Selasa, 20 Agu 2019
  • Home
  • Headlines
  • Basarnas Hentikan Operasi Pencarian Korban Lion Air

Basarnas Hentikan Operasi Pencarian Korban Lion Air

* Kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610 Terburuk Kedua di Indonesia
Minggu, 11 November 2018 10:24 WIB
Jakarta (SIB)- Badan SAR Nasional (Basarnas) memutuskan menghentikan operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat. Keputusan diambil setelah dilakukan evaluasi hasil pencarian korban selama tiga hari masa perpanjangan operasi.

"Berdasarkan evaluasi kita, peninjauan ke TKP, rapat staf dan masukan-masukan dari berbagai pihak. Kemarin kita hanya menemukan satu kantong jenazah, itu pun hanya pagi hari, setelah itu sore, malam, nihil. Hari ini kita cek ke lapangan, sampai saat ini juga nihil. Jadi, berdasarkan pantauan tersebut, kami dari Tim SAR Basarnas Pusat mengambil keputusan bahwa operasi SAR ini, secara terpusat disudahi atau ditutup hari ini," kata Kabasarnas Marsekal Madya M Syaugi di Posko Evakuasi Lion Air di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (10/11).

Meski ditutup, tim SAR Jakarta dan Bandung disebut bisa melaksanakan operasi SAR bila mendapat informasi mengenai temuan korban. Ditegaskan Syaugi, tim SAR Jakarta dan Bandung akan siaga menindaklanjuti informasi-informasi soal temuan korban.

Dalam operasi gabungan, total ada 196 kantong jenazah yang dibawa dari area pencarian korban termasuk puing/benda terkait pesawat rute Jakarta-Pangkalpinang tersebut. Sebanyak 77 korban pesawat Lion Air yang jatuh pada Senin (29/10) sudah teridentifikasi.

"Kami juga mohon maaf kepada seluruh masyarakat, terutama kepada keluarga korban, apabila dalam pelaksanaan evakuasi korban ini, belum menyenangkan semua pihak. Namun kita sudah melaksanakan sekuat tenaga, dengan kata kunci tiga yang selalu sampaikan, pemerintah hadir, serius, all-out dan bekerja memakai hati," tutur Syaugi.

Syaugi juga mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan dan semua pihak yang membantu operasi pencarian korban pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT610. 

Lanjutkan Pencarian CVR
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tetap melanjutkan pencarian cockpit voice recorder (CVR) black box.

"Tim kami akan tetap mencari black box semampu kami. Kami belum tahu sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di tempat yang sama.

Meski belum menetapkan batas waktu pencarian black box Lion Air, KNKT tetap mempertimbangkan biaya pencarian karena sejumlah peralatan yang didatangkan dari luar negeri.

"Salah satunya yang kemarin juga hari Jumat kita on boat-kan pinker yang lebih muktahir dan paling sensitif. Pinker finder ini sudah kita on boat-kan, namun sampai hari ini kita masih belum bisa menemukan posisi CVR atau black box yang satu lagi," sambungnya.

Kelanjutan pencarian CVR black box juga akan dilengkapi elemen baru dari Remotely Operated Vehicle (ROV). ROV ini ditempatkan di kapal-kapal pencari.
"Jadi nanti kita akan menggunakan kapal, beberapa kapal yang dilengkapi dengan ROV yang lebih besar dan canggih. Ada 4 kamera, dan di ROV akan ada scan sonar, juga yang paling penting di sini ada equipment baru yang di on boat-kan di ROV yaitu sub-bottom profiling yang bisa mendeteksi benda2 di dalam lumpur sampai kedalaman 4 meter," terang Soerjanto.

Kapal dan peralatan baru yang akan digunakan saat ini berada di Surabaya. Kapal pencarian CVR black box akan bergerak ke Jakarta, Minggu (11/11) atau Senin (12/11).

"Mungkin kalau sekarang dengan FDR saja kita sudah mungkin ya sekitar 70%-80%, hal ini bisa kita ketahui, kita perlu sempurnanya sampai 100% itu penyebab dari kecelakaan itu kita memerlukan CVR," katanya.

"Karena di CVR ini kita ingin apa yang terjadi di dalam kokpit pesawat, sehingga kita bisa ungkap mengevaluasi dari kecelakaan tersebut. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan," sambungnya.

KNKT saat ini masih menganalisis data dari FDR black box. Sejumlah temuan diungkap hasil investigasi sementara.

Ada temuan Airspeed Indicator Lion Air PK LQP yang rusak dalam empat penerbangan terakhir PK-LQP. Namun temuan itu belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kecelakaan JT 610. KNKT melanjutkan penyelidikan.

Termasuk juga kerusakan sensor AOA (angle of attack). AOA adalah pengukur sudut pesawat terhadap aliran udara. Sensor AOA menunjukkan perbedaan pada saat penerbangan sebelum JT 610, yaitu dari Bali ke Jakarta. Dalam penerbangan itu, AOA pesawat PK-LQP sebelah kiri berbeda 20 derajat dengan sebelah kanan.

Terburuk Kedua
KNKT juga menyatakan kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 merupakan kecelakaan terburuk kedua sepanjang sejarah penerbangan di Indonesia karena menelan banyak korban jiwa. Dalam kecelakaan jatuhnya pesawat Lion Air jumlah korban yang meninggal berjumlah 189 orang.

"Jadi ini kecelakaan terburuk kedua di Indonesia," kata Soerjanto.

Menurutnya, kecelakaan terburuk pertama terjadi pada pesawat Airbus A300-B4 Garuda Indonesia dengan penerbangan GA152 tahun 1997, yang menewaskan 222 penumpang di Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara pada 26 September 1997.

Saat itu, pesawat hendak mendarat di Bandara Polonia, namun karena kabut asap tebal menyebabkan pesawat menabrak tebing. 

"Kecelakaan perbangan di Indonesia (pertama) Garuda, 200 lebih orang (yang meninggal) di Medan," ungkap dia. 

79 Orang Teridentifikasi
Di pihak lain, Wakil Kepala RS Polri Kombes Haryanto mengatakan, dua jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP teridentifikasi. Total ada 79 korban yang teridentifikasi tim DVI Polri di RS Polri.

"Ada dua penumpang yang dinyatakan teridentifikasi," ujar  Haryanto dalam jumpa pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Kedua korban itu yakni Rivandi Pranata (28) yang teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA. Kedua, Joyo Nuroso, laki-laki (50) yang juga teridentifikasi melalui DNA.

"Hingga saat ini, penumpang yang telah teridentifikasi sebanyak 79 penumpang dengan rincian laki-laki 59 orang dan perempuan 20 orang," ujar Haryanto. (detikcom/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments