Sabtu, 23 Nov 2019

AS Hentikan Kerjasama Militer dengan Rusia

*Rusia Ancam Lepaskan Ketergantungan Ekonomi pada AS
Rabu, 05 Maret 2014 10:06 WIB
Sib/int
Washington (SIB)- Pemerintah Amerika Serikat telah menghentikan kerjasama militer dengan Rusia. Pembekuan sementara ini terkait intervensi militer Rusia di Ukraina. "Kami telah, terkait dengan peristiwa terakhir di Ukraina, menghentikan semua hubungan militer antara Amerika Serikat dan Rusia," tutur juru bicara Pentagon, John Kirby seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (4/3/2014).

Dikatakan Kirby, penghentian ini mencakup "latihan, pertemuan bilateral, kunjungan pelabuhan dan perencanaan konferensi." Ditegaskannya, pemerintah AS terus mengamati dengan seksama krisis ini dan menyerukan pemerintah Rusia untuk menurunkan ketegangan.

"Pasukan Rusia di Crimea harus kembali ke pangkalan mereka, seperti yang diwajibkan dalam kesepakatan mengenai Armada Laut Hitam Rusia," tandas Kirby.

Kirby juga menekankan, pasukan AS tidak mengubah keberadaan mereka di Laut Hitam ataupun di wilayah lainnya terkait krisis ini. "Tak ada perubahan pada posisi militer kami di Eropa atau di Mediterania," tuturnya.Ditandaskan Kirby, pasukan Angkatan Laut AS akan terus melakukan latihan dan operasi rutin dan telah direncanakan sebelumnya dengan para sekutu dan mitra di wilayah tersebut.

Rusia akan Lepaskan Ketergantungan Ekonomi

Rusia akan menurunkan hingga titik nol, ketergantungan ekonomi pada Amerika Serikat jika Washington menyepakati sanksi terhadap Moskow terkait krisis Ukraina, kata pejabat Kremlin Selasa (4/3), dan mengatakan bahwa sistem keuangan Amerika menghadapi "kehancuran" jika ini terjadi.

"Kami akan menemukan jalan bukan hanya mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat hingga nol namun dari sanksi itu juga akan mengambil banyak keuntungan untuk kami sendiri," kata penasehat ekonomi Kremlin Sergei Glazyev.

Ia mengatakan kepada kantor berita RIA Novosti, Rusia bisa menghentikan penggunaan dolar untuk transaksi internasional dan menciptakan sistem pembayaran sendiri menggunakan "hubungan baik perdagangan dan ekonomi dengan partner-partner kami di Timur dan Selatan."

Perusahaan dan perbankan Rusia juga tidak akan mengembalikan pinjaman dari institusi keuangan Amerika, katanya.

"Upaya untuk mengumumkan sanksi akan berakhir dengan hancurnya sistem keuangan Amerika Serikat, yang akan menyebabkan berakhirnya dominasi AS dalam sistem finansial global," imbuh dia.

Ia mengatakan sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Uni Eropa akan menjadi "bencana" bagi Eropa, karena Rusia bisa menghentikan pasokan gas "yang akan menguntungkan bagi Amerika" dan memberi "dorongan" yang berguna bagi perekonomian Rusia.

Glazyev merupakan salah satu penasehat Presiden Vladimir Putin yang paling keras, dan para pengamat melihat keterlibatannya dalam radikalisasi kebijakan atas Ukraina sejak tergulingnya presiden Viktor Yanukovich.

Pakar ekonomi sejak lama mencemooh pandangannya yang bersifat konfrontatif dengan ekonomi dunia. Mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa kewenangannya bertambah dalam beberapa bulan terakhir.

Seorang sumber di Kremlin mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Glazyev berbicara dalam kapasitasnya sebagai akademisi dan pendapat pribadinya tidak menggambarkan kebijakan resmi Kremlin.

Glazyev menyebut otoritas baru Ukraina sebagai "tidak sah dan takut Rusia", dengan mengatakan beberapa pejabat pemerintahan masuk daftar "organisasi teroris, mereka penjahat".

"Jika otoritasnya tetap penjahat, saya rasa orang-orang Ukraina akan segera menyingkirkan mereka," imbuh dia.

Rusia Hentikan Latihan Militer

Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (4/3), memerintahkan pasukan Rusia untuk kembali ke barak-barak mereka setelah memerintahkan mereka melakukan latihan mendadak untuk memeriksa kesiapan tempur mereka pekan lalu. "Panglima tertinggi Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukan dan unit-unit militer yang terlibat dalam latihan untuk kembali ke barak mereka," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Pada 26 Februari lalu, Putin memerintahkan latihan mendadak untuk ribuan personel pasukannya di wilayah barat negeri itu, dalam apa yang disebut Rusia sebagai sebuah latihan rutin. Latihan itu melibatkan personel angkatan darat,  laut dan udara yang berbasis di distrik militer barat dan tengah, sebuah wilayah luas yang di dalamnya termasuk kawasan yang berbatasan langsung dengan Ukraina.

Latihan itu tidak sampai melintasi wilayah di luar perbatasan Rusia, seperti Crimea, kawasan Laut Hitam Ukraina yang menjadi pusat ketegangan antara Ukraina dan Rusia pasca-kejatuhan Viktor Yanukovych. Latihan militer , yang awalnya akan diakhiri Senin (3/4), digelar tak lama sebelum militer Rusia menggelar operasi rahasia di Crimea dan Putin mendapatkan izin parlemen untuk melakukan intervensi ke Ukraina.

Berdampak pada Eropa 

Perdana Menteri (PM) Ukraina Arseny Yatseniuk mengatakan, kericuhan yang terjadi di negaranya bisa berdampak pada stabilitas wilayah Eropa Timur.
Tidak hanya itu, Yatseniuk juga menyebut, dirinya tidak akan mengizinkan warga etnis Rusia mengakui bahwa merekalah pemimpin wilayah Crimea. Saat ini wilayah Crimea yang terletak di Selatan Ukraina tengah diduduki oleh tentara Rusia.

"Saya telah menjadi pendukung solusi diplomatik. Konflik ini akan menghancurkan fondasi stalibilitas di seluruh wilayah," ujar Yatseniuk, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/3). Dijelaskannya saat ini, konsentrasi Ukraina ada pada politik serta perdagangan dengan Uni Eropa. Namun, Yatseniuk membantah tuduhan bahwa negaranya akan memutuskan seluruh hubungan dengan Rusia.

Menurutnya, sikap Ukraina tersebut tidak harus menjadi halangan dalam hubungan Ukraina dengan Rusia. Seperti diketahui pangkal masalah konflik di Ukraina adalah gagalnya negara ini untuk masuk menjadi anggota UE. Kegagalan tersebut segera memicu kemarahan rakyat Ukraina. Mereka mepercayai, Rusia telah mempengaruhi Ukraina untuk mengambil keputusan tidak masuk ke dalam keanggotaan UE.(AFP/Ant/Rtr/R16/c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments