Sabtu, 16 Nov 2019
  • Home
  • Headlines
  • Ancaman Terorisme Masih Jadi Atensi Kapolri di 2019

Ancaman Terorisme Masih Jadi Atensi Kapolri di 2019

* Jumlah Polisi yang Terjerat Narkoba Meningkat
Admin Jumat, 28 Desember 2018 09:55 WIB
SIB/INT
Jakarta (SIB)  -Kejahatan terorisme masih menjadi atensi Kapolri Jenderal Tito Karnavian di 2019 mendatang. Tito mengatakan meski masih menjadi ancaman keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), polisi merasa terbantu dengan adanya Undang-undang Nomor 5/2018.

"Meskipun ada potensi ancaman, tapi dengan adanya kemampuan yang lebih kuat dan UU yang lebih kuat, kita bisa mengatasi mereka," kata Tito dalam acara Rilis Akhir Tahun 2018 di Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/12).

Menurut Tito, terorisme akan terus hidup selama kelompok radikal Islamiq State of Iraq and Syria (ISIS) masih ada dan mengembangkan paham mereka di dunia internasional, termasuk Indonesia.

"Selagi belum bisa selesai sepenuhnya, mereka akan berupaya menggerakkan jaringan di luar negeri agar bergerak juga. Mengalihkan perhatian seperti di Eropa, Amerika, dan Asia Tenggara, kelompok-kelompok yang ada di kita (Indonesia) bisa saja bergerak," terang Tito.

Di samping kejahatan terorisme, Tito menuturkan, Polri juga mengidentifikasi kejahatan lain yang diprediksi rawan terjadi yaitu gangguan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, konflik sosial, kejahatan siber dan penyelundupan narkoba.

"Berbagai bentuk konflik sosial seperti aksi intoleransi, konflik SDA, konflik agraria dan lain-lain," tutur Tito. 

Meningkat
Pada bagian lain, mengatakan jumlah anggotanya yang mengkonsumsi narkoba meningkat di 2018. Dalam catatan Polri, terdapat 244 anggotanya yang diproses pidana dan 297 anggotanya yang ketahuan mengkonsumsi.

"Pelanggaran disiplin dan pidana terkait narkoba mengalami peningkatan. Pelanggaran disiplin berupa konsumsi narkoba meningkat 2,8 persen. Sedangkan pelanggaran pidana narkoba meningkat 221 persen dibanding 2017," kata Tito.

Pada 2017, jumlah anggota yang mengkonsumsi narkoba sebanyak 289 orang. Sementara yang dijerat pidana ada 76 orang.

"Meningkatnya angka tersebut didorong oleh upaya proaktif dan ketegasan pimpinan Polri untuk menindak semua bentuk pelanggaran terkait narkoba, termasuk yang dilakukan personel Polri," ujar Tito.

Selain di kasus narkoba, pelanggaran pidana yang tercatat antara lain tindak asusila, penipuan, pencurian, pencabulan.

"Zina ada 6 orang, penipuan 4 orang, pencurian 6 orang, pencabulan ini meningkat dari 2017 satu orang menjadi 3 orang," terang Tito. 

Belum Puas
Dalam kesempatan itu, Tito mengaku institusinya belum mampu mewujudkan kesetaraan gender. Saat ini, anggota polisi wanita (polwan) baru 36.595 orang atau 8,3 persen dari jumlah keseluruhan 443.379 anggota Polri.

"Terus terang, belum puas dengan angka ini. Menurut saya belum menggambarkan prinsip equality dan emansipasi," kata Tito.

Tito menuturkan polwan memiliki kelebihan yang tak dimiliki polisi laki-laki (polki). Salah satunya adalah strategi pendekatan secara emosional kepada saksi, korban, dan tersangka perempuan. Polwan juga, dinilai Tito, lebih kebal terhadap godaan korupsi.

"Kebal terhadap budaya koruptif dan lain-lain," ujar Tito.

Tito berharap ke depannya SSDM Polri mampu menaikkan kuota polwan pada saat melakukan rekrutmen anggota. "Mungkin ke depan perlu adanya kenaikan rekrutmen untuk polwan, sehingga nantinya terwujud prinsip equality," ucap Tito.

Tito lanjut menerangkan, Polri telah berupaya mewujudkan prinsip kesetaraan dengan menambah jumlah personel perempuan sebanyak 636 orang. Mereka berasal dari Pendidikan Pembentukan Polri.

"Pada 2018, terjadi penambahan personel polwan sebanyak 636 personel yang berasal dari lulusan Pendidikan Pembentukan Polri. Total peserta didik tahun ini, laki-laki dan perempuan, jika digabungkan 10.791," jelas Tito. (detikcom/c)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments