Rabu, 19 Jun 2019
  • Home
  • Headlines
  • Bentrok di Malam Takbiran, 87 Rumah Hangus 2 Tewas di Buton

Bentrok di Malam Takbiran, 87 Rumah Hangus 2 Tewas di Buton

admin Sabtu, 08 Juni 2019 09:11 WIB
SIB/Ant/ Emil
DIBAKAR: Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6). Sebanyak 87 unit rumah dibakar setelah keributan antar pemuda dari dua desa berbeda di wilayah tersebut pada hari Rabu 5 Juni 2019 sekitar pukul 14.30 Wita. Akibat kejadian tersebut ratusan warga terpaksa mengungsi ke Desa Laburunci, Buton.
Kendari (SIB) -Dua orang tewas dan 8 luka akibat bentrok dan pembakaran 87 rumah di Desa Gunung Jaya, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Bentrok bermula dari konvoi sepeda motor berknalpot racing yang dibalas dengan panah.

Bentrokan mulanya terjadi pada Selasa (4/6) saat malam takbiran. Warga Desa Gunung Jaya merasa terganggu oleh konvoi warga Desa Sampuabalo, yang berkonvoi dengan motor berknalpot racing dan memainkan gas motornya.

"Keterangan La Aca (35) warga Desa Gunung Jaya mengatakan jika malam hari lebaran ada sekitar 40 pemuda dari Desa Sampuabalo melakukan konvoi dengan menggunakan knalpot racing dan memainkan gas motornya sehingga membuat masyarakat Desa Gunung Jaya merasa terganggu dan tidak menerimanya," ujar Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt dalam keterangan tertulis, Rabu (5/6).

Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00 Wita, Rabu (5/6), warga Desa Sampuabalo yang melintas dipanah oleh warga Desa Gunung Jaya.

"Akhirnya warga Desa Sampuabalo ini kembali ke desanya, melaporkan. Selang sekitar 30 menit, ada kurang-lebih seratus warga Sampuabalo melakukan penyerangan ke Desa Gunung Jaya, melakukan pelemparan batu dan pembakaran," terang Harry.

Dari data kepolisian, ada 87 rumah warga Desa Gunung Jaya yang terbakar. Satu mobil pikap dan empat sepeda motor juga dibakar.
Warga Desa Gunung Jaya juga diungsikan ke desa-desa terdekat.

"Satu orang korban dari Desa Sampuabalo yang terkena panah dan saat ini sudah mendapat perawatan di RSUD Buton," katanya.

Saat ini polisi, sambung Harry, berfokus memastikan keamanan di kedua desa agar tidak terjadi bentrokan susulan. Polisi melibatkan para tokoh setempat meredakan ketegangan.

"Dan dari tim yang sudah dibentuk Kapolda Sultra, gabungan dari Direktorat Intelkam dan Direktorat Reserse Kriminal Umum, saat ini sudah berada di sana dan melakukan penyelidikan melakukan pengejaran terhadap seluruh pelaku," ujar Harry.

Harry menjelaskan, hingga pukul 13.42 Wita, Kamis (6/6) situasi sudah kondusif. Warga kedua desa sudah membubarkan diri.
"Situasi di lokasi kejadian sudah kondusif. Namun aparat keamanan, baik Polri maupun TNI, masih melakukan pengamanan dan melokalisasi agar tidak meluas kejadian itu," tuturnya.

Bupati Buton La Bakry mengatakan sekitar 700 warga yang diungsikan. Mereka diungsikan ke Desa Laburunci, Kelurahan Kombeli, Desa Lapodi, dan beberapa desa tetangga.

"Ada 87 rumah terbakar dan sekitar 700 warga saat ini diungsikan di Desa Laburunci," ujar La Bakry, Kamis (6/6).

La Bakry mengimbau warga tetap menahan diri, apalagi suasana masih dalam suasana Lebaran.

"Semuanya harus menahan diri, jangan mudah terprovokasi, kita harus bisa menjaga daerah kita," katanya.

dalami motif
Polisi saat ini masih mendalami motif kericuhan di Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Polisi pun sedang menelusuri ada tidaknya unsur kesengajaan dalam peristiwa itu.

"Masih didalami untuk motifnya, apakah ada unsur perencanaan atau tidak," kata Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhart, Jumat (7/6).

Selain mendalami motif pembakaran, polisi juga telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari reserse Polres Buton dan Polda Sultra. Tim itu bertugas mengungkap provokator pembakaran.

"Tim gabungan dari Krimum (Kriminal Umum) sedang bekerja untuk mengungkap. Sampai saat ini (identitas provokator) masih kami dalami," ucap Harry.

Sementara itu, Plt Kadis Kesehatan Buton Djufri mengatakan, 2 orang korban yang meninggal disebabkan karena mengalami luka.
Namun dia belum mengetahui penyebab luka apakah diakibatkan benda tajam atau anak panah.

Sementara itu untuk korban luka-luka akibat anak panah dan sabetan benda tajam saat ini menjalani perawatan di puskesmas yang berada di dua wilayah desa yang bentrok.

"Kami dari kesehatan stand by 1x24 jam untuk melakukan perawatan terhadap korban," ujarnya.

Untuk korban meninggal dan luka-luka, lanjut Djufri hingga saat ini tercatat berasal dari dua desa bentrok.

Provokator akan Ditindak
Sementara itu, Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) Brigjen Iriyanto menegaskan akan menangkap pelaku pembakaran rumah warga buntut bentrok antarwarga di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton. Selain itu, provokator kerusuhan diburu.

"Kita tenangkan dulu masyarakat. Setelah masyarakat tenang, polisi akan melakukan pencarian siapa pelaku yang melakukan pembakaran dan provokasi," kata Iriyanto saat berkunjung ke lokasi dua desa yang terlibat bentrok di Kabupaten Buton, seperti dilansir Antara, Kamis (6/6).

Iriyanto mengaku sudah berkoordinasi dengan Gubernur Sultra soal hangusnya rumah warga itu.

"Saya sudah koordinasi dengan Gubernur. Gubernur akan memberikan kompensasi dan penggantian. Kerugian-kerugian silakan disampaikan kepada pemda," ujarnya.

Iriyanto juga mengatakan pihaknya bersama TNI akan bersama-sama membangun rumah-rumah korban pembakaran. Dia mengimbau kedua pihak menahan diri.

"Kami harapkan dan mohon dengan sangat kepada warga kedua pihak agar menahan diri. Ini adalah hari yang sangat kita tunggu-tunggu, yaitu hari yang fitri," ujarnya.

Menurutnya, Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dengan saling memaafkan. "Saya imbau masyarakat untuk tetap tenang. Provokator dan pelaku pembakaran rumah akan ditindak sesuai aturan perundang-undangan," katanya.

Iriyanto mengunjungi lokasi didampingi Bupati Buton La Bakri. Setelah meninjau Desa Gunung Jaya, mereka melanjutkan kunjungan ke Desa Sampoabalo.

Polisi Tetap Siaga I
Situasi di Desa Gunung Jaya, Buton, Sulawesi Tenggara, semakin kondusif pascabentrok. Meski begitu, personel Polda Sultra tetap siaga I berjaga di lokasi.

"Statusnya (personel) siaga I," kata Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt saat ditemui di Mapolda Sultra, Jumat (7/6).

Harry mengatakan status siaga personel itu sesuai arahan Kapolda Sultra Brigjen Iriyanto. "Arahan Bapak Kapolda Sultra, kami melaksanakan siaga I," ujarnya.

Status siaga I tersebut didukung dengan penambahan personel yang dikirimkan kembali Jumat pagi. Sebanyak 47 personel gabungan Polda dan Brimob sudah dikirim.

Dia pun berharap masyarakat, khususnya warga di Desa Gunung Jaya dan Desa Sampoabalo, menahan diri. "Mudah-mudahan bisa menahan diri, jangan terus terpancing, agar aktivitas bisa kembali berjalan seperti biasa," harapnya.

Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) telah membentuk tim menyelidiki bentrokan warga di Desa Gunung Jaya, Buton. Pelaku bentrok dan provokatornya masih diburu.

"Dari tim yang sudah dibentuk Kapolda Sultra, gabungan dari Direktorat Intelkam dan Direktorat Reserse Kriminal Umum, saat ini sudah berada di sana dan melakukan penyelidikan, melakukan pengejaran terhadap seluruh pelaku," kata Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt.

Belum ada pelaku bentrok yang ditangkap. Harry mengatakan pihaknya juga berfokus mengembalikan situasi agar benar-benar kondusif sehingga warga kedua desa bisa beraktivitas kembali. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments