Minggu, 20 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Analisis Pakar Gestur: Megawati Melengos, Surya Paloh Marah

Analisis Pakar Gestur: Megawati Melengos, Surya Paloh Marah

admin Kamis, 03 Oktober 2019 12:15 WIB
Handoko Gani
Jakarta (SIB) -Nuansa dinginnya hubungan antara Ketum NasDem Surya Paloh dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam acara pelantikan anggota DPR/MPR sempat tersorot kamera. Kedua tokoh politik ini tak saling bersalaman. Isu keretakan di antara keduanya pun makin kuat. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari peristiwa ini?

Pakar gestur Handoko Gani menjelaskan analisanya terkait adegan ketika Megawati yang tidak menyalami Surya Paloh dan malah melengos. Menurutnya, sikap melengos Megawati ini adalah respon dari gestur Surya Paloh.

"Sebelum melengos ini, saya berhipotesis bahwa gerakan melengos ini lebih disebabkan karena gestur Surya Paloh. Bagi Bu Mega, gestur tersebut mungkin dianggap sebagai penolakan duluan oleh Surya Paloh. Sayangnya, kita yang tidak melihat visual ekspresi Surya Paloh tidak bisa mengambil kesimpulan," kata Handoko Gani, Rabu (2/10).

Dia menduga, peristiwa ini dipicu oleh kesalahpahaman antara keduanya. Saat itu, Surya Paloh seperti sedang melihat ke arah lain. "Namun, bila saya melihat rangkaian gestur di atas, peristiwa ini disebabkan kesalahpahaman karena mungkin Pak Surya Paloh sedang melihat ke arah lain atau memang hal itu merupakan kebiasaan beliau saja," ujar pakar gestur yang memiliki sertifikasi penggunaan alat sejenis Poligraf bernama Layered Voice Analysis ini.

Dia lantas membahas gestur Surya Paloh saat duduk kembali. Menurutnya, gestur saat duduk ini berisi kemarahan. Selain itu, dia menduga, pemicu gestur ini adalah melengosnya Megawati.

"Gerakan duduk ini adalah gerakan respon atas sebuah aksi sebelumnya. Gerakan ini berisi emosi marah. Dan yang namanya marah, pasti ada pemicunya. Jadi, pemicu Surya Paloh duduk begini adalah melengosnya Bu Mega dan pemicu Bu Mega melengos dan sejumlah ekspresi/gerakan mengabaikan Surya Paloh adalah tidak adanya gerakan penyambutan jabat tangan, sapaan, atau apapun itu dari Surya Paloh saat momen 00:04 dan 00:03, di mana sekali lagi bisa jadi karena salah paham," tuturnya.

Kendati demikian, dia tidak bisa menduga-duga soal apa yang terjadi antara Surya Paloh dan Megawati sebelum peristiwa ini. Dia tidak bisa menebak, apakah keduanya memang berselisih sebelumnya.

"Saya tidak bisa memprediksi ataupun berspekulasi bahwa sebelumnya memang Bu Mega atau Pak Surya Paloh berselisih sehingga memudahkan munculnya gestur penolakan vs gestur kemarahan ini," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, peristiwa Megawati yang tak bersalaman dengan Kogasma Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Surya Paloh terjadi di dalam Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Selasa (1/10). Dilihat dalam potongan video Kompas TV pada Rabu (2/10), Megawati tampak menyalami beberapa politikus yang hadir di sana. Meskipun AHY tidak bersalaman dengan Megawati, dia sempat menjura (bersalam dada) ke arah Megawati.

Megawati kemudian menyalami politikus Golkar, Rizal Malarangeng. Di sebelah kanan Rizal, ada Surya Paloh dalam posisi berdiri. Bos Media Group itu hanya berdiri, tak menjulurkan tangan untuk bersalaman ke arah Megawati. Tangannya terjuntai, badannya juga tak membungkuk.

Sementara Megawati menoleh ke arah lain, seolah-olah menatap sesuatu, sambil tetap berjalan melewati Surya Paloh yang kembali bergerak duduk. Megawati lalu bersalaman dengan Wapres terpilih KH Ma'ruf Amin lalu Ketum PPP Suharso Monoarfa.

Tak Ada Masalah Personal
Sementara itu, Surya Paloh menegaskan hubungannya dengan Megawati baik-baik saja.

"Oh hubungan saya dengan Bu Mega, kalau dari saya pasti baik-baik saja lah, baguslah," ujar Surya Paloh di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10).

Dia membantah hubungannya dengan Megawati tak hangat. Paloh pun menyinggung soal pertemanannya dengan Presiden RI ke-5 itu.

"Mbak Mega kan udah 40 tahun sama saya berteman," tuturnya.

Paloh juga menyatakan tidak memiliki masalah dengan Megawati.

"Dari saya tidak ada masalah personal," kata Paloh.

Seperti diketahui, keretakan hubungan Megawati dan Paloh sudah terdengar sejak beberapa waktu lalu. Isu keretakan itu bermula dari pertemuan empat ketua umum Koalisi Indonesia Kerja (KIK) pada 22 Juli 2019. Kala itu, Paloh menggelar pertemuan dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dan Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakpus. Mega atau perwakilan dari PDIP sama sekali tidak hadir.

Isu soal renggangnya hubungan Mega dan Paloh kemudian makin berembus kencang ketika dua hari kemudian, 24 Juli 2019, Mega menggelar pertemuan dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di kediamannya di Jl Teuku Umar, Menteng, Jakpus. Di saat bersamaan, Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Menteng, Jakpus.

Paloh membantah pertemuannya dengan Anies untuk merespons pertemuan Megawati-Prabowo. Dia menyebut pertemuannya dengan Anies tak direncanakan, meski ada isu soal Pilpres 2024 dalam wawancara usai pertemuan. Meski demikian, dua pertemuan itu ramai diperbincangkan, dibahas dan dianalisis. (detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments