Sabtu, 07 Des 2019
  • Home
  • Headlines
  • Archandra Sebut PNS Indonesia Dipensiunkan di Usia Produktif

Archandra Sebut PNS Indonesia Dipensiunkan di Usia Produktif

admin Kamis, 29 November 2018 11:37 WIB
Jakarta (SIB)-  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Archandra Tahar  menyebut bahwa pegawai negeri sipil di Indonesia dipensiunkan pada usia yang menurutnya masih terbilang  produktif. 

"Bicara usia pensiun ini menarik, PNS dipensiunkan pada umur 55 sampai 58, sementara di luar sana, khususnya di Amerika Serikat, pekerja berusia 56 sampai 65 tahun itu dinilai paling produktif," sebut  Archandra saat menyampaikan pidatonya dalam forum diskusi di Jakarta, Rabu (28/11). 

Ia menjelaskan, rentang usia 56-65 tahun dinilai produktif, karena pekerja pada umur tersebut memiliki  pengalaman yang matang, dan diyakini cenderung stabil dari sisi emosional. 

"Pekerja pada rentang usia 56-65 tahun juga tidak memiliki banyak tanggungan, karena sebagian besar  anak-anaknya sudah mandiri. Jadi tidak hanya kematangan dalam pengalaman kerja, mereka juga fleksibel  dalam membagi waktu," sebut Archandra. 

Wamen ESDM itu lanjut menjelaskan, banyak anak muda yang saat ini berinovasi mengembangkan teknologi dan  berkecimpung di perusahaan rintisan, justru membutuhkan dukungan dari para pekerja pada usia produktif  tersebut. 

"Di Indonesia justru dipensiunkan (PNS-nya), dan mereka pun banyak diambil oleh sektor swasta, jadi  swasta kita maju," tambahnya. 
Dalam sesi diskusi itu pun, Archandra melempar pertanyaan dengan nada retoris, khususnya mengenai  kemungkinan perpanjangan usia pensiun bagi PNS di Indonesia. 

"Saya cuma bertanya, mungkin tidak ya, orang-orang yang matang itu, jangan dipensiunkan dini, karena  masih banyak energinya," tutur Archandra. 
Dalam sesi FGD bertajuk "Peningkatan Kompetensi Lulusan Pendidikan Vokasi melalui Sertifikasi Kompetensi  Bidang Minyak dan Gas Bumi dalam Rangka Link and Match" di Jakarta, Rabu, Archandra menyebut beberapa  pertanyaan yang harus diperhatikan pakar dan pemerhati yang hadir pada kegiatan diskusi itu. 

Pertanyaan yang dimaksud di antaranya meliputi, bagaimana lulusan vokasi dan sekolah kejuruan menghadapi  perekonomian yang tengah memasuki era revolusi industri 4.0, dan bagaimana para lulusan itu merespon  masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang akan membuka keran tenaga kerja dari negara kawasan Asia Tenggara. 

"Apa yang kita harapkan dari lulusan vokasi, apa kita menginginkan mereka membuat lapangan kerja, atau  hanya masuk ke lapangan kerja yang telah diciptakan oleh industri," sebut Archandra bernada retoris. 

Sesi FGD yang diadakan Kementerian ESDM itu, turut diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara  perwakilan sekolah vokasi dengan pihak industri. (Antaranews/f)

Editor: admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments