Minggu, 20 Sep 2020

Pembangunan Kawasan Danau Toba

Budaya; Potensi Sekaligus Tantangan

Rabu, 16 September 2020 08:47 WIB
Foto: Okezone

Ilustrasi

Medan (SIB)
Geopark Kaldera Toba tidak dapat terpisah dari kebudayaan yang ada pada daerah sekitarnya, yakni adat dan budaya Batak yang unik dan spesifik.

Keunikan Batak antara lain adanya empat aspek yang tidak lepas dari kehidupan mereka. Pertama adalah Ulos. Sejak lahir, bertumbuh dewasa, menikah, hingga meninggal, kehidupan orang Batak tidak terlepas dari Ulos. Lalu kedua adalah, prinsip 'hamoraon, hagabeon, hasangapon'.

Selanjutnya ada 'Dalihan na Tolu' sebagai konsep keseimbangan hidup orang Batak, serta keempat, 'partuturon' (tatanan hubungan marga) dalam kekerabatan orang Batak yang tidak ada dalam kebudayaan lain.

Hal itu dipaparkan General Manajer Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, Dr Ir Wan Hidayati MSi, saat membuka Seminar Internasional IASDABA (Ikatan Alumni Sastra Daerah Batak) membahas pengembangan Danau Toba, Jumat (11/9).

Seminar dipandu Tigor Tampubolon (Sekretaris IASDABA) dan diikuti oleh ratusan peserta secara virtual di Jakarta, Medan, 'bonapasogit' hingga luar negeri.

Lebih jauh Hidayati menyampaikan, sangat patut disyukuri bahwa Kaldera Toba sudah menjadi bagian dari UNESCO Geopark.

Sembari menunjukkan sertifikat UNESCO Geopark, Hidayati juga menyampaikan bahwa keberhasilan itu juga sekaligus tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya, ucap Hidayati mengingatkan seraya mengaku terharu dengan adanya seminar itu karena bisa membahas segala aspek dengan terbuka.

MELAYANI
Menanggapi nara sumber dari Hawaii, Prof Dr Uli Kozok MA, (pemerhati pariwisata dan peneliti yang lama tinggal di Danau Toba), seorang peserta seminar Kartini Sjahrir, membandingkan Bali dengan Danau Toba.

Menurut dia, dari sisi keindahan alam dan budaya, Danau Toba tidak kalah dengan Bali, tetapi wisatawan lebih memilih ke Bali. Alasan pertama ialah masyarakat Bali sudah siap menjadi pelayan. Hal itu berbeda dengan masyarakat di kawasan pariwisata Danau Toba yang cenderung tidak peduli akan pentingnya pelayanan.

"Infrastruktur penting, homestay juga penting, tetapi menurut saya, kalau mental melayani belum ada, pariwisata Danau Toba masih akan tetap begitu-begitu saja," kata Kartini.

Padahal, katanya, masyarakat Batak yang dikenal memiliki nilai budaya dan agama yang tinggi semestinya mampu menjadi pelayan. "Masyarakat di Kawasan Danau Toba belum siap menjadi pelayan. Sudah saatnya khotbah di gereja mengimbau masyarakat agar mau jadi pelayan. Layani tamu dengan sebaik-baiknya. Buat mereka nyaman," ujarnya.

Kartini memberi contoh, ketika suatu hari dia menginap di salah satu hotel di tepi Danau Toba, dan kebetulan di kamar hotel itu banyak rengit. Saat dia meminta pelayan hotel membersihkan rengit dari kamar, dia malah disuruh membersihkan sendiri. "Ketika saya minta bagaimana supaya rengit di kamar hotel itu hilang, pelayan kamar malah bilang, 'Itu biasa, Bu. Ibu bersihkan saja sendiri," kata Kartini Sjahrir.

Sementara Ephorus Emeritus HKBP Pdt Dr SAE Nababan berharap agar masyarakat sekitar Danau Toba bisa menikmati pembangunan yang dilangsungkan pada wilayah itu. Jangan nanti ada pembangunan, tetapi yang menikmati hanya orang tertentu atau yang berpengaruh saja.

SAE Nababan juga berharap supaya gereja terlibat dalam pembangunan karakter masyarakat di kawasan pariwisata Danau Toba.

"Betapa perlunya gereja untuk memoles karakter masyarakat karena tanpa karakter yang mau melayani, pariwisata Danau Toba akan sulit berkembang," katanya.

Sebelumnya, Uli Kozok dalam paparannya, mengatakan bahwa potensi yang dimiliki Danau Toba sangat luar biasa, tetapi potensi itu belum dimanfaatkan. "Menurut saya, potensi yang sudah digarap tidak sampai sepuluh persen," kata sejarawan Batak itu.

Ia mengajukan beberapa ide agar masyarakat di kawasan Danau Toba terlibat dan merasakan dampak dari pariwisata, antara lain merehabilitasi rumah tradisional menjadi homestay.

"Homestay bisa dikembangkan karena turis benar-benar seperti tamu. Namun harus disiapkan juga homestay yang layak dengan memperhatikan kebersihan, fasilitas toilet, dan makanan yang tersedia," jelas Uli.

Selain itu, agar masyarakat terlibat langsung. Atraksi wisata bermuatan lokal perlu dikembangkan, seperti proses mengambil nira atau tuak, martonun ulos, memasak makanan Batak, dan belajar tortor. "Itu sangat menarik untuk wisatawan," katanya.

Sedangkan pembicara lainnya, Dr Guiseppina Monaco dari Italia, mengatakan perlunya sumber-sumber informasi tentang pariwisata sehingga turis tidak tersesat. Bagaimana rute dari Medan ke Danau Toba, itu sangat penting bagi turis.

TAMU ADALAH RAJA
Di sisi lain, Tigor Tampubolon dalam pengantar pembukaan seminar, mengatakan, dulu (dan mungkin sampai sekarang) masyarakat yang tinggal di kawasan Danau Toba adalah masyarakat yang sangat terbuka dan sangat ramah terhadap tamu.

Itu tercermin dari ungkapan "Paramak na so ra balunon, partataring na so ra mintop", atau terjemahan bebasnya, tuan rumah yang tikarnya tak pernah digulung karena tamu silih berganti dan punya dapur yang tetap mengepul untuk memasak makanan para tamu.

Artinya bagi masyarakat Batak yang tinggal di kawasan Danau Toba, tamu dipandang sebagai raja sehingga harus dilayani dengan baik, jelas Tigor yang juga seorang enterpreneur dan selalu memberi perhatian terhadap kelestarian kawasan Danau Toba ini.

KEUNIKAN MASING-MASING
Sementara itu, Ketua IASDABA, Prof Dr Robert Sibarani MS mengatakan, prinsip UNESCO Geopark adalah berkaitan dengan pelestarian.

Pengembangan yang dilakukan jangan merusak dan menghilangkan apa yang sudah ada, termasuk kearifan lokal.

Robert menguraikan keanekaragaman budaya di Kawasan Danau Toba yang menurutnya harus dikembangkan untuk disuguhkan kepada wisatawan, sehingga peneliti sangat perlu untuk meningkatkan 'performance' budaya agar dapat lebih menarik perhatian dan harus berbeda wujudnya di setiap destinasi wisata. Artinya ada spesifikasi dan keunikan masing-masing.
Seminar yang diikuti peserta dari unsur pemerintah tujuh kabupaten di Kawasan Danau Toba, akademisi, mahasiswa, kaum milenial, pemerhati Danau Toba, tokoh komunitas lokal dan nasional dan tokoh agama ini diakhiri dengan paparan Direktur Utama Badan Pengelola Otorita Danau Toba.

Saat mengakhiri, Tigor Tampubolon mengatakan, penyelenggara webinar membagikan buku berjudul "Selagi Masih Siang", karya Pdt SAE Nababan kepada 50 peserta yang telah berkenan memberi masukan atau ide-ide konstruktif (secara tertulis) yang dengan mudah bisa diimplementasikan oleh masyarakat tanpa harus melalui proses yang panjang dan berbiaya besar.

Buku itu sebagai ungkapan terima kasih atas kontribusi yang diberikan dalam seminar atas inisiasi "Kelompok Studi Ilmiah Budaya Batak" yang tergabung dalam IASDABA. (R1/R7/c)

T#gs Budayakawasan danau tobaPembangunanPotensiTantangan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments