Senin, 16 Sep 2019

BPPT Ditantang Temukan Teknologi Multibencana

admin Jumat, 23 Agustus 2019 10:53 WIB
Kepala BPPT Hammam Riza
Jakarta (SIB) -Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menantang Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menghasilkan inovasi teknologi yang bisa memitigasi sekaligus menjadi sistem peringatan dini bencana atau early warning system (EWS).

Doni menyebutkan, saat ini banyak bencana yang memerlukan pendekatan teknologi untuk mitigasi dan pencegahan dini, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi setiap tahun. Teknologi mitigasi bencana juga sangat dibutuhkan. Menimbang Indonesia adalah negara yang rawan gempabumi, tsunami, juga ancaman bencana hidrometeorologi.

"Tolong, para peneliti di BPPT carikan solusi agar setiap tahun tidak boleh ada kebakaran (karhutla) lagi. Biaya tiap tahun untuk pemadaman, kerugian ekonomi dan kesehatan sangat besar," kata Doni dalam peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-41 BPPT di Jakarta, Rabu (21/8).

Dari laporan Bank Dunia, karhutla hebat di tahun 2015 menyisakan kerugian besar mencapai Rp 221 triliun. Karhutla menurutnya adalah ancaman permanen yang juga membutuhkan solusi permanen, apalagi 99% karhutla terjadi karena ulah manusia.

Doni menambahkan, membuka lahan dengan cara membakar dipandang sebagai cara yang mudah dan murah. BPPT perlu mencari solusi teknologi terbaik bagaimana membuka lahan tanpa membakar. Selain karhutla, BPPT juga harus menghasilkan teknologi yang mampu mengolah emas tanpa sianida dan merkuri. Saat ini, masih ada praktik penambangan skala kecil atau rakyat yang belum paham akan bahaya merkuri.

PROGRAM UNGGULAN
Menjawab keinginan Kepala BNPB, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan tahun 2020 akan ada super program teknologi kebencanaan, termasuk penanganan karhutla.

"Kita tidak hanya berpikir tsunami EWS, tetapi lebih kepada sistem peringatan dini multibencana," ucap Hammam.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena mengatakan, untuk karhutla, BPPT merekomendasikan mengutamakan mitigasi, dengan teknologi pengelolaan lahan tanpa bakar, tata kelola air direncanakan secara sistematis mengikuti siklus cuaca tahunan.

"Kita sudah memikirkan cadangan air sejak musim hujan, bukan pada saat kekeringan telah terjadi. Dengan teknologi modifikasi cuaca, bisa membantu menaikkan cadangan air pada saat akhir musim hujan menjelang musim kemarau," paparnya.

Kemudian kanalisasi di lahan gambut juga sudah ditata dan dilengkapi embung atau bendungan. Untuk kebutuhan pengolahan lahan pertanian bisa dilakukan dengan menabur subtrat, seperti pupuk yang mengandung bahan organik atau bakteri untuk pengayaan tanahnya. BPPT sudah punya biopeat untuk itu.

Sementara itu, untuk EWS tsunami, dalam sistem peringatan dini nasional, BPPT diberikan tugas untuk membangun EWS tsunami dari sisi lautnya, seperti buoy tsunami dan cable based tsunameter yang berfungsi sebagai alat untuk verifikasi terjadinya tsunami di tengah laut. Secara nasional pusat untuk EWS tsunami ada di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

"Teknokogi BPPT dan beberapa institusi lain sudah siap, walau mungkin belum cukup dari sisi kuantitasnya karena luasnya wilayah Indonesia," ungkapnya.

Hammam menambahkan, memasuki usia ke-41, BPPT terus berbenah diri menjadi lebih baik, terus berinovasi dan berkontribusi bagi negara.

Beberapa produk inovasi yang diluncurkan oleh BPPT dan telah bekerja sama dengan dunia industri antara lain kit diagnostik demam berdarah dengue, cangkang kapsul halal dari rumput laut, rubber airbag, rumah Kohana tahan gempa.

"Tahun 2020 BPPT dipercaya untuk memimpin atau mengkoordinir 5 flagship nasional dan satu super proyek nasional," ungkapnya.
Lima flagship itu antara lain, pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil, industri garam terintegrasi, pesawat udara nir awak Male atau dronedengan kemampuan terbang jarak jauh. Kemudian ada pula stasiun pengisian cepat untuk mobil listrik dan bahan baku obat.

Sementara itu untuk flagship super proyek berupa sistem peringatan dini tsunami menggunakan buoy dan cable base tsunameter. (SP/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments