Selasa, 15 Okt 2019
  • Home
  • Headlines
  • Aksi "Pembajakan" Mobil Tangki Pertamina ke Depan Istana

Aksi "Pembajakan" Mobil Tangki Pertamina ke Depan Istana

admin Selasa, 19 Maret 2019 09:37 WIB
SIB/INT
Ilustrasi
Jakarta (SIB)-Dua mobil tangki Pertamina dihadang dan dilarikan orang tak dikenal. Dua mobil itu dibawa ke depan Istana.
Dua mobil tangki Pertamina dibajak sekitar pukul 05.00 WIB, Senin (18/3). Kapasitas mobil tangki itu 32 kilo liter (KL). Dalam dua mobil tangki BBM itu berisi biosolar dalam kondisi penuh.

"Kami telah menerima laporan adanya penghadangan dan perampasan mobil tangki yang sedang mengangkut biosolar. Kami sudah melapor pada aparat kepolisian," kata Humas PT Pertamina Patra Niaga Ayulia.

Dua mobil tangki yang dibajak bernomor polisi B 9214 TFU dan B 9575 UU. Pengemudinya Muslih bin Engkon dan Cepi Khaerul.
"Pak Cepi sudah diketahui keberadaannya dan sedang dalam perjalanan melaporkan ke Polda Metro Jaya," ujar Ayulia.

Penghadangan dan perampasan mobil tangki terjadi saat mobil tangki akan mengirim biosolar tujuan SPBU area Tangerang. Saat hendak memasuki pintu Tol Ancol, tiba-tiba ada sekitar 10 orang turun dari sebuah mobil sejenis pikap mengambil alih kemudi sambil membentak-bentak sopir.

"Sopir atau awak mobil tangki itu diancam dan dipaksa turun. Mobil tangki dikuasai oleh kelompok perampas yang mengatakan mereka akan menuju Istana Negara," imbuh Ayulia.

Tindakan Kriminal
Pihak PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan aksi pembajakan mobil tangki BBM tidak ada kaitannya dengan dengan aksi unjuk rasa para Awak Mobil Tangki (AMT). Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Rudy Permana mengatakan bahwa aksi pembajakan merupakan tindakan kriminal yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

"Tidak ada kaitan antara demo yang saat ini sedang dimediasi, aksi ini tetap merupakan tindakan melanggar hukum. Siapapun mereka, di mata hukum adalah tindakan kriminal. Mengganggu aset negara dan distribusi penyaluran BBM," ungkap Rudy, Senin (18/3).

Untuk itu Rudy menyatakan pihaknya akan melakukan proses legal berupa jalur hukum dalam menangani masalah pembajakan ini.
"Proses legal tetap akan kami jalankan. Jalur hukum tetap kami jalankan," kata Rudy.

Lebih lanjut, pihaknya masih terus mengidentifikasi bukti yang sudah ada untuk menyimpulkan siapa pelaku pembajakan.
"Pelaku sedang diidentifikasi dari pengumpulan bukti-bukti yang ada. Alasannya mereka juga sedang digali," ungkap Rudy.
Alasan Pendemo

Sementara itu, Massa Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SPAMT) mengaku tidak merencanakan pembajakan mobil tangki Pertamina. SPAMT mengaku tindakan itu spontanitas sebagai bentuk rasa kecewanya.

"Oh tidak (direncanakan), kami spontanitas karena didasari rasa kecewa kami terkait pasca-bertemu dengan bapak presiden yang harapan kami selaku warga negara kita mengadukan ke presiden ada titik temu penyelesaian atau ada tindaklanjut yang serius dari bapak presiden kita," kata Humas SPAMT Wadi Atmawijaya kepada wartawan di Taman Pandang, Jakarta Pusat, Senin (18/3).

"Ternyata hingga sekarang telah lewat dari satu bulan tidak juga kunjung ada penyelesaian karena mengingat permasalahan kita sebenarnya permasalahan sepele yaitu hak normatif yang seharusnya melekat bagi seluruh pekerja di Indonesia ini," sambungnya.

Wadi menyampaikan aksi demo itu untuk menyuarakan sejumlah tuntutan dari serikat pekerja. Salah satunya terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan awak mobil tangki yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan transportir, PT Pertamina Patra Niaga dan Elnusa Petropin.

"Hingga banyak juga puluhan yang harus terusir dari kontrakan karena sudah tidak mampu lagi membayar sewa kontrakan untuk tempat tinggal. Hingga dasar dari itu kita pun menagih komitmen bapak Presiden Joko Widodo pascapertemuan dengan beliau, beliau ber-statement bahwa akan menyelesaikan secepatnya hingga sampai sekarang penyelesaian tidak juga kunjung kita dapatkan," sambungnya.

Wadi mengaku, serikat pekerja juga sempat mengadukan nasib mereka kepada anggota DPR Rieke Diah Pitaloka dan mengklaim sudah dimediasi.

"Kemaren sempat dimediasi oleh Ibu Rieke Diah Pitaloka yang katanya mandat dari Istana untuk memediasi terkait penyelesaian. Tapi sekali lagi, Rieke Diah Pitaloka tidak juga bisa menyelesaikan persoalan kita bahkan tidak ada titik penyelesaian ataupun tidak komitmen apa yang sudah menjadi mandat dari pihak Istana," sambungnya.

Massa juga sempat dimediasi oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan saat aksi di depan Istana. Akan tetapi, mediasi itu juga belum membuahkan hasil.

Serikat pekerja dijanjikan akan bertemu dengan PT Pertamina Patra Niaga dan PT GUN selaku vendor dari PT Pertamina Patra Niaga, pada Rabu (20/3). Direksi PT GUN Rudi Bratanusa menyebutkan pihaknya telah membentuk tim untuk mendalami tuntutan massa.

"Ada beberapa item ya yang sudah disampaikan. Tapi, tentunya ini semua kan masih dalam proses negosiasi. Kami harapkan ada titik temu dari tim kecil yang sudah dibentuk ini, yang Insya Allah, dalam waktu dekat ini kita akan bertemu lagi, sehingga apa yang sudah disepakati bisa dilaksanakan. Tinggal kita melanjuti lagi item yang masih dalam tahap negosiasi," tutur Rudi. (detikcom/f)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments