Minggu, 31 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Headlines
  • Beri Contoh Soal HTI, Menag akan Coret Kurikulum Bermuatan Radikalisme

Beri Contoh Soal HTI, Menag akan Coret Kurikulum Bermuatan Radikalisme

redaksi Jumat, 01 November 2019 09:30 WIB
Fachrul Razi
Jakarta (SIB) -Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan akan melakukan evaluasi kurikulum di sekolah. Dia mengatakan akan mencoret kurikulum yang mengandung unsur atau muatan radikalisme.

"Iya semua kurikulum kita lihat," kata Menag Fachrul Razi di kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (31/10).

Dia menyampaikan evaluasi ini terkait upaya pencegahan munculnya radikalisme. Jika ada kurikulum yang dirasa memicu radikalisme, Fachrul mengatakan akan mencoret kurikulum tersebut.

"Kalau ada yang bermuatan-muatan berbahaya untuk munculnya radikalisme pasti kita coret," tegasnya.

Fachrul memberikan gambaran kurikulum yang akan dicoret tersebut. Dia menyinggung mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam sebuah kurikulum yang dianggap memicu radikalisme.

"Ya kadang ada pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana pendapat anda tentang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Bila ada, hilang itu," ucap Fachrul.

Sebelumnya, rencana melakukan evaluasi kurikulum tersebut ditegaskan oleh Fachrul Razi ketika penyampaian program prioritasnya saat diundang oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy untuk mengonsolidasikan visi misi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kegiatan ini juga dihadiri oleh para menteri lainnya dan beberapa kepala lembaga.

"Sikap kita mesti sama. Kalau ada yang bersifat mendukung khilafah-khilafah itu, mendukung/mendukung negara lain, kamu di Indonesia harus hormat Indonesia, kamu bisa berubah nggak? Nggak bisa, keluar Indonesia, sikap kita harus sama karena semua itu dikit-dikit radikalisme. Nanti kami lakukan evaluasi kurikulum," kata Fachrul di Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Marahi Pejabat BUMN
Mengawali paparannya, Menag Fachrul bercerita saat dirinya memarahi pejabat BUMN yang tidak hormat pada bendera merah-putih saat upacara.

"Saya mulai dari lagu Indonesia Raya, saya contohkan saya waktu itu datang di suatu BUMN. Pada saat upacara dimulai dengan lagu Indonesia Raya ada seorang pejabat sama sekali tidak menunjukkan hormatnya pada lagu Indonesia Raya," kata Fachrul.

"Jangankan nyanyi, hormat pun tidak, begitu selesai, gitu saya tanya saya sebut namanya, Alfan apakah kamu sakit? 'Siap tidak Pak'. Kamu sakit. Kalau kamu tidak sakit pasti kamu hormat kepada Indonesia Raya karena kamu pegawai negeri dan kamu adalah abdi negara kalau kamu tidak hormat keluar kamu," ujar Fachrul dengan nada keras.

"Nah maksud saya kita semua juga harus punya sikap yang sama. Jadi sikap kita harus sama jangan nanti misalkan saya marahin di tempat lain deg-degan dan ketawa-ketawa, nggak, jangan. Kalau anda tidak bisa menghormati Indonesia percuma negara membayar anda keluar," sebutnya.

Lalu Fachrul bicara soal celana cingkrang. Menurut dia, secara agama celana tersebut tidak dilarang, namun secara aturan pemerintah berbeda.

"Kemudian masalah celana cingkrang-cingkrang itu tidak bisa dilarang dari aspek agama. Karena memang agama pun tidak melarang. Tapi dari aturan pegawai bisa, misal di tempat ditegur celana kok tinggi gitu? Kamu nggak lihat aturan negara gimana? kalo nggak bisa ikuti keluar kamu," tegasnya.

Fachrul lalu bicara terkait khilafah, menurutnya, sikap bangsa Indonesia harus sama. Jika ada pegawai pemerintah yang dukung khilafah, Fachrul mempersilakan orang tersebut keluar Indonesia.

"Sikap kita mesti sama. Kalau ada yang bersifat mendukung khilafah-khilafah itu kan mendukung negara lain, kamu dibayar Indonesia kamu harus hormat Indonesia, kamu bisa berubah nggak? Kalau ngga bisa keluar Indonesia keluar dari wilayah ini," imbuhnya. (detikcom/c)
T#gs HTI Kurikulum RadikalismeMenag
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments