Minggu, 20 Sep 2020
  • Home
  • Headlines
  • Ancaman Deindustrialisasi Mengintai RI Gara-gara Sektor Manufaktur

Ancaman Deindustrialisasi Mengintai RI Gara-gara Sektor Manufaktur

redaksi Rabu, 06 November 2019 15:31 WIB
Analisis
Ilustrasi

Jakarta (SIB)
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani mengingatkan ancaman deindustrialisasi dini yang gejalanya dialami oleh Indonesia, yaitu

penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sektor manufaktur sejauh ini memang masih jadi primadona dengan memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan capaian 19,52% (yoy). Namun menurut Rosan bila melihat sejarah ke belakang, angka tersebut mengalami penurunan.


"Sekarang manufaktur kita ke GDP berapa? 19,5%. Di 2004 itu masih hampir 29%, 30%. Turun terus, turun terus makanya kita sudah terjadi deindustrialisasi dini," kata Rosan di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa (5/11).


Bahkan menurutnya, penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sudah berlangsung sejak 20 tahun terakhir. Tentu saja itu menjadi pekerjaan rumah (PR) buat Indonesia.


"Oleh sebab ini PR-nya sangat sangat tidak gampang untuk meningkatkan industrialisasi," jelasnya.
Dia menyarankan pemerintah untuk fokus terhadap sejumlah subsektor di industri manufaktur. Pemerintah akan kesulitan bila ingin mendorong sektor manufaktur secara keseluruhan.


"Sekali lagi saya katakan skala prioritas. Kita nggak bisa semua. Kita punya keterbatasan resource dari pendanaan, dari kemampuan, dari sumber daya manusia. Kita harus pilih ya," sebutnya.


Jadi dia mengusulkan ada skala prioritas industri yang mau kembangkan. Skala prioritas itu untuk memetakan industri unggulan hingga bahan baku yang bisa dioptimalkan.


"Nah habis itu kebijakan fiskal dan moneter dan yang lainnya, insentifnya ditujukan kepada industri itu. Jadi ada kerangkanya," ujarnya.


"Jadi kalau kita mau kembangkan semua industri nggak gampang. Kita harus 'ini yang kita kembangkan dulu' kenapa? karena kita raw material-nya ada, kita punya kemampuan, market kita ada, kan harus dipilah-pilah," tambah Rosan. (detikFinance/t)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments