Senin, 09 Des 2019

BPS Temukan Harga Rokok Sudah Naik di 50 Kota

redaksi Selasa, 03 Desember 2019 13:29 WIB
Ant/M Risyal Hidayati
INFLASI NOVEMBER EBESAR 0.14 PERSEN : Pedagang mempersipakan bawang putih yang akan dijual di Pasar Senen,Jakarta,Senin(2/12).Badan Pusat Statistik(BPS) mencatat pada November 2019 terjadi inflasi sebesar 0,14 persen.Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen(IHK),57 Kota mengalami inflasi dab 25 Kota mengalami deflasi.
Jakarta (SIB)
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kenaikan harga rokok sudah terjadi secara bertahap di 50 kota di Indonesia. Kenaikan harga ini sebagai antisipasi dari keputusan kenaikan cukai yang berlaku pada awal Januari 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rokok masuk dalam kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang tercatat inflasi sebesar 0,25% dengan andil 0,04%.

Di sana komoditas yang dominan memberikan andil kepada inflasi adalah rokok kretek dan rokok kretek filter, masing-masing 0,01%," kata Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (2/12).

Berdasarkan pemantauan BPS di 82 kota, kenaikan harga rokok secara bertahap sudah terjadi di 50 kota.

"Sejak beberapa bulan terakhir, rokok di level konsumen sudah naik pelan-pelan. Bulan lalu juga masing-masing sudah menyumbang 0,01%, makanya pedagang di bawah mengantisipasi rencana kenaikan rokok pada bulan Januari. Jadi sudah mulai naik pelan-pelan selama beberapa bulan terakhir," jelas dia.

Berdasarkan catatan BPS, pria yang akrab disapa Kecuk ini menuturkan kenaikan harga jual rokok terjadi di Sibolga.

"Kalau kita lihat pemantauan kita rokok kretek filter 0,70%. Naiknya pelan-pelan. Ini terjadi kenaikan di 50 kota. Kenaikan tertinggi di Sibolga. Kemudian di beberapa kota seperti Tegal, Madiun, Pontianak naik 2%. Jadi pedagang naikin tipis-tipis. Supaya nggak kaget," ungkap dia.

BPS mencatat bahwa inflasi pada November 2019 sebesar 0,14%, di mana penyebab utamanya adalah kenaikan harga pada kelompok bahan makanan seperti harga bawang merah, tomat sayur, daging ayam ras, telur ayam ras dan beberapa sayur dan buah-buahan.

Lalu penyebab kedua disumbangkan oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Dapat diketahui, mulai 1 Januari 2020 tarif cukai rokok akan naik rata-rata 21,56%, dengan kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok rata-rata sebesar 35%. Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 152 tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau.

Kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96%. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42%, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84%.

Sumut Deflasi
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) mengungkapkan, November 2019 seluruh kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Sumatera Utara ini mengalami deflasi sebesar 0,66 %.

"Jadi deflasi Sumut sebesar 0,66 % yakni gabungan dari 4 kota Indeks Harga Konsumen seperti Sibolga, deflasi sebesar 0,48 %, Pematangsiantar 0,10 %, Medan 0,77 % dan Padangsidimpuan deflasi 0,05," ungkap Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi dalam keterangannya setiap awal bulan kepada wartawan di kantornya Jalan Asrama Medan, Senin (2/12).

Ia menyebutkan, deflasi di November ini tertinggi yakni Medan 0,77 % atau terjadi penurunan indeks dari 143,39 pada Oktober 2019 menjadi 142,29 pada Nopember 2019.

"Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks 3 kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan sebesar 2,90 %, kelompok sandang 0,36 % dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,26 %, ungkapnya.

Disebutnya, komoditas utama yang mengalami penurunan harga Nopember menyebabkan terjadi deflasi antara lain harga cabai merah turun 15,63 %, harga ikan dencis turun 13,29 %, tarif angkutan udara turun 4,05 %, cabai hijau turun 17,60 %, telur ayam ras turun 3,64 %, harga daging ayam ras turun 1,83% dan harga sawi hijau turun 10,94 %.

Di kesempatan itu, Kepala BPS Sumut mengatakan, Desember ini termasuk bulan kritis karena kemungkinan harga-harga komoditas strategis bakal naik misalnya harga cabai merah dan tiket pesawat udara, karena itu TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) harus bekerja keras.

Dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera 18 kota tercatat deflasi, tertinggi di Tanjung Pandan sebesar 1,06 % dengan IHK 146,21 dan terendah di Batam 0,01 % dengan IHK 137,96. (detikFinance/M2/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments