Rabu, 23 Sep 2020
  • Home
  • Headlines
  • Banjir Bandang dan Longsor di Sentani Papua, Puluhan Tewas

Banjir Bandang dan Longsor di Sentani Papua, Puluhan Tewas

* NTB Gempa, 40 Turis Terjebak di Air Terjun, 2 Tewas, Jokowi Minta Utamakan Evakuasi
admin Senin, 18 Maret 2019 08:52 WIB
Ant/Dokumentasi BNPB
BANJIR BANDANG PAPUA : Satu pesawat hanyut terbawa banjir bandang di Lapangan Terbang Adventis Doyo, Papua, Sabtu (16/3).
Jakarta (SIB) -Banjir bandang dan longsor di Sentani, Jayapura, Papua, menewaskan 58 orang. Banjir tersebut terjadi sejak Sabtu (16/3) malam.

Banjir tersebut juga membuat 4 ribuan warga mengungsi dan 350-an bangunan rusak. Demikian Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jl Pramuka Raya, Jakarta, Minggu (17/3):

Dijelaskan, hujan sangat deras mengguyur kawasan Sentani, Jayapura.

Pukul 18.00 WIT hujan mengalami fluktuatif dengan curah hujan menjadi deras mencapai 50.5 mm/jam.

Pukul 22.00-00.00 WIT, ketika hujan deras di gunung maka palung sungai yang ada di sekitar Sentani tidak mampu menampung. Kemungkinan indikasi bahwa sebelumnya terjadi longsoran-longsoran yang kemudian membendung alur-alur sungai di hulu.

"Itulah yang menyebabkan mengapa terjadi banjir bandang dengan material kayu-kayu gelondongan, batu-batu sedimen banyak yang dialurkan ke bagian hilirnya. Kemudian menerjang 9 kelurahan-kelurahan di Kecamatan Sentani," ujar Sutopo.

Selama 8 jam diguyur hujan, curah hujan mencapai 235,1 mm/jam. Menurut Sutopo, curah hujan ini sangat ekstrem.

Polisi: 70 Orang Meninggal
Sementara itu, polisi menyatakan, jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di Sentani, Jayapura, menjadi 70 orang. Dari total korban jiwa, 17 di antaranya sudah teridentifikasi.

"Korban meninggal dunia 70 orang, korban luka-luka 43 orang," ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal di Jayapura, Minggu (17/3).

15 Jenazah sudah diserahkan polisi ke pihak keluarga. Untuk jasad lainnya, polisi masih melakukan identifikasi.

"15 Jenazah telah diserahkan kepada keluarga korban, sedangkan 2 jenazah belum diserahkan menunggu keluarga korban," katanya.

Sedangkan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jayapura, Putu Arga Sujawadi, mengatakan, 63 orang meninggal di Kabupaten Jayapura dan 7 korban tewas lain di Kota Jayapura.

"Data yang kami terima dari posko utama, korban jiwa meninggal sampai 14.50 WIT sebanyak 63 jiwa dan ditambah 7 orang di kota Jayapura untuk korban luka ringan 75 orang dan luka berat 30 orang," kata Putu.

Sedangkan untuk korban luka sebanyak 105 orang. Mereka dirawat di berbagai tempat.

"Ada di Puskesmas Sentani, RSUD Yowari dan Dian Harapan," ucap Putu.

Gunung Cycloop Gundul
BNPB menduga selain karena tingginya curah hujan, banjir di Sentani disebabkan karena rusaknya ekosistem di Gunung Cycloop, Jayapura, Papua. Kerusakan hutan di sana sudah berlangsung sejak lama.

"Dan kalau kita melihat yang ada di Gunung Cycloop banyak kerusakan karena adanya pembabatan hutan," ucap Sutopo Purwo Nugroho.

Daerah pegunungan yang harusnya menjadi hutan sebagai daerah resapan dan penahan longsor malah disulap menjadi ladang dan kebun. Hasilnya, saat hujan deras longsor gampang terjadi.

"Kemudian digunakan untuk beberapa kebun, ladang dan sebagainya sehingga kerusakan hutan sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya," ucapnya.

Sutopo menjelaskan, pada 12 tahun lalu silam, banjir serupa sempat terjadi. Banjir pada kala itu juga menimbulkan korban jiwa.
"Tahun 2007, di wilayah Sentani di sini pernah mengalami banjir bandang juga yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan yang ada di sana," tutur Sutopo.

Tembok Roboh
Di bagian lain, banjir dengan arus yang deras itu juga merobohkan tembok rumah kos subuh kemarin.

Tembok rumah kos yang memiliki 27 kamar itu ambruk, tepatnya di bagian belakang karena disebabkan banjir. Air mengikis fondasi tembok yang akhirnya roboh pada Minggu (17/3), pukul 05.00 WIT.

Meri, salah satu penghuni kos, mengaku sejak pukul 01.00 WIT itu sudah ada bunyi retak-retak di bagian belakang kos. Namun, karena penghuni sebagian terlelap, mereka tidak bisa mengantisipasi.

Puluhan penghuni yang berada di dalam kos-kosan itu pun panik. Mereka berlarian keluar dengan membawa barang dan harta bendanya lainnya dari dalam kamar.

Sebagian penghuni membawa semua barangnya, yakni pakaian, alat dapur, dan barang berharga serta surat-surat penting lainnya lalu ke luar rumah. Ada juga yang berlari bermodal pakaian yang dikenakan di badannya saja.

Penghuni juga cepat-cepat mengeluarkan kendaraan roda dua miliknya ke luar tempat kos untuk mencari tempat yang aman untuk memarkir kendaraannya. Tak hanya motor dan barang yang dikeluarkan, penghuni juga sibuk menelepon keluarganya memberitahukan musibah itu.

Mama Arga, penghuni kos lainnya, mengatakan ia dan anak-anaknya berada di kamar paling depan. Arga menduga tembok roboh karena ada bolongan (lobang) di bagian tembok.

"Saya bawa anak-anak ke luar rumah karena takut terjadi seperti itu, makanya kami mengungsi dulu untuk sementara," kata Arga, yang dikutip dari Antara.

Diutamakan
Di bagian lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta penanganan banjir bandang di Sentani, Papua lebih difokuskan kepada evakuasi korban. Jokowi sudah memerintahkan Kepala BNPB Doni Monardo untuk mengecek langsung penanganan banjir bandang di Sentani.

"Saya sudah perintahkan (Kepala BNPB) secepatnya untuk datang ke lokasi hari ini. Beliau langsung ke sana. Dan kita harapkan, yang paling penting penanganan evakuasi secepat-cepatnya. Agar mengurangi korban yang ada," kata Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/3).

Jokowi juga sudah meminta BNPB memperhatikan kondisi daerah lainnya yang terkena banjir bandang. Dia meminta untuk diberi laporan secepatnya terkait kondisi terakhir Sentani serta daerah lain yang terdampak banjir.

"Kemudian saya sudah sampaikan juga agar segera dilaporkan hal-hal yang penting yang bisa kita lakukan karena banjir bandang tidak hanya di Sentani saja. Di provinsi lain juga ada. Kabupaten lain kota lain juga ada," ujar Jokowi.

Jokowi menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban. Dia telah meminta jajarannya untuk melakukan penanganan di hulu untuk mencegah banjir bandang terulang kembali.

"Terakhir saya ingin sampaikan duka cita yang mendalam pada seluruh korban yang meninggal karena banjir bandang itu," sebutnya.

Gempa NTB
Di tempat lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat mengevakuasi lima wisatawan dari sekitar 40 orang wisatawan di air terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Mereka kena longsor pascagempa 5,8 SR yang mengguncang daerah itu.

"Dari informasi yang kami terima baru bisa dievakuasi 5 orang, 2 orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka, 1 orang dirawat di Puskesmas Bayan," kata Kepala BPBD NTB Muhammad Rum di Mataram sebagaimana dilansir Antara, Minggu (17/3).

Para wisatawan ini tertimpa tanah longsor akibat adanya gempa di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara selatan yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani tersebut. Korban dominan berasal dari wisatawan Malaysia dan domestik.

Menurut dia, BPBD Kabupaten Lombok Utara dan Dinas Kesehatan Lombok Utara sudah mengirimkan empat ambulance ke lokasi kejadian.

Sebelumnya, Nusa Tenggara Barat diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR), Minggu (17/3) pukul 14.07 WIB atau 15.07 Wita, namun tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menunjukkan pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,30 lintang selatan dan 116,60 bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer (km).

Pusat gempa berada di laut pada jarak 24 km timur laut Kabupaten Lombok Timur, 36 km timur laut Kabupaten Lombok Utara, 37 km barat laut Pulau Panjang, Kabupaten Sumbawa, dan 63 km timur laut Kota Mataram. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments