaknya balai pertemuan desa sebanyak 5 unit dengan kerugian  Rp2.500 miliar lebih, rusaknya rumah ibadah  10 unit, terdiri  dari 7 gedung gereja dan 3 mesjid dengan nilai kerugian Rp4 miliar.
Selain itu, ujar juru bicara NDC Medan Budi D Sinulingga dan Roy Fachraby Ginting,  juga ditemukan kerusakan sarana dan prasarana kesehatan sebanyak 12 unit, terdiri dari 2 unit Puskesmas dan 2 unit Puskesmas Pembantu dengan nilai kerugian Rp1.350 triliun, rusaknya sarana dan prasarana pendidikan, terdiri dari 79 ruang dengan nilai kerugian  Rp5.530 triliun.

“Juga ditemukan prasarana jalan termasuk saluran drainase sepanjang 5 Km mengalami kerusakan dengan nilai kerugian sebesar Rp3 miliar, kerusakan sarana dan prasarana pariwisata, terdiri dari shelter dan toilet dengan nilai kerugian sebesar Rp200 juta,” tegas Roy Fachraby.

Sedangkan jumlah desa yang hancur sedikitnya 27 desa dan 2 dusun. Sebanyak 3 desa di antaranya yang dihuni 347 KK atau 1.186 orang penduduk secara total telah tertimbun lava. Adapun ketiga desa tersebut  yakni Desa Bekerah, Simacem dan Suka Meriah seluruhnya harus direlokasi sesegera mungkin sesuai rekomendasi PVMBG yang diperkirakan menelan biaya Rp3.102.500.000.000.

“Jumlah desa yang berada di luar radius yang disebut daerah berbahaya yang pada dasarnya juga mengalami kerusakan cukup parah, seperti Desa Batukarang, Sukatendel, Susuk, Jandi Meriah, Singgamanik dan lain-lain,” ujar Roy Fachraby sembari menyatakan berdasarkan kalkulasi NDC Medan nilai keseluruhan kerugian dan rencana relokasi bencana erupsi Sinabung menelan dana  Rp4.477.481.265.000.

Dalam analisis NDC tersebut, juga dipaparkan dampak sosial ekonomi akibat erupsi Gunung Sinabung, di antaranya, kehilangan mata pencaharian dan kesempatan kerja, menurunnya jumlah pasokan sayur-mayur dan buah-buahan di Sumut, lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat, terjadinya gangguan pendidikan ribuan anak sekolah, merosotnya jumlah kunjungan wisata, gangguan terhadap pemenuhan kewajiban keuangan, konflik pasca bencana erupsi, beban biaya langsung rutin.

“Juga akan mengalami dampak lingkungan, seperti terjadinya kerusakan hutan, tercemarnya air sungai dan danau, tercemarnya udara yang sedemikian luas oleh debu vulkanik yang sangat menyesakkan,” tegas Roy sembari menyampaikan dampak psikologisnya juga sangat luas bagi mereka yang hidup di pengungsian, di antaranya hilangnya privasi dan timbulnya beban biologis berat bagi sebahagian besar keluarga pada usia subur. (A4/c).
 
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments